Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Unilever Melepas SariWangi: Pelajaran Strategi dari Merek Legendaris Indonesia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:46 WIB Last Updated 2026-01-17T07:06:57Z

Mengapa Unilever Melepas SariWangi: Pelajaran Strategi dari Merek Legendaris Indonesia


Ningky Sasanti Munir

 

Tidak banyak merek di Indonesia yang mampu bertahan selama lebih dari lima dekade dan tetap tinggal dalam ingatan kolektif masyarakat. SariWangi adalah salah satu dari sedikit itu. Sejak kemunculannya pada awal 1970-an, teh celup ini mengubah kebiasaan minum teh keluarga Indonesia. Dari dapur rumah tangga kelas menengah sampai warung kecil di sudut kampung, SariWangi hadir sebagai pilihan utama: praktis, higienis, dan menjadi simbol kehangatan. Banyak keluarga bahkan menjadikannya “teh default” ketika ada tamu datang.

 

Karena itu kabar pada Januari 2026 barusan bahwa Unilever menjual SariWangi ke perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Djarum dengan nilai sekitar Rp 1,5 triliun terasa mengejutkan. Bagaimana mungkin sebuah merek yang begitu melegenda, yang pernah menjadi pionir dan inovator, akhirnya dilepas? Bukankah SariWangi masih dikenal oleh hampir semua orang di Indonesia?

 

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini wajar muncul. Namun untuk memahami keputusan tersebut, kita perlu memandangnya tidak hanya sebagai berita bisnis, tetapi sebagai cermin dari perubahan besar dalam perilaku konsumen, dinamika industri minuman, dan strategi korporasi global yang semakin selektif.

 

Ketika SariWangi diperkenalkan pada awal 1970-an, ia membawa inovasi kategorikal yang langsung diterima pasar. Teh celup adalah hal baru; ia menawarkan kenyamanan dan standar kebersihan yang belum ada sebelumnya. Selama puluhan tahun, SariWangi memanfaatkan posisi ini dengan sangat baik. Brand equity-nya sangat kuat: mudah diingat, dipercaya, dan memiliki asosiasi emosional yang positif.

 

Pada 1989, Unilever masuk dan mengakuisisinya. Langkah ini sepenuhnya masuk akal. Bagi Unilever yang ingin memperluas portofolio minuman di Indonesia, SariWangi menawarkan kombinasi ideal: merek lokal yang kuat, pasar yang besar, dan kategori yang saat itu sedang bertumbuh. Distribusi Unilever yang luas dan kemampuan marketing-nya memperkuat posisi SariWangi di pasar domestik.

 

Namun, tidak ada kategori yang selamanya tumbuh. Mulai awal 2010-an, pasar teh celup di Indonesia memasuki masa stagnasi. Konsumsi teh celup memang masih besar, tetapi praktis tidak bertambah. Di saat yang sama, konsumen Indonesia—khususnya generasi muda dan masyarakat urban—mulai mengembangkan preferensi baru. Perubahan ini tidak terjadi dalam sehari, tetapi akumulasinya jelas: masyarakat semakin mendambakan variasi rasa, pengalaman, dan nilai tambah.

 

Segmen minuman siap minum atau ready-to-drink (RTD) berkembang pesat karena menawarkan kemudahan dan cocok dengan gaya hidup yang serba cepat. Di berbagai kota besar, tren milk tea, boba, dan cheese tea menjadi fenomena sosial, bukan sekadar pilihan minuman. Munculnya café-café modern juga mengubah persepsi masyarakat: minuman bukan hanya kebutuhan, tetapi bagian dari identitas lifestyle. Sementara itu, minuman fungsional semakin banyak dicari karena faktor kesehatan.

 

Dalam keseluruhan transformasi preferensi ini, teh celup yang dulu inovatif menjadi kategori yang “diam di tempat”. Ia tetap diperlukan, tetapi tidak lagi memiliki daya tarik yang tumbuh bersama aspirasi konsumen. Tanpa pertumbuhan, kategori ini secara perlahan masuk ke area komoditas. Harga menjadi penentu utama, dan ruang untuk inovasi mengecil. Dari sudut pandang perusahaan multinasional yang mengejar pertumbuhan jangka panjang, kategori semacam ini sulit menjadi prioritas.

