
Jaya Suprana dengan Background Patung Simon Bolivar/Foto. Ist/akuratnews.id
Oleh Jaya Suprana
Akhir-akhir ini, nama Venezuela kembali menjadi sangat
populer. Hal ini dipicu oleh peristiwa penangkapan Presiden Venezuela beserta
istrinya oleh Presiden Amerika Serikat, bukan di Washington DC sebagai ibu kota
Amerika Serikat, melainkan di Caracas, ibu kota Venezuela.
Yang menarik perhatian saya, ternyata nama lengkap negara
tersebut adalah República Bolivariana de Venezuela, yang jika diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia berarti Republik Bolivarian Venezuela. Pertanyaan saya
sederhana: mengapa harus ada selipan kata “Bolivariana” di tengah nama Republik
Venezuela?
Venezuela menamakan diri sebagai Republik Bolivarian
Venezuela untuk menghormati jasa-jasa Simón Bolívar dalam perjuangan
kemerdekaan negara tersebut. Penamaan ini secara resmi diadopsi pada tahun 1999
oleh Presiden Hugo Chávez, dengan tujuan menghidupkan kembali semangat
nasionalisme dan patriotisme rakyat Venezuela. Chávez ingin menegaskan kembali
peran sentral Bolívar dalam sejarah Venezuela dan Amerika Selatan secara
keseluruhan.
Simón Bolívar adalah seorang pemimpin militer dan tokoh
politik utama yang memelopori perjuangan kemerdekaan negara-negara Amerika
Selatan dari kekuasaan Kerajaan Spanyol. Ia lahir pada 24 Juli 1783 di Caracas,
Venezuela, dan wafat pada 17 Desember 1830 di Santa Marta, Kolombia. Bolívar
memimpin perang kemerdekaan di Venezuela, Kolombia, Ekuador, Bolivia, Peru, dan
Panama, sehingga ia dijuluki “El Libertador” atau Sang Pembebas.
Nama lengkap Simón Bolívar sesungguhnya sangat panjang,
yakni Simón José Antonio de la Santísima Trinidad Bolívar Ponte y Palacios
Blanco, sehingga lazim disingkat menjadi Simón Bolívar saja. Semasa hidupnya,
Bolívar pernah menjabat sebagai Presiden Venezuela (1813-1814 dan 1819-1830),
Presiden Kolombia (1819-1830), Presiden Peru (1824-1826), serta Presiden
Bolivia (1825).
Menurut catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), rekor
Simón Bolívar sebagai presiden dari empat negara sekaligus dalam periode yang
relatif bersamaan hingga kini belum ada yang mampu menandingi.
Meskipun dilahirkan di Caracas, yang pada masa itu merupakan
koloni Spanyol, Simón Bolívar bukanlah keturunan pribumi asli Venezuela. Ia
berasal dari keluarga Criollo, yakni keturunan Spanyol yang lahir dan menetap
di Amerika Selatan. Kakek buyutnya, Juan Vicente Bolívar y Ponte, adalah
bangsawan Spanyol yang pindah ke Venezuela pada abad ke-18. Ibunya, María de la
Concepción Palacios y Blanco, juga berasal dari keluarga ningrat Spanyol.
Namun, meski bukan keturunan asli Amerika Selatan, Simón
Bolívar sangat mencintai tanah kelahirannya. Ia memimpin perjuangan kemerdekaan
melawan Spanyol dengan sepenuh jiwa, sehingga dihormati dan dianggap sebagai
pahlawan nasional di sejumlah negara Amerika Selatan. Sebaliknya, dari sudut pandang
Spanyol, Bolívar dipandang sebagai pengkhianat karena memimpin pemberontakan
dan membebaskan wilayah-wilayah jajahan dari kekuasaan kerajaan.
Bagi Spanyol, Bolívar adalah sosok pemberontak yang
mengancam kekuasaan serta kepentingan kolonial mereka di Amerika Selatan. Oleh
sebab itu, Spanyol sempat menolak mengakui kemerdekaan negara-negara yang
dipimpin oleh Bolívar dan terus berupaya merebut kembali wilayah-wilayah yang
telah berhasil memerdekakan diri.
Kita dapat menganalogikan dualisme pandangan yang saling
bertolak belakang terhadap Simón Bolívar ini dengan sosok Raymond Westerling.
Pada tahun 1946-1947, Westerling secara khusus ditugaskan oleh Kerajaan Belanda
untuk merebut kembali Hindia Belanda dari bangsa Indonesia, yang sejatinya
telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Kini, bangsa Indonesia mengenang Westerling sebagai penjahat
perang yang bertanggung jawab atas tindakan genosida di Sulawesi Selatan.
Sebaliknya, Kerajaan Belanda justru menganugerahkan tanda jasa kepadanya atas
pengabdian dan loyalitas militernya kepada negara penjajah tersebut.
