Notification

×

Iklan

Iklan

Upaya Penyelesaian Masalah Terkait Rendahnya Pemahaman Soal Cerita pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas 5 SD

Rabu, 31 Mei 2023 | 13:24 WIB Last Updated 2023-05-31T06:24:41Z



Ratna Nurlaila


Ilmu pengetahuan yang menjadi dasar dari pikiran seorang manusia dalam perkembangan dan kemajuan teknologi di era modern adalah matematika (Hawa, 2007). 


Matematika merupakan sumber ilmu yang memberikan siswa keterampilan dalam berpikir secara logis, kritis, sistematis, analitis, kreatif, serta gotong royong. Sehingga sudah menjadi keharusan bagi setiap siswa untuk mempelajari matematika guna menghadapi perkembangan IPTEK di masa-masa yang akan datang. 


Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan dan dipelajari di jenjang pendidikan sekolah dasar. Berbagai jenis cabang matematika sudah mulai diperkenalkan di sekolah dasar seperti teori mengenai bilangan, statistika, aljabar, dan teori diskrit. 


Ada juga cabang ilmu matematika yang kemudian mendasari bidang keilmuan teknologi dan sains seperti geometri, teori himpunan, dan kalkulus.


Namun dalam pelaksanaan pembelajaran matematika saat ini, masih ditemukan beberapa kendala. Salah satunya, kebanyakan siswa masih beranggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dimengerti, membosankan, tidak menarik, dan bahkan ada sebagian siswa yang menganggap matematika menakutkan (Ratnaningsih, 2011). 


Kendala-kendala tersebut kemudian diperparah dengan kurangnya minat dan kemampuan siswa dalam mengerjakan dan memecahkan soal-soal yang berbentuk cerita. 


Kurangnya minat pada siswa ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tidak adanya minat literasi yang baik, kurangnya pemahaman terhadap kalimat-kalimat pada soal, tidak adanya kemauan dari siswa untuk bertanya kepada guru maupun teman atas kesulitan yang dialami, serta kurangnya pemahaman siswa mengenai keywords terkait operasi hitung pada soal.


Kendala tersebut pun banyak terjadi pada siswa kelas tinggi di sekolah adsar seperti di kelas 5. Rendahnya pemahaman terkait soal cerita pada mata pelajaran matematika yang dialami siswa menghambat penyerapan ilmu pengetahuan yang diajarkan. 


Selain itu, siswa juga akan mengalami ketertinggalan dengan siswa lain yang mampu menyelesaikan soal cerita dengan baik sehingga dapat menimbulkan permasalahan baru seperti dimengerti, membosankan, tidak menarik, dan bahkan ada sebagian siswa yang menganggap matematika menakutkan (Ratnaningsih, 2011). 


Kendala-kendala tersebut kemudian diperparah dengan kurangnya minat dan kemampuan siswa dalam mengerjakan dan memecahkan soal-soal yang berbentuk cerita. 


Kurangnya minat pada siswa ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tidak adanya minat literasi yang baik, kurangnya pemahaman terhadap kalimat-kalimat pada soal, tidak adanya kemauan dari siswa untuk bertanya kepada guru maupun teman atas kesulitan yang dialami, serta kurangnya pemahaman siswa mengenai keywords terkait operasi hitung pada soal.


Kendala tersebut pun banyak terjadi pada siswa kelas tinggi di sekolah dasar seperti di kelas 5. Rendahnya pemahaman terkait soal cerita pada mata pelajaran matematika yang dialami siswa menghambat penyerapan ilmu pengetahuan yang diajarkan. 


Selain itu, siswa juga akan mengalami ketertinggalan dengan siswa lain yang mampu menyelesaikan soal cerita dengan baik sehingga dapat menimbulkan permasalahan baru seperti siswa menjadi tidak percaya diri dan malas mengikuti kegiatan pembelajaran. Tentunya hal-hal tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.


Berdasarkan permasalahan yang dipaparkan di atas maka peneliti berniat untuk meneliti dan mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan guna menyelesaikan masalah rendahnya pemahaman soal cerita pada mata pelajaran matematika di kelas 5 SD. 


Kemudian terkait manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah berupa manfaat secara praktis dan manfaat secara teoritis. Selain itu penelitian kali ini pun tentu saja akan jauh lebih baik apabila manfaatnya tidak sekedar bermanfaat untuk peneliti saja, namun juga untuk para pihak-pihak lain yang turut membaca dan melanjutkan penelitian ini.


Menurut Umam, dkk (2017), soal cerita adalah soal yang tersusun dari beberapa kalimat cerita dengan bahasa sehari-hari dan dapat dijadikan kalimat dan atau persamaan dalam matematika. Soal cerita merupakan wujud evaluasi yang diberikan kepada siswa setelah melaksanakan pembelajaran (Wahyuddin, 2016). 


Soal cerita matematika merupakan soal yang dibuat berdasarkan pengalaman atau peristiwa yang terjadi sehari-hari (Mardjuki, 1999). Soal cerita berwujud kalimat verbal yang arti dari ide ungkapannya bisa diterjemahkan ke dalam simbol dan relasi dalam matematika. Ashlock (2003) pun berpendapat bahwa soal cerita adalah soal yang disajikan baik berupa lisan maupun tulisan.


Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian dari soal cerita matematika adalah soal yang dibuat berdasarkan cerita dan bahasa yang digunakan sehari-hari, serta dapat diterjemahkan ke dalam kalimat atau simbol-simbol dalam matematika. 


Selain itu, kegunaan dari soal cerita sendiri adalah untuk mengevaluasi dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari atau dimiliki siswa. Dalam memecahkan soal cerita matematika siswa perlu melalui proses yang terdiri dari step-step yang tepat dan logis demi mendapatkan jawaban yang valid (Jonassen, 2004).


