Budi Luhur University Kukuhkan Dua Guru Besar, Rektor: Perjalanan Panjang yang Melelahkan
Ki-Ka: Rektor Budi Luhur University Prof. Dr. Agus Setyo
Budi, M.Sc., Prof. Dr. Umaimah Wahid, M.Si., Prof. Dr. Dudi Iskandar, S.Ag.,
M.I.Kom., Ketua Yayasan Budi Luhur Çakti
Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc,/Foto: Noorwan/Akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA – Budi Luhur University (BLU) kembali menorehkan capaian akademik membanggakan. Melalui Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif (FKDK), dua dosen terbaiknya resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar, menandai penguatan peran kampus dalam pengembangan ilmu komunikasi yang relevan dengan tantangan demokrasi dan masyarakat di era digital.
Bertempat di Auditorium Grha Mahardika Bujana Budi Luhur
University, dua Guru Besar yakni, Prof. Dr. Umaimah Wahid, M.Si., dikukuhkan
sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi Politik. Sedangkan Prof. Dr. Dudi
Iskandar, S.Ag., M.I.Kom., dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi
Massa.
Dalam sambutannya, Rektor Budi Luhur University Prof. Dr.
Agus Setyo Budi, M.Sc., menyampaikan selamat dan penghargaan
setinggi-tingginya, atas pencapaian yang telah dicapai oleh dua guru besar yang
berasal dari kampus BLU ini.
“Saya mengucapkan selamat dan penghargaan setinggi-tingginya
kepada Prof. Dr. Umaimah Wahid, dan Prof. Dr. Dudi Iskandar, yang hari ini resmi
diumumkan sebagai guru besar,” ujar Rektor, dihadapan para tamu yang hadir.
Lebih jauh rector mengungkapkan, bagaimana pencapaian guru
besar bukan suatu hal yang mudah dicapai. Perjuangan yang cukup melelahkan,
tentu akan dirasakan, bukan hanya bagi yang bersangkutan saja.
“Pencapaian guru besar tentulah tidak mudah. Ini perjalanan panjang
yang sangat melelahkan. Masing-masing guru besar tentu punya lika-liku sendiri
dan banyak yang berkontribusi dalam pencapaian, mungkin ada stress. Untuk itu
saya himbau kepada guru besar hari ini, harus dan wajib berterima kasih tentunya
kepada suami, istri, anak dan orang tua, mertua, yang tentunya berkontribusi
besar atas pencapaian gelar akademik ini,” ungkap rektor Agus.
“Tentunya juga kontribusi dari universitas, kolega sangat
berarti bagi kedua guru besar ini,” lanjutnya.
Atas nama Budi Luhur University, masih kata Prof. Agus, “Kami
berharap dengan tambahan dua guru besar ini tentunya tambahan amunisi juga
dalam mengemban perkembangan ilmu, menjadi rujukan bagi akademisi dan menjaga
etika keilmuan di Fakultas FKDK UBL pada khususnya. Semoga guru besar ini
membawa berkah, tentunya bagi diri sendiri, keluarga masyarakat dan bangsa Indonesia,
dan wabil khusus bagi BLU, semoga semakin jaya, semakin berkibar.”
Sementara itu, Ketua Yayasan Budi Luhur Çakti Julian
Bongsoikrama, B.A., M.Sc, menyampaikan, pengukuhan Guru Besar ini merupakan momen
akademik yang sangat penting. Bukan hanya bagi fakultas, tetapi juga untuk BLU
secara keseluruhan.
“Pengukuhan guru besar bukanlah sekedar pencapaian akhir
tertinggi, ia juga adalah pengakuan atas proses panjang, yaitu ketekunan
berfikir, konsistensi terhadap Tri Dharma serta keberanian intelekttual untuk
memberi makna bagi zaman,” katanya.
Mewakili Yayasan, Julian mengucapkan selamat atas pengukuhan
Prof. Dr. Umaimah Wahid, dan Prof. Dr. Dudi Iskandar, sebagai Guru besar serta
memberikan apresiasi setinggi-tingginya.
“Atas nama Yayasan, saya menyampaikan aprsiasi
setinggi-tingginya dan terima kasih untuk selalu bekerja dan berbakti untuk BLU
dan Yayasan,” tuturnya.
Julian juga memberikan pandangan, pengukuhan ini memberi
makna strategis di era distrubsi media prakmentasi public dan dinamika
komunikasi politik yang semakin komplek.
Yang mana menurutnya, ilmu komunikasi memegang peran central menjaga
kualitas dalam menjaga bangsa ini.
“Bagi Yayasan, pencapaian ini penegasan. Satu hal penting,
membangun universitas tidak cukup hanya dengan infrastruktur. Yang paling
menentukan adalah manusia, nilai dan keilmuan yang harus terus dirawat. Yayasan
akan terus berdiri sebagai sebuah system utama bagi para dosen, karena kami
percaya. ketika dosen tumbuh, universitas maju. Dan ketika universitas maju,
bangsa akan memiliki harapan lebih besar,” paparnya.
Penegasan dalam Disertasi
Dalam bidang komunikasi politik, Prof. Umaimah Wahid
menegaskan peran penting komunikasi dalam menjaga kualitas demokrasi dan
membangun literasi politik masyarakat.
Hal ini sejalan dengan disertasinya yang berjudul “Media
Massa dan Hegemoni Negara terhadap Realitas Perempuan: Analisis Gramscian
terhadap Perjuangan Gerakan Affirmative Action Kuota 30 Persen”, yang menyoroti
relasi kekuasaan, media, dan perjuangan representasi perempuan dalam ruang
politik.
Menurut Prof. Umaimah, di tengah transformasi media digital,
masyarakat banyak belajar politik melalui media, sehingga pesan politik yang
disampaikan memiliki dampak besar terhadap cara berpikir dan bersikap publik.
“Komunikasi politik berperan besar dalam membentuk literasi
politik masyarakat. Tantangan hari ini adalah bagaimana ruang digital
dimanfaatkan secara sehat, agar masyarakat semakin kritis, tidak mudah
terpolarisasi, dan mampu menyaring informasi secara bertanggung jawab,”
jelasnya.
Sementara itu, dalam bidang komunikasi massa, Prof. Dr. Dudi
Iskandar menekankan pentingnya jurnalisme sebagai informasi publik yang
terkonfirmasi, erklarifikasi, dan
terverifikasi. Pandangan ini tercermin dalam disertasinya berjudul
“Representasi Ideologi Kekuasaan dalam Konvergensi Media (Analisis Wacana Kritis
Norman Fairclough terhadap Pemberitaan Kampanye Pemilihan Presiden 2014 di
Kompas Grup, Media Grup, dan MNC Grup)”, yang mengkaji bagaimana media
membingkai kekuasaan dan kepentingan politik dalam era konvergensi media.
“Jurnalisme harus kembali pada fungsi utamanya sebagai ruang
diskusi publik. Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi media
menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak hoaks dan disinformasi,”
ungkap Prof. Dudi.
Pengukuhan dua Guru Besar ini menjadi momentum penting bagi
Budi Luhur University dalam memperkuat kultur akademik, meningkatkan kualitas
riset, serta memperluas kontribusi keilmuan di bidang komunikasi. Kehadiran
para Guru Besar diharapkan mampu mendorong Budi Luhur University menjadi pusat
kajian komunikasi yang kritis, beretika, dan berorientasi pada kepentingan
publik.
