Notification

×

Iklan

Iklan

Gus Dur Jadikan Imlek Hari Libur Nasional

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:59 WIB Last Updated 2023-01-20T13:59:50Z

Jubir Milenial PKB Mikhael Sinaga/Istimewa


AKURATNEWS.ID, JAKARTA - KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dinobatkan sebagai bapak pluralisme, yang mana diketahui Gus Dur sangat menghargai keberagaman, salah satu buktinya adalah saat dirinya mencabut Inpres. 


Dalam sejarahnya, Gus Dur mengeluarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14/1967 pada 17 Januari 2000. Sejak dicabutnya Inpres tersebut, masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan lagi untuk menganut agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya termasuk merayakan upacara-upacara agama seperti imlek, Cap Go Meh, dan sebagainya secara terbuka.


Jubir Milenial PKB Mikhael Sinaga, mereview sejarah pada 19 Januari 2001, Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif. 



"Hari libur fakultatif adalah hari libur yang tidak ditentukan pemerintah pusat secara langsung, melainkan oleh pemerintah daerah setempat atau instansi masing-masing," ujarnya menerangkan, Jumat (20/1). 



Lebih jauh, dia menggambarkan, Budaya Tionghoa yang selama orde baru sulit berkembang, mulai kembali semarak usai Gus Dur menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional. Pertunjukan Barongsai, hingga wayang potehi kembali muncul ke publik.



"Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang toleran. Dan semangat toleransi itu yg PKB rawat hingga kini. Gus Dur melihat keberagaman bangsa Indonesia merupakan kekuatan besar. Keberagaman akan menjadi kekuatan besar bila semua diberi ruang dan kesempatan yang sama," terangnya. 


Tentunya, masih kata Mikhael, di tahun kelinci air ini, PKB ingin agar semangat toleransi itu tetap menyala. Karena Indonesia merupakan negeri yang heterogen, yg berasal dari berbagai macam suku, agama dan budaya. Itu yg harus kita gelorakan.


"Keberagaman merupakan kunci Indonesia yang