Menurut Zulkarnain (2011), beberapa langkah atau step yang digunakan demi memecahkan soal cerita diantaranya adalah sebagai berikut:


  1. Siswa menuliskan hal yang diketahui
  2. Siswa menuliskan pertanyaan
  3. Siswa merubah soal cerita menjadi model matematika
  4. Siswa mampu mengerjakan dengan menggunakan operasi hitung
  5. Siswa menjawab sesuai dengan soal/pertanyaan yang diberikan


Zubaidah tahun 2010 berpendapat bahwa selain step-step di atas, siswa juga perlu memiliki beberapa keterampilan dalam mengerjakan soal cerita matematika seperti:


  1. Keterampilan membaca soal
  2. Keterampilan menulis hal yang diketahui dan pertanyaan
  3. Keterampilan membuat model matematika
  4. Keterampilan melakukan operasi hitung
  5. Keterampilan menuliskan jawaban yang sesuai dengan soal/pertanyaan.


Kelima keterampilan tersebut harus dimiliki oleh siswa guna memecahkan soal cerita matematika sehingga dapat meminimalisir kesalahan saat mengerjakannya.


Pembelajaran Matematika di Kelas 5 SD


Menurut Offirston (2014), matematika merupakan sebuah alat pengembangan kemampuan berpikir, maka sebab itu matematika dibutuhkan demi menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari dan memajukan IPTEK.  


Berdasarkan Depdiknas tahun 2006, matematika diartikan sebagai ilmu yang bersifat universal dan didasari oleh perkembangan teknologi di era modern serta berperan penting di berbagai disiplin ilmu dan kemampuan berpikir manusia. 


Sedangkan pembelajaran adalah sebuah upaya yang melibatkan ilmu pengetahuan yang guru miliki agar seseorang atau siswanya dapat memenuhi standar kompetensi (Kosasih, 2014). 


Sehingga definisi dari pembelajaran matematika adalah bentuk kajian ilmu yang diberikan kepada siswa dalam hal ini siswa sekolah dasar dengan cara membekali siswa dengan keterampilan berhitung dan pengolahan data sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku. 


Kompetensi tersebut dibutuhkan agar siswa mempunyai keterampilan mengolah, memperoleh, memanfaatkan, dan mengelola informasi guna menjalani kehidupannya di keadaan yang berubah-ubah, tak ada kepastian, dan kompetitif. 


Selain itu, pembelajaran matematika dapat dimanfaatkan sebagai media penyelesaian masalah dan komunikasi atas ide/konsep/gagasan melalui penggunaan simbol, diagram, tabel, maupun media lain.


Pembelajaran matematika di kelas 5 SD secara umum hampir sama dengan pembelajaran matematika pada umumnya di kelas-kelas rendah maupun tingkatan kelas di atasnya, hanya saja berbeda di tingkat kesulitannya dan kompetensi yang harus dicapainya. 


Pembelajaran matematika di SD merupakan pembelajaran yang sifatnya menyenangkan dan bermakna. Dibuat menyenangkan karena siswa akan lebih tertarik dengan topik-topik ajaran dalam ilmu matematika.



Induk Segala Cabang Ilmu


Matematika memang tidak dapat dipungkiri dan dapat dikatakan sebagai induk dari segala cabang ilmu yang ada. Kemampuan dalam memahami matematika pun tidak serta merta dapat dikuasai dalam kurun waktu yang singkat, perlu adanya usaha untuk mempelajarinya. 


Salah satu wujud usaha agar seseorang dapat memahami matematika adalah dengan adanya pembelajaran matematika di sekolah dasar. Namun, kesulitan dalam memahami matematika pun seringkali terjadi, salah satunya adalah kesulitan memahami soal cerita matematika yang terjadi pada siswa kelas 5 SD. 


Dalam memahami soal cerita memang dibutuhkannya kesabaran dan kemampuan membaca dan berpikir lebih.


Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, serta melihat beberapa artikel berita di internet yang juga sering terlihat di lapangan pada kehidupan sehari-hari. Beberapa kesulitan dalam memecahkan soal cerita matematika yang terjadi pada siswa kelas 5 SD diantaranya:


Hampir setengah dari jumlah siswa di kelas 5 masih belum memiliki keterampilan dalam melakukan operasi hitung dengan baik sehingga beberapa jawaban yang diberikan keliru dan dikerjakan asal-asalan.


Beberapa siswa di kelas 5 belum dapat membaca dengan makna, sehingga kesulitan memahami soal cerita.


Sebagian siswa sudah mampu membaca dan menghitung namun kurang dalam keterampilan menginterpretasi soal.


Sebagian siswa kesulitan mengintegrasikan keterampilan yang dimiliki dengan penyelesaian masalah.


Sudah menjadi kewajiban sebagai guru untuk mengajarkan dan membimbing siswa agar dapat keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Guru perlu mencari upaya guna menyelesaikan permasalahan terkait rendahnya kemampuan soal cerita matematika pada siswa. 


Upaya-upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah (1) menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, (2) media pembelajaran yang digunakan haruslah menarik perhatian siswa, (3) menanamkan kebiasaan literasi yang baik pada siswa, (4) memfasilitasi siswa dengan buku bacaan matematika, (5) mengintegrasikan beragam cerita rakyat, dongeng, fabel dengan soal-soal yang dibuat, (6) memberikan reward kepada siswa yang paling banyak memahami maksud soal cerita, dan (7) membuat tampilan lembar soal atau LKPD dibuat menarik.