Tokoh Muda Aceh Ungkap Jejak Peradaban Awal
![]() |
| Ilustrasi Simpul Sejarah Nusantara/Foto. Ist/akuratnews.id |
AKURATNEWS.ID, ACEH - Tokoh muda Aceh, Zam Zam Mubarak, menilai terdapat persoalan serius dalam cara bangsa Indonesia membaca dan menuliskan sejarahnya sendiri. Menurutnya, historiografi Nusantara selama ini terlalu berpusat pada wilayah pesisir, kerajaan besar, dan pusat-pusat kekuasaan, sementara kawasan pedalaman yang justru menyimpan jejak peradaban awal kerap terpinggirkan. Salah satu wilayah yang paling terdampak dari ketimpangan tersebut adalah Aceh Gayo.
“Ada masalah serius dalam cara bangsa ini membaca dirinya
sendiri. Sejarah Nusantara terlalu lama ditulis dari sudut pandang pesisir dan
pusat kekuasaan, sementara wilayah pedalaman dibiarkan menjadi catatan kaki.
Aceh Gayo adalah korban paling nyata dari ketimpangan historiografi itu,” ujar
Zam Zam Mubarak dalam keterangannya, Senin (2/2).
Zam Zam menjelaskan, sejak sekitar abad ke-10 Masehi,
kawasan Gayo di sekitar Danau Laut Tawar telah menunjukkan ciri-ciri peradaban
yang mapan. Keberadaan sistem sosial, kosmologi leluhur, teknologi agraris,
hingga struktur kekuasaan lokal, menurutnya, menjadi bukti bahwa peradaban Gayo
tidak mungkin lahir dari ruang kosong. Ia menegaskan, pelabelan Gayo sebagai
wilayah pinggiran Aceh justru mengaburkan fakta sejarah.
“Menempatkan Gayo sebagai ‘wilayah pinggiran Aceh’ bukan
sekadar keliru, tetapi menutup fakta bahwa Gayo adalah salah satu simpul awal
Nusantara,” katanya.
Lebih lanjut, Zam Zam menyoroti hubungan historis antara
Gayo dan wilayah yang kini dikenal sebagai Sumatera Utara, khususnya kawasan
Danau Toba. Ia menyebut kesamaan tradisi megalitik, simbol lingga, struktur
marga, hingga orientasi kosmologis sebagai indikasi kuat adanya kesinambungan
budaya. Menurutnya, fakta ini menunjukkan bahwa Nusantara tidak hanya dibangun
melalui jalur laut, tetapi juga melalui jalur pegunungan.
“Kesamaan budaya itu bukan romantisme etnis, melainkan
indikasi migrasi dan percampuran manusia lintas generasi,” ujar Zam Zam.
Ia juga menyinggung hipotesis bahwa sebagian leluhur Batak
memiliki akar kuat dari wilayah Gayo. Zam Zam menegaskan, gagasan tersebut
bukan klaim politis, melainkan hipotesis historis yang didukung temuan
arkeologis. Namun, ia menyayangkan penolakan terhadap hipotesis ini kerap
muncul bukan karena lemahnya data, melainkan karena berbenturan dengan narasi
identitas yang sudah mapan.
“Di titik ini, sejarah berhenti menjadi ilmu pengetahuan dan
berubah menjadi wilayah sensitif yang tabu dipertanyakan,” ucapnya.
Zam Zam menambahkan, frasa lama “Sebujur Acih Selintang
Batak” seharusnya dimaknai sebagai pernyataan geopolitik dan kebudayaan
Nusantara awal. Dalam pandangannya, Aceh dan Batak berada dalam satu bentang
sejarah yang saling terhubung, dengan Gayo berdiri di tengah sebagai
penghubung, bukan sebagai batas pemisah.
Menurut Zam Zam, pengabaian terhadap sejarah Gayo tidak
hanya berdampak pada kajian akademik, tetapi juga memengaruhi cara negara
membangun identitas kebangsaan. “Ketika sejarah disederhanakan, bangsa
kehilangan kemampuan memahami keberagamannya secara dewasa. Indonesia berdiri
di atas narasi yang timpang, kuat di pusat, rapuh di akar,” tegasnya.
