Yenny Wahid Jadi Presiden Federasi Perempuan se-Asia Tenggara
AKURATNEWS.ID, HANOI - Tokoh perempuan Indonesia, Zannuba
Arifah Chafsoh Wahid atau Yenny Wahid, menerima mandat sebagai Presiden ASEAN
Confederation of Women’s Organizations (ACWO), konfederasi organisasi perempuan
se-Asia Tenggara, untuk periode 2027–2029.
Penyerahan tongkat kepemimpinan dari Vietnam kepada
Indonesia berlangsung di Hanoi, Vietnam, Rabu (4/11). Yenny Wahid menerima
mandat tersebut dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia
(KOWANI).
Momentum ini menandai babak baru kepemimpinan perempuan
Indonesia di tingkat regional sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam
diplomasi dan kerja sama organisasi perempuan ASEAN.
ACWO merupakan wadah kerja sama organisasi perempuan di
kawasan Asia Tenggara yang pembentukannya pada 1981 turut diprakarsai oleh
KOWANI dan merupakan ekosistem dari ratusan juta perempuan di Asia
Tenggara.
“Ini adalah kehormatan dan p mal kepercayaan kepada
perempuan Indonesia. Kita ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia bukan
hanya mampu memimpin di tingkat nasional, tetapi juga ikut menentukan arah masa
depan Asia Tenggara,” ujar Yenny.
Enam Program Prioritas Kepemimpinan Yenny Wahid
Dalam kepemimpinannya, Yenny akan mendorong enam agenda
strategis untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang
dihadapi perempuan serta keluarga di Asia Tenggara.
- 1. Care for the Elderly, Perlindungan dan Kesejahteraan Lansia
Mendorong sistem perawatan dan perlindungan lansia yang
lebih inklusif, terutama bagi perempuan lanjut usia yang rentan terhadap
kemiskinan, kesepian, dan keterbatasan akses layanan kesehatan. Kerja sama
ASEAN akan diarahkan pada pertukaran praktik baik dalam perawatan lansia
berbasis keluarga dan komunitas.
- 2. Financial Inclusion, Inklusi Keuangan Perempuan
Memperluas akses perempuan terhadap pembiayaan, layanan
keuangan, literasi finansial, serta peluang kewirausahaan, terutama bagi pelaku
usaha mikro dan perempuan di pedesaan.
- 3. Climate Action & Green Livelihoods, Aksi Iklim dan Ekonomi Hijau
Memperkuat peran perempuan dalam menghadapi perubahan iklim
sekaligus menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan melalui ekonomi
sirkular, pengelolaan sampah, pertanian ramah lingkungan, serta pengembangan
usaha hijau berbasis komunitas.
- 4. Digital Literacy, Literasi dan Pemberdayaan Digital
Meningkatkan keterampilan digital perempuan agar mampu
memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan untuk pendidikan, pengembangan
usaha, serta memperkuat keamanan dan perlindungan di ruang digital.
- 5. No Child Left Behind, Tidak Ada Anak yang Tertinggal
Memastikan setiap anak, khususnya dari keluarga miskin,
penyandang disabilitas, dan komunitas terpencil, memiliki kesempatan yang
setara untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan yang
layak.
- 6. Protection for Women and Children, Perlindungan Perempuan dan Anak
Memperkuat kerja sama regional untuk mencegah kekerasan
berbasis gender, perdagangan manusia, eksploitasi anak, dan kekerasan berbasis
teknologi, sekaligus memperluas akses terhadap layanan perlindungan bagi
korban.
Dari Ruang Konferensi ke Kehidupan Nyata
Yenny menegaskan bahwa kepemimpinan ACWO harus menghasilkan
dampak nyata, bukan sekadar memperbanyak pertemuan internasional.
“Saya tidak ingin ACWO hanya menjadi tempat para pemimpin
perempuan bertemu dan berfoto bersama. Kita ingin memastikan bahwa kerja sama
ini benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Mulai dari seorang nenek yang
membutuhkan perawatan, seorang ibu yang membutuhkan modal usaha, hingga seorang
anak yang terancam putus sekolah. Mereka semua harus menjadi bagian dari
perhatian kita,” tegas Yenny.
Menurutnya, tantangan masa depan ASEAN tidak hanya berkaitan
dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana kawasan ini memastikan tidak
ada kelompok masyarakat yang tertinggal.
“ASEAN tidak akan benar-benar maju apabila perempuan masih
kesulitan mengakses kesempatan ekonomi, anak-anak kehilangan kesempatan
pendidikan, dan para lansia harus menghadapi masa tua tanpa perlindungan yang
memadai,” lanjutnya.
Memperkuat Diplomasi Perempuan Indonesia
Kepemimpinan ACWO periode 2027–2029 juga menjadi kesempatan
bagi Indonesia untuk memperkuat kembali peran historisnya dalam gerakan
perempuan internasional.
KOWANI memiliki sejarah panjang sejak Kongres Perempuan
Indonesia pertama pada 1928, menjadi anggota International Council of Women
sejak 1973, dan turut memprakarsai pembentukan ACWO pada 1981.
Yenny menyampaikan apresiasi kepada Vietnam atas
kepemimpinannya pada periode sebelumnya dan menyatakan komitmen untuk
memperkuat solidaritas antarorganisasi perempuan di kawasan.
“Kita ingin membangun ASEAN yang bukan hanya kuat secara
ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. ASEAN yang
menghormati para lansianya, melindungi perempuan dan anak-anaknya, serta
memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang.”
“Karena ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa
tinggi gedung yang dibangun atau seberapa cepat ekonominya tumbuh, tetapi juga
bagaimana bangsa itu memperlakukan mereka yang paling rentan,” pungkas Yenny.



Posting Komentar