Notification

×

Iklan

Iklan

Cara Romo Kolonel Yos Bintoro Bentuk Karakter dan Kebangsaan

Selasa, 09 April 2024 | 15:20 WIB Last Updated 2024-04-09T08:20:24Z

Romo Kolonel Yos Bintoro saat melakukan pembinaan mental melalui musik/Ist/akuratnews.id


AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Kegiatan pembinaan mental melalui musik merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan potensi otak kanan. Di Studio Musik Gereja Agustinus Paroki Halim Perdanakusuma, kegiatan ini memfokuskan pada penghafalan lagu-lagu yang bermakna bagi berbagai aspek kehidupan. Mulai dari lagu-lagu rohani yang ditujukan untuk menyembah Tuhan, lagu-lagu etnis dan kejuangan yang mencintai tanah air, hingga lagu-lagu yang mengajak untuk menyapa kemanusiaan.


"Partisipasi dari OMK Paroki dan Musisi LO (Locis Ocius) Band menjadi kunci kesuksesan dalam melaksanakan kegiatan ini," kata Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, Selasa (9/4).


Mereka, kata Romo Yos Bintoro, bukan hanya sekadar penampil, tetapi juga menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri. Melalui musik, mereka menggali dan memperkuat rasa kebersamaan serta kesetiaan terhadap iman dan tanah air.


"Studio musik bukan hanya sekadar tempat latihan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengasah keterampilan sosial dan spiritual. Di sinilah para peserta belajar untuk bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat," tegas Romo Yos Bintoro.


Dengan demikian, lanjutnya, kegiatan ini tidak hanya menciptakan musik yang indah, tetapi juga membentuk karakter yang kuat dan bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakat.


Dalam konteks yang lebih luas, menurut Romo Yos Bintoro, kegiatan pembinaan mental melalui musik ini menjadi bagian dari upaya memperkokoh fondasi keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Studio musik menjadi wadah yang memungkinkan para individu untuk mengekspresikan nilai-nilai tersebut dengan cara yang kreatif dan mendalam.


"Dengan demikian, musik tidak hanya menjadi alat hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana untuk membawa perubahan positif bagi diri sendiri dan masyarakat secara keseluruhan," pungkas pastor pertama Indonesia yang ikut pendidikan Perwira Karir tahun 1997 ini.