Tingkat Internasional, Universitas Budi Luhur Berganti 'BLU'

Pengurus Yayasan Budi Luhur Cakti dan Pihak Budi Luhur University (BLU), saat melaunching logo 47 tahun, BLU/Foto. Noorwan/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Usia 47 Universitas Budi Luhur
(UBL) menjadi jalan panjang dalam rangka melahirkan generasi-generasi penerus
bangsa yang handal dengan mengusung etika kebudiluhuran.
Langkah strategis dilakukan UBL di usianya ke 47 di tahun 2026 ini dengan menyasar tingkat internasionalisasi dalam pelaksanaan seluruh program-programnya. Dengan peningkatan dalam penjajakan kemitraan ke tingkat internasional, UBL dalam labelnya mengusung nama Budi Luhur University yang disingkat BLU.
BLU menjadi nama atau label baru, khususnya di tingkat internasional, dengan menggandeng mitra-mitranya, khususnya di tingkat Asia.
Di sela-sela peresmian logo 47 tahun Universitas Budi Luhur Prof. Agus Setyo Budi, menyampaikan, pihaknya akan mengarahkan seluruh program yang ada di Kampus Budi Luhur ke arah Internasionalisasi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di tanah air, khususnya di Kampus Budi Luhur.
"Internasionalisasi ke depannya. Semua program muaranya akan internasionalisasi. Untuk itu semua kegiatan seperti seminar, conference akan mengarah ke sana," ungkapnya kepada awak media.
Lebih jauh dia menjelaskan, bagaimana mitra-mitra Budi Luhur yang ada di luar negeri akan berjalan bersama dalam kolaborasi di bidang pendidikan.
"Mitra kita yang ada di luar negeri akan memanfaatkan
kerjasama ini, seperti negara Jepang, Korea, Taiwan, Malaysia untuk
berkolaborasi," ungkapnya, kepada awak media, Sabtu (31/1/26).
Terkait dengan campaign yang dilakukan di luar negeri, UBL mengusung BLU demi memudahkan para calon mitra memahami Budi Luhur secara tata bahasa internasional.
"Jadi kalau kita campaign di luar, menggunakan nama BLU. Karena kalau kita di luar negeri membingungkan orang luar (nama UBL-red). Meskipun begitu, tetap dalam penulisan formal masih menggunakan Universitas Budi Luhur," terangnya.
"Jika MoU, menggunakan Universitas Budi Luhur. Tetapi saat berkegiatan di luar, seperti flyer dan lain sebagainya menggunakan nama Budi Luhur University. Itubterkait branding," lanjutnya.
Terkait kolaborasi kerjasama dengan mitra luar negeri, Prof. Agus, mencontohkan kolaborasi dalam bidang penelitian. Kolaborasi ini dilakukan mulai dari awal proposal diajukan, yang selanjutnya akan dipresentasikan.
"Presentasi dilakukan bersama dengan melakukan pertukaran mahasiswa dan dosen, melakukan paparan. Dalam kolaborasi ini, salah satu dari mereka (mitra luar) masuk dalam tim kami. Begitu juga mahasiswa kami, akan masuk dalam tim mereka," ungkapnya.
"Dengan begitu nantinya akan diramu dalam kerangka besar menjadi internasional conference, yang mana kita tidak pusing lagi pesertanya dari mana. Kedua, kita libatkan mahasiswa dan dosen. Dan yang paling penting dana dari mitra kita bisa klaim untuk kegiatan tersebut," lanjutnya.
Program dengan Qualified
Keberadaan Universitas Budi Luhur tidak dapat distandartkan dengan besarnya gedung dan luasnya kampus. Namun, seperti yang disampaikan rektor, standart yang digantungkan adalah qualified.
"Kami melibatkan mitra lokal maupun luar. Bukan hanya mitra luar saja yang dioptimalkan, mitra lokal pun kami optimalkan, khususnya dalam penerimaan mahasiswa baru. Jadi kalau membedakan dengan perguruan tinggi yang besar orang lihatnya gedungnya besar, luas dan sarana prasarananya lengkap. Berbeda dengan masuk di budi luhur, orientasinya dikegiatan. Begitu mereka keluar Universitas Budi Luhur, yang ditanya kamu bisa apa? Jadi dengan berkegiatan ini, nantinya akan mendekatkan ke magangnya" papar Prof Agus.
"Semua program kita bagaimana caranya melalui
qualified. Kita seminar dapat publikasinya, penelitiannya, dananya dan
mahasiswanya kita ikut sertakan. Jadi jika kita membuat event, harus multi
event karena harus berdampak khususnya kepada masyarakat. Kita ingin membangun
dengan program pengetahuannya, ini yang diperdalam," pungkasnya.