Terinspirasi Hobi Lady Diana, Tasya Madiun Geluti Olah Raga Berkuda

Tasya Griselda Trisnata, Mahasiswi semester II jurusan Manajemen Ekonomi Universitas Negeri Surabaya
AKURATNEWS.ID, MADIUN - Menunggang kuda bukan perkara mudah.
Meski sekilas nampak gampang. Jika dilakukan dengan sembrono dan tanpa
kemampuan memadai, tidak mustahil justru akan mendapatkan celaka ketimbang
nikmatnya berkuda.
Selain faktor kecakapan, olah raga yang berkaitan dengan
hewan pacu, sering terhubung dengan budaya ikonik para cowboy di Texas, Amerika
itu bukan hobi biasa. Itu kesenangan mahal. Se-atmosfir dengan hobi main golf,
terjun payung, paralayang, gantole, aeromodelling dan olah raga bersaku tebal
lainnya.
Selain berbiaya tak semurah main sepak bola, tenis meja,
bola voli dan sejenisnya, olah raga ekstrem ini dituntut memiliki kesiapan
mental, penguasaan adrenalin serta kesanggupan integrated terhadap sarana dan
prasarana yang dikendalikannya. Tidak gampang memang. Pendek kata tak sekedar
cukup duit, melainkan juga wajib cukup mental.
Namun begitu, sederet halang rintang tentang berkuda itu
tidak mampu merubah segumpal angan-angan seorang mahasiswi cantik asal Kota
Madiun, Jawa Timur, untuk tetap menyusurinya. Bahkan disaat yang lain berjalan
menjauh, dia berlari mendekat untuk menjemput harapan.
Dialah Tasya Griselda Trisnata, 20 tahun, mahasiswi semester
II jurusan Manajemen Ekonomi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang berkampus
di Magetan, Jawa Timur. Warga Jl. Semangka No. 19, Kelurahan/Kecamatan Taman,
Kota Madiun, itu mengaku menaruh hasrat hobi berkuda karena terinspirasi
kegemaran Lady Diana Spencer, Princess of Wales kerajaan Inggris itu.
"Hobi berkuda ini saya tekuni karena terinspirasi kegemaran
Lady Diana, termasuk Ratu Elizabeth yang juga gemar berkuda. Kultur bangsawan
Inggris itu nampak elegan dan kharismatik," kata Tasya dalam wawancara
dengan koresponden di area tempatnya latihan berkuda, WHC Nusantara, Jl. Raya
Dungus, Kecamatan Mojopurno, Kabupaten Madiun, Jumat (03/04/2026).
Dikatakan anak pertama pasangan pengusaha, Reza Angga Kusuma
dan Anna Trisnawati, itu sejak jatuh dalam "pelukan kuda" diapun
lantas bergegas mengoptimalkan hobinya dengan masuk sekolah berkuda WHC
Nusantara. Di tempatnya berlatih itu dia dibimbing Yudho, sebagai horse
training-nya.
Selama mengikuti 'pendidikan' berkuda dia mengeluarkan biaya
sebesar Rp. 850 ribu per paket (5 kali latihan). Juga diwajibkan mengenakan
perlengkapan yang sesuai, demi keamanan, seperti kostum (celana panjang dan
atasan), sepatu khas joki, helm, kaos tangan, whip atau riding crop (cemeti)
dan sarana lainnya. Berbagai kelengkapan tersebut dibeli seharga mulai dari
ratusan hingga jutaan rupiah.
Selama lebih dari dua bulan sejak bergabung sebagai siswa
berkuda hingga saat ini, dia mengaku sudah melakukan latihan sebanyak 10 kali.
Tidak mulus yang dia lakoni. Lantaran, dia mengaku pernah terjatuh dari pelana
saat latihan pada minggu ke lima.
Meski tidak sampai mengalami cedera berarti, namun terjatuh
dari ketinggian 170 cm dari punggung kuda diakuinya cukup membuatnya kaget dan
kesakitan. Insiden itu, katanya, akibat kedua kakinya lepas dari stirrup
(sanggurdi/penumpu/pijakan) disaat memacu kudanya.
Pengalaman pahit yang terbungkus manisnya semangat itu
membuatnya semakin tertantang. Terlebih gadis bertinggi badan 167 cm dengan
gestur atletis itu memiliki jiwa petualang. Sehingga, bak cowgirl, jatuhnya
justru menjadi awal kebangkitannya. Dia pun makin segar dan penuh harapan.
"Pernah jatuh dari kuda. Itu pada latihan ke lima kalau
tidak salah. Gara-garanya kedua kaki saya terlepas dari pijakan saat kuda
berjalan. Tidak apa-apa karena saya punya jiwa petualang. Saya juga akrab
dengan medan yang kotor," tuturnya.
Yang paling sulit dalam mengikuti latihan menunggang kuda,
menurutnya, adalah bab keseimbangan, integrated dan feel antara joki dengan
kudanya. Namun jika sudah menyatu, sebutnya, maka perasaannya laksana terbang
diantara warna warni pelangi yang indah.
Dijelaskannya, binatang kuda memiliki sifat yang sensitif.
Hewan itu mengerti bagaimana perasaan rider. Karakter kuda, nilainya,
mencerminkan apa yang dirasakan sang joki. Manakala sang joki merasa takut,
maka kuda segera meresponnya dengan tingkah polah liar sulit dikendalikan.
Yang diperoleh, meski belum masuk kategori mahir berkuda,
namun dia sudah mampu menunggang kuda secara mandiri. Meski begitu dia mengaku
belum memiliki kecakapan berkuda dengan melintasi berbagai rintangan.
Dijelaskan Tasya, sebagai 'mahkota' bagi rider adalah jika
telah mampu melewati rintangan secara mulus tanpa cacat. Rintangan berkuda itu
antara lain show jumping, upright, oxer dan triple bar.
Dari awalnya sekedar hobi, Tasya becita-cita ke depan bisa
menjadi seorang atlet berkuda putri, yang mewakili Indonesia pada kompetisi
baik tingkat lokal, regional, nasional dan bahkan internasional.
Dia berkeinginan, pada suatu hari nanti bisa menyusul atlet
berkuda putri Indonesia seperti Aisha Maydina Hakim, Ivana Putri Santosa dan
Galis Kirina. Keinginan itu didasarkan pada pinginnya membanggakan kedua orang
tuanya, juga nama baik bangsa dan negara.
"Saya tidak ingin melihat ke belakang terlalu lama.
Karena yang di depan telah menungguku, untuk mengantar masuk ke salah satu dari
seribu pintu penuh bintang-bintang," slogan Tasya mengakhiri wawancara.
(fin)

Posting Komentar