 

SariWangi, meski masih kuat, tidak kebal terhadap tekanan ini. Selama bertahun-tahun, inovasi yang dilakukan cenderung bersifat incremental—mengubah kemasan, menambah varian rasa—tetapi tidak menciptakan nilai baru yang signifikan. Padahal di seluruh dunia, kategori teh sedang mengalami transformasi: "premiumisasi," teh organik, teh berbasis kesehatan, cold brew tea, hingga model bisnis yang memadukan kafe dan retail. Di Indonesia, peluang untuk menafsirkan ulang teh sebagai pengalaman baru sebenarnya terbuka, tetapi SariWangi tetap bertahan pada konsep awalnya.

 

Selain itu, peluang terbesar sebenarnya ada di segmen RTD. Tetapi SariWangi tidak masuk secara serius ke arena tersebut. Padahal brand recognition-nya sangat kuat untuk memimpin kategori teh siap minum. Di pasar minuman Indonesia yang sangat kompetitif, ketidakhadiran di segmen yang tumbuh cepat adalah kehilangan momentum.

 

Ada pula faktor relevansi generasional. Bagi konsumen muda yang tumbuh di era kafe dan minuman kreatif, teh celup bukanlah bagian dari gaya hidup. Teh celup dianggap “produk rumah orang tua”, bukan produk yang mewakili identitas sosial mereka. Reputasi SariWangi yang fenomenal di generasi sebelumnya tidak otomatis diturunkan ke generasi berikutnya.

 

Di tengah tantangan itu, kita harus melihat perspektif Unilever. Sejak 2015, perusahaan global tersebut melakukan rasionalisasi portofolio secara besar-besaran. Kategori yang dianggap stagnan atau tidak sejalan dengan visi masa depan dilepas. Fokus investasi dialihkan ke produk bernilai tambah tinggi seperti plant-based food, healthy beverages, premium tea, dan produk nutrisi.

 

Strategi ini selaras dengan tren global. Industri makanan dan minuman bergerak ke arah personalisasi kesehatan, keberlanjutan, dan premiumisasi. Teh celup mass market sulit memenuhi ekspektasi tersebut.

 

Keputusan untuk melepaskan SariWangi bukan berarti brand itu buruk. Ia hanya tidak lagi masuk dalam kategori yang ingin difokuskan Unilever untuk masa depan. Profit pool-nya kecil, potensinya stagnan, dan daya inovasinya terbatas jika tetap berada dalam logika bisnis lama. Dengan menjualnya, Unilever dapat mengalihkan modal dan perhatian manajemen ke kategori yang punya masa depan lebih menjanjikan.

 

Ada pelajaran penting bagi perusahaan-perusahaan Indonesia. Pertama, sejarah panjang dan loyalitas pelanggan tidak cukup menjamin keberlanjutan. Relevansi selalu harus diperbarui. Kedua, kategori yang stagnan sebenarnya memberi sinyal kuat untuk transformasi. Ketika pasar berhenti tumbuh, pendekatan lama harus ditinggalkan. Ketiga, inovasi yang hanya mempercantik produk lama—tanpa menciptakan nilai baru—tidak akan mampu mengubah lintasan bisnis. Perusahaan perlu berani menata ulang portfolio mereka, bukan sekadar mempertahankan apa yang dulu pernah sukses. Dan terakhir, relevansi terhadap konsumen muda adalah faktor penentu. Generasi inilah yang menentukan arah pasar lima hingga sepuluh tahun ke depan.

 

Pada akhirnya, kisah SariWangi mengingatkan kita bahwa tidak ada merek yang aman selamanya. Bahkan ikon yang paling melekat dalam kehidupan kita dapat tergerus jika tidak mengikuti perubahan zaman. Keputusan Unilever untuk melepasnya bukanlah sekadar keputusan bisnis, melainkan konsekuensi dari perubahan fundamental dalam industri, konsumen, dan strategi korporasi global.

 

Dengan bergesernya SariWangi ke pemilik baru, pertanyaannya kini bukan lagi mengapa Unilever menjualnya, tetapi apakah brand legendaris ini dapat menemukan interpretasi baru di tangan pemilik baru. Dan lebih jauh lagi, berapa banyak merek besar Indonesia lainnya yang diam-diam sedang berada di persimpangan yang sama?

 

Mengenai penulis:

Ningky Sasanti Munir adalah associate professor dan konsultan ahli bidang Business & Corporate Strategy; saat ini menjadi Rektor di Universitas MH Thamrin Jakarta.