Klampok Diusulkan Jadi Cagar Budaya, Simpan Jejak Demak-Mataram Hingga Kolonial

Ilustrasi Kerjaan Demak-Mataram/Foto: ChatGPT/Akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, DEMAK - Upaya pelestarian sejarah kembali
mengarah ke Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Kawasan ini
dinilai menyimpan simpul penting perjalanan peradaban Jawa, mulai dari jejak
awal Demak, Pajang, Mataram, hingga peninggalan kolonial yang masih berdiri dan
digunakan hingga kini.
Informasi tersebut disampaikan R. Ngt Arini, Ketua DPW
Banyumas Raya Paguyuban Mataram Binangun Nuswantoro (PMBN), pada Jumat (6/2).
Menurut Arini, penguatan status Klampok sebagai kawasan
bersejarah mengacu pada hasil kajian lapangan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB)
Banjarnegara yang dilakukan dalam beberapa tahapan. Salah satu penelusuran
penting TACB dilakukan pada Jumat (31/1/2026).
“Berdasarkan kajian lapangan TACB Banjarnegara, Klampok
menunjukkan lapisan sejarah yang saling berkelindan dan masih terbaca secara
utuh hingga kini. Temuan ini menjadi dasar pengajuan Klampok sebagai kawasan
cagar budaya,” kata Arini.
Makam Wargo Hutomo Jadi Simpul Sejarah Wirasaba
Arini menjelaskan, hasil penelusuran TACB pada 31 Januari
2026 mengungkap adanya keterhubungan kuat antara situs-situs peninggalan
kolonial dengan jejak Kadipaten Wirasaba.
Salah satu simpul penting dalam jaringan sejarah tersebut
adalah Makam Wargo Hutomo, tokoh yang dikenal sebagai adipati terakhir Wirasaba
sebelum wilayah kekuasaannya dimekarkan menjadi beberapa kadipaten.
Wargo Hutomo disebut sebagai figur sentral dalam sejarah
Banyumas Raya. Jejak perannya tidak hanya tercatat dalam sumber tertulis,
tetapi juga terus hidup dalam tradisi lisan masyarakat serta praktik ziarah
hingga hari ini.
Kantor Pos hingga Polsek Klampok Masuk Kajian
Selain makam tokoh sejarah, kajian TACB juga mencakup
sejumlah bangunan kolonial yang masih difungsikan, di antaranya: Kantor Pos
Klampok, Kantor Kecamatan Purwareja Klampok, Polsek Klampok, dan Kompleks makam
Belanda.
Seluruh objek tersebut direncanakan untuk diusulkan kepada
Bupati Banjarnegara agar ditetapkan sebagai bagian dari cagar budaya.
Makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa Juga Diusulkan
Arini menambahkan, pengusulan cagar budaya di Klampok tidak
hanya berhenti pada Wargo Hutomo. Pihaknya juga mendorong agar Makam Raden
Ngabehi Mertadiwangsa masuk dalam daftar cagar budaya.
Raden Ngabehi Mertadiwangsa dikenal sebagai putra dari
Danurejo I, Patih Kasultanan Yogyakarta pertama. Ia disebut memiliki garis
keturunan yang kuat dan berlapis.
“Dari jalur Wargo Hutomo, ia tercatat berada pada grade
delapan. Dari ibundanya, Bra(y) Killen, ia berada pada grade tujuh keturunan
Sunan Kalijaga,” ujar Arini.
Lebih lanjut, dari alur Yudanegara I sebagai kakeknya,
mengalir garis keturunan Kiai Pawelutan dan Sunan Gripit. Sementara dari jalur
neneknya, Padmi Yudanegara II, ia memperoleh garis keturunan dari Pangeran
Haryo Damar.
Jaringan genealogis tersebut, menurut Arini, semakin
memperkuat posisi Klampok sebagai kawasan penting dalam sejarah Jawa.
Dorong Wisata Religi dan Ekonomi Budaya
Keberadaan makam-makam bersejarah di Klampok saat ini juga
berkembang sebagai tujuan wisata religi. Karena itu, pengajuan kawasan Klampok
sebagai cagar budaya diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung
sejarah, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis budaya dan
pariwisata.
Namun Arini menegaskan, pengembangan itu harus dibarengi
pengelolaan yang serius, terarah, dan berkelanjutan.
“Harapannya, Klampok bisa menjadi kawasan sejarah yang
terlindungi, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat melalui pariwisata
budaya,” pungkas Arini.