Notification

×

Iklan

Iklan

Botol Kemasan BPA Menyebabkan Kanker? Pakar: Nanti Dulu

Selasa, 23 Mei 2023 | 15:06 WIB Last Updated 2023-05-23T08:06:11Z

Pakar Kesehatan Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM/akuratnews.id


AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Kemasan mengandung Biosphenol A (BPA) disadari atau tidak disadari sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat dunia. Di tengah perkembangan kehidupan, manusia perlu berinovasi dalam rangka memberikan kemudahan sebagai makhluk sosial. 


Beberapa tahun ke belakang, BPA selalu disebut-sebut sebagai penyebab penyakit kanker pada manusia. Padahal, jika ingin disurvey keberadaan BPA dalam kehidupan manusia tak dapat dilepaskan. Bagaimana salah satu produk kimia ini menjadi bagian kehidupan manusia itu sendiri. 


Seperti halnya yang disampaikan oleh pakar kesehatan Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, yang menyampaikan bagaimana BPA itu ada di sekitar masyarakat. 


"BPA ada di sekitar kita? pasti, pasti. BPA ada di botol plastik kemasan, pasti. BPA ada kemungkinan menyebabkan kanker? juga cukup bukti. Pasti menyebabkan kanker? (Sebagai wadah makanan) nanti dulu. Menurut saya belum cukup kuat buktinya," ujar Prof. Zubairi, di tengah gelaran Diskusi terkait Kanker, di RS. Kramat 128, Jakarta, (21/5). 


"Apakah kita minum dengan botol terus kena kanker payudara, itu step yang lain, diperlukan bukti yang lebih kuat. Kan kalau level of evidence mula-mula bahannya apa? Kemudian di dalam laboratorium di sel, kemudian dalam binatang percobaan,  Kemudian pada manusia yang pada manusia itu juga banyak tahapan, uji klinik 1, 2, 3, Nah itu saya belum menemukan yang cukup kuat untuk bisa bilang bahwa menyebabkan kanker karena jangan pakai minuman botol belum bisa sampai kesimpulan itu," lanjutnya. 


Kontaminasi BPA Pada Kemasan Kaleng Lebih Tinggi


Hasil penelitian Universitas Stanford dan Johns Hopkins University, yang dipublikasikan Environmental Research mengingatkan semakin banyak mengkonsumsi makanan kaleng, maka seseorang akan semakin berpeluang untuk terkontaminasi Bisphenol-A (BPA)


“Jika saya makan tiga kaleng peach, orang lain makan satu kaleng sup krim jamur, maka saya akan memiliki paparan lebih besar terkena BPA," kata pemimpin penelitian, Jennifer Hartle dari Stanford Prevention Research Center, seperti dilansir Laboratory Equipment.


BPA merupakan senyawa kimia yang diberikan sebagai pelapis dalam kaleng makanan. Senyawa ini sempat menjadi senyawa andalan dalam pembuatan kemasan, namun sifat kimia yang mirip hormon membuat bahan ini dilarang pada beberapa produk, seperti botol bayi.


Penelitian fokus pada analisis kadar BPA dalam produk makanan kaleng dan mengukur paparan senyawa itu pada sekelompok manusia. Hartle dan tim menemukan bahwa makanan kaleng dengan BPA tinggi berpengaruh pada kandungan senyawa dalam urin manusia.


Kandungan BPA berbeda pada masing-masing jenis makanan. Namun beberapa jenis makanan kaleng  memiliki implikasi besar pada kandungan BPA dalam urin, seperti jenis sup, pasta, sayuran, dan buah.


Studi yang dilakukan oleh Hartle sebelumnya menemukan bahwa anak-anak menjadi pihak yang paling rentan terpapar BPA, karena makanan kaleng banyak digunakan pada menu makan siang di sekolah dan aneka jajanan lainnya.


Sebelumnya, Pakar polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin mengatakan, kemasan kaleng yang sudah rusak alias penyok tidak boleh dikonsumsi masyarakat. Hal itu disebabkan karena pecahnya lapisan epoksi yang melapisi logam pada kaleng kemasannya, sehingga mengakibatkan terjadinya migrasi BPA ke dalam produknya.


“Jika itu terjadi, kemungkinan makanan atau minuman yang ada dalam kemasan bisa beracun,” ujarnya.


Dia mengatakan, bahaya migrasi BPA yang disebabkan kemasan kaleng penyok dan tergores lebih besar dibanding jika terjadi pada galon air yang berbahan Policarbonat (PC).


“Kalau galon sudah diuji penyok atau tidak penyok, migrasi BPA-nya rendah. Apalagi bagian luar dan dalam galon terbuat dari bahan PC. Kalaupun pecah, tetap keluarnya Policarbonat juga. Tapi kalau kaleng kemasan, bagian dalamnya adalah epoksi. Jadi ketika dia penyok, epoksinya akan sobek dan menyebabkan terjadinya migrasi BPA ke dalam produknya,” tuturnya. 


Ahmad Zainal menegaskan, barang-barang seperti plastik bersifat inert atau tidak bereaksi, baik dalam asam maupun basah. 


Pakar teknologi pangan dari IPB, Azis Boing Sitanggang juga mengatakan adanya kecenderungan BPA dalam kemasan makanan kaleng itu bermigrasi ke bahan makanannya.


“Tapi seberapa besar pelepasan BPA-nya kita tidak tahu, karena di Indonesia belum ada studi untuk meng-compare langsung dan itu perlu dikaji lagi lebih jauh,” tuturnya.


Proses migrasi BPA dari kemasan kaleng bisa disebabkan beberapa faktor, diantaranya proses laminasi BPA-nya, PH atau tingkat keasaman produk dalam kemasan kaleng itu, dan pindah panas dari produk pangannya.


Dia mencontohkan sarden, jamur, nanas yang dikalengkan, beda-beda pindah panasnya saat disterilisasi, sehingga perlakuan kombinasi suhu dan waktu pemanasannya juga berbeda-beda.


“Ketika beda-beda, berarti peluang migrasi BPA-nya juga berbeda-beda. Tapi semakin asam bahan makanannya atau PH semakin rendah, semakin besar kemungkinan merusak laminasi epoksinya,” katanya.


Saat ini banyak produk kemasan yang melabelkan kemasannya dengan menuliskan 'bebas BPA'. Namun demikian produk tersebut tentunya akan menggunakan BPA pengganti dalam produksinya. Beberapa penelitian melihat efek buruk yang sama seperti makanan dalam kaleng pada umumnya.


Sebagai informasi, BPA adalah zat kimia yang sudah digunakan untuk membuat plastik dan resin epoksifenolat sejak 1957. Sekitar 3,6 juta ton BPA digunakan oleh produsen setiap tahun untuk membuat berbagai barang konsumsi, seperti botol susu bayi dan botol minum, peralatan olahraga, CD dan DVD, serta untuk keperluan industri, seperti lapisan pipa air.


Untuk produk kemasan kaleng, resin epoksifenolat yang mengandung BPA digunakan sebagai pelapis bagian dalam kaleng makanan dan minuman.