Laut Bercerita dari Bidikan Dua Lensa
Bidikan Lensa dari Film Laut Bercerita karya Anton Ismael dan Oscar Motuloh.
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - “Matilah kau mati, kau akan lahir berkali-kali.” Kutipan dari novel Laut
Bercerita karya Leila S. Chudori,
yang kemudian diadaptasi menjadi film
arahan Yosep Anggi Noen
produksi Pal 8
Pictures, menemukan makna baru
melalui pameran fotografi
dan instalasi Dua
Lensa Bercerita. Pameran ini menghadirkan karya fotografer Anton Ismael dan Oscar Motuloh di
Galeri Dialogue, Kemang, Jakarta Selatan.
Dua Lensa Bercerita merupakan sebuah alih wahana dalam
bentuk fotografi dan instalasi. Pameran
ini bukan sekadar dokumentasi di balik
layar pembuatan film, melainkan kemudian diciptakan ulang
menjadi sebuah jagad
baru tempat kisah, ingatan,
dan gagasan Laut Bercerita
menemukan kehidupan serta pemaknaan yang berbeda.
Keterlibatan kedua fotografer dalam film Laut Bercerita
tersebut menjadi salah satu titik berangkat penciptaan karya-karya dalam
pameran ini. Oscar Motuloh menjadi alter ego fotografis bagi karakter Alex
Perazon, sementara Anton Ismael memotret
untuk karakter Gusti Suroso. Berangkat dari hubungan tersebut, keduanya mengembangkan
interpretasi masing-masing yang melampaui dunia film.
Oscar menghadirkan pendekatan fotografi dokumenter melalui
pengamatan terhadap manusia, peristiwa, dan
ruang, sementara Anton
mengeksplorasi bahasa visual yang lebih
eksperimental dan ekspresif. Karya
keduanya tidak sekadar merekam, tetapi membuka cara baru untuk merasakan dan menafsirkan dunia Laut
Bercerita.
Dengan kurator Engel Tanzil, pameran ini juga menghadirkan
instalasi karya Avianti Armand dan Sigit
D. Pratama, serta elemen
partisipatif yang mengajak
pengunjung membawa pengalaman
dan ingatan mereka sendiri. Kehilangan,
penantian, keberanian, dan harapan
menjadi pengalaman yang dapat direnungkan dan dimaknai secara personal.
Pameran Dua Lensa Bercerita diselenggarakan oleh Pal 8
Pictures bekerja sama dengan Dialogue
dan .this/PLAY, mempertemukan
fotografi, instalasi, dan
desain ruang dalam sebuah pengalaman yang utuh.
“Dua fotografer Oscar Motuloh dan Anton Ismael menghadirkan
bahasa visual yang kontras, namun saling melengkapi,” ujar kurator pameran Dua
Lensa Bercerita, Engel Tanzil.
Engel menafsirkan pameran Dua Lensa Bercerita sebagai dialog
dua pendekatan fotografi. Oscar
Motuloh menghadirkan rangkaian foto hitam-putih yang
bersifat kontemplatif dan subtil keheningan yang
mendalam. Di sisi lain, Anton Ismael merespons dengan
warna, eksperimen, dan intervensi visual yang ekspresif–kebisingan yang jujur.
Oscar Motuloh menyatakan bahwa salah satu sudut pandang lensa dari pameran foto Dua Lensa Bercerita adalah figur Alex Perazon.
“Alex adalah seorang aktivis pergerakan mahasiswa Winatra yang
sensitif, terutama saat mengabadikan foto-foto hitam putih yang amat
digemarinya,” ujar Oscar Motuloh.
“Alex adalah saksi mata yang merasakan luka ingatan yang terus melekat dalam dirinya sebagai penyintas
dari kekejaman sebuah rezim masa lalu,” tambah Oscar.
Karena intensitas tafsir Oscar terhadap alter-ego ini, makai
a juga membuatnya ke dalam sebuah
buku fotografi berjudul
Laut Luka yang
diterbitkan oleh Penerbit
Kepustakaan Populer Gramedia yang diluncurkan pada hari yang sama.
Sementara itu, fotografer
Anton Ismael menafsir alih wahana ke dalam serangkaian karya yang penuh
eksperimen media.
“Untuk bisa belajar dari sejarah, kita perlu lebih dulu
merasakan bahwa sejarah itu punya hubungan yang erat dengan eksistensi kita
saat ini,” ujar Anton Ismael.
Dengan demikian, Anton memutuskan untuk mempertemukan
mempertemukan foto-foto dari film Laut Bercerita dengan
foto-foto karyanya dan karya
kawan-kawannya di luar
produksi film ini.
“Kami meramunya bersama tulisan, gambar, dan merespons dari yang karya yang ada,” jelas
Anton.
Melihat berbagai bentuk baru
ini, dari seni meramu kata menjadi cerita di dalam novel, penulis Leila
S. Chudori bukan hanya menyambut film karya Yosep Anggi Noen sebagai interpretasi alih
wahana yang bagus, tetapi juga
tafsir Cholil Mahmud dalam lagu Matilah Kau Mati, Khozy
Rizal dalam video
klip lagu tersebut;
dan kini tafsir foto dan rupa
karya Oscar Motuloh dan Anton Ismael.
“Pada akhirnya, kisah
Biru Laut dalam
Laut Bercerita mendapat tempat
di benak, mata, jari-jari dan
yang penting hati para seniman
lainnya, sehingga tafsir ulang dari cerita ini menunjukkan taksir Laut untuk
lahir berkali-kali,” kata Leila.
Perjalanan Laut Bercerita tidak berakhir ketika halaman
terakhir novel ditutup atau layar bioskop padam. Melalui fotografi dan
instalasi, cerita itu menemukan kehidupan baru. Setiap medium menghadirkan
cara berbeda untuk merasakan dan memaknainya,
sementara setiap perjumpaan dengan pengunjung membuka kemungkinan bagi
lahirnya cerita-cerita lain.


Posting Komentar