Daulat Rupiah adalah Daulat Negara

Ilustrasi Uang/Foto. ist/akuratnews.id
Yudhie Haryono | Presidium Forum Negarawan
#Orang miskin adalah mereka yang tak banyak uang walaupun
punya banyak barang. Orang jenius adalah mereka yang mencipta uang; orang
cerdas mencari uang; sedang orang bodoh mencari pinjaman#
Inilah doktrin terbaru neoliberalisme. Jika ini dijadikan
acuan maka, negeri ini miskin dan presiden kita "bodoh."
Setelah lebih dari 10 tahun republik ini digempur narasi
"daulat rupiah," oleh ekonom-ekonom jenius kita, respon BI lumayan
waras. Mereka menjawab dengan kegiatan festival rupiah berdaulat yang bertujuan
meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran pentingnya rupiah dalam sejarah
bangsa, sekaligus menumbuhkan optimisme, semangat kebangsaan, dan memperkuat
kedaulatan negara melaluinya.
Mestinya, pada uang kita dapati simbol perjuangan, alat
tukar, alat perang, identitas diri/negara, alat ukur kekayaan dan representasi
persatuan bangsa dari keberagaman budaya nusantara. Tetapi, yang terjadi kini
sebaliknya. Sungguh kita dibuat malu karena rupiah kita justru menjajah
warganegara.
Walau setidaknya, depresiasi rupiah (kehancuran uang kita)
yang dahsyat dijawab dengan program ini. Harapannya ada tiga: Pertama,
menimbulkan rasa memiliki dan mencintai bangsa dengan mengingat para pahlawan.
Kedua, bangga bahwa rupiah pernah mendapat penghargaan sebagai uang terbaik di
dunia sisi fiturnya yang aman. Ketiga adalah memahami rupiah yang memiliki
cita-cita, alat menabung, dan belanja dengan cermat.
Di antara negara-negara Asean, mata uang rupiah termasuk
yang lemah. Ia terus mengalami pelemahan secara terstruktur, masif dan
sistematis. Sayangnya, proses depresiasi ini tidak tak dicarikan solusinya.
Dalam konteks ekonometrik, "currency depreciation" atau depresiasi
mata uang adalah hancurnya nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang
lainnya atau terhadap standar tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Depresiasi mata uang tentu saja merupakan penjajahan baru
bagi negara postkolonial dan negara dengan ekonomi yang miskin karena
kepemimpinannya lemah dan bodoh; defisit transaksi berjalan yang terus-menerus;
serta tingginya tingkat inflasi; juga "patronase lokal" yang diimani
para oligark serakah yang ganas.
Tetapi, proses ini jika dicek akan terlihat sangat
terstruktur: memiliki motif, tujuan dan pola yang disusun, dirangkai,
direkayasa, diatur, atau diciptakan secara rapi: tak mudah dibaca awam. Dalam artian
suatu desain (rancangan) disebut terstruktur ketika punya pola jelas sehingga
dapat diruntut atau ditelusuri oleh para jenius.
Proses itu juga sangat sistematis karena langgamnya punya
pasukan, barisan dan keteraturan yang solid, utuh, terpadu, saling terkait
(menguatkan-melindungi) dari gabungan sejumlah komponen, pola, atau unsur yang
saling mendukung dalam membentuk keutuhan sempurna sehingga sangat kuat dan
tertradisi menjadi "kebenaran."
Proses itu disempurnakan dengan sebesar dan sekuatnya menjadi
masif. Di sini artinya gerakan yang kokoh, berjumlah banyak/besar, dan super
padat sehingga seluruh komponen atau unsur di dalamnya tidak keropos, berongga,
rapuh dan tidak tak terbunuh.
Akibatnya tak banyak yang tahu bahwa perang dagang pasti
ujung tombaknya adalah perang mata uang. Bahkan perang kedaulatan itu
sesungguhnya perang mata uang. Jika mata uang suatu negara kuat, maka kuatlah
kedaulatan negara tersebut dan bahkan bisa menjajah negara lain. Demikian pula
sebaliknya.
Sesungguhnya, perang mata uang adalah perang ekonomi
sekaligus perang dagang dunia. Fakta bahwa ini adalah perang terlihat dari
persaingan negara imperial (penjajah-perampok) melemahkan nilai mata uangnya ke
level terendah lalu menaikkannya pada top level. Hal ini dilakukan agar
produk-produk yang mereka hasilkan bisa laku dan terjual di negara lain. Dalam
sejarah dunia, perang mata uang ini sudah sering terjadi sejak 100 tahun lalu.
Tentu saja, negara dengan ekonomi-industri yang kuat akan
kuat uangnya sehingga mampu menegaskan kedaulatannya dan memiliki kekuatan
untuk memaksakan hegemoni dan pengaruhnya. Negara kuat pasti dinahkodai oleh
pemimpin yang kuat, ekonom yang jenius dan elite yang paham geo-ekopolitik
dunia.
Sebaliknya, saat negara diisi oleh pemimpin lemah dan bodoh,
semua masa depannya diserahkan ke pasar. Lalu, nilai tukar uangnya dibuat
mengambang karena ditentukan oleh pasar. Padahal, bank sentral dan kementrian
keuangan bisa kolaboratif merekayasa mata uangnya menjadi alat yang
"mengkayakan" sekaligus "mendaulatkan" negaranya.
Dus, untuk melihat kedaulatan sebuah negara, bisa dilihat
pada kemampuan elitenya meletakkan uangnya sebagai apa: sekedar alat tukar atau
alat pendaulat. Cermati, jika ekspornya menjadi lebih mahal, dan impornya
menjadi lebih murah, berarti mereka kalah. Cepat ganti dengan yang lebih jenius
dan patriotis. Itu saja.