Kasusnya Selesai, Zendhy Kusuma Ingatkan Dampak Cyberbullying, Semua Pihak Perlu Balajar
![]() |
| Ilustrasi Zhendy Kusuma mengingatkan bahaya Cyberbullying, saat perkaranya dimediasi oleh DPR RI/Foto. Ilustrasi Chatgpt/akuratnews.id |
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Zendhy Kusuma menyampaikan
pernyataan terbuka kepada publik setelah polemik antara dirinya dan restoran
Bibi Kelinci menjadi perhatian luas, termasuk dibahas dalam rapat dengar
pendapat di DPR.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui siaran langsung di
media sosial, Zendhy mengakui bahwa peristiwa yang terjadi pada September tahun
lalu bermula dari situasi yang tidak nyaman di sebuah restoran, di mana dirinya
dan keluarga datang sebagai konsumen dan menunggu pesanan cukup lama.
“Saya menyadari bahwa dalam situasi tersebut kami tentu
tidak sempurna. Dalam kondisi lapar dan emosi, mungkin ada sikap kami yang
seharusnya bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik. Untuk itu saya kembali
menyampaikan permohonan maaf,” kata Zendhy.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa yang pada awalnya merupakan
persoalan antara konsumen dan restoran kemudian berkembang jauh lebih besar
setelah masuk ke ranah hukum dan menjadi perbincangan luas di media sosial.
Zendhy mengungkapkan bahwa dirinya sempat dilaporkan dengan
tuduhan pencurian dengan pemberatan, sehingga harus menjalani proses
pemeriksaan oleh kepolisian. Dalam perjalanan perkara tersebut, ia juga
menempuh langkah hukum sehingga persoalan yang awalnya terjadi di restoran
berkembang menjadi perkara di kepolisian.
“Situasi ini tentu membuat kami semua bersedih. Hal yang
awalnya sederhana menjadi sangat sulit bagi semua pihak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa selama beberapa bulan terakhir
dirinya dan keluarga mengalami tekanan besar di media sosial.
“Selama beberapa bulan terakhir kami dan keluarga mengalami
cyberbullying yang sangat besar. Banyak komentar, tuduhan, bahkan penyebaran
informasi pribadi yang terjadi. Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, tetapi
pengalaman ini membuat kami memahami betapa kuatnya dampak media sosial
terhadap kehidupan seseorang,” kata Zendhy.
Menurutnya, satu peristiwa kecil dapat berkembang menjadi
gelombang opini yang sangat besar ketika masuk ke ruang digital.
Zendhy menyampaikan bahwa ia bersyukur karena pada akhirnya
perkara tersebut telah diselesaikan melalui proses mediasi yang difasilitasi
oleh kepolisian.
“Saya berterima kasih kepada pihak kepolisian yang telah
memfasilitasi proses mediasi sehingga persoalan ini dapat dinyatakan selesai,”
ujarnya.
Zendhy juga menyampaikan penghormatan atas perhatian DPR
terhadap kasus tersebut.
“Kami menghormati perhatian DPR yang ikut menyoroti kasus
ini sebagai pembelajaran dalam penegakan hukum di era media sosial. Kami
memahami bahwa DPR ingin memastikan agar penegakan hukum berjalan secara adil
dan proporsional bagi semua pihak,” kata dia.
Meski demikian, Zendhy berharap masyarakat juga tidak
melupakan dampak sosial yang muncul dalam peristiwa tersebut, termasuk
cyberbullying yang dialami individu dan keluarga.
Ia menilai pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi
semua pihak.
“Saya belajar menjadi konsumen yang lebih baik. Teman-teman
yang menjalankan usaha juga tentu belajar menjadi pelaku usaha yang lebih baik.
Dan kita semua belajar menjadi warga negara yang lebih dewasa di tengah
kehidupan yang sangat dipengaruhi media sosial,” ujarnya.
Zendhy menegaskan bahwa perkara tersebut kini telah selesai
melalui mediasi dan berharap semua pihak dapat menghormati penyelesaian
tersebut.
“Yang paling penting bagi saya sekarang adalah persoalan ini
sudah selesai melalui mediasi. Mari kita sama-sama menghormati proses itu dan
melanjutkan hidup dengan lebih tenang dan lebih bijak,” katanya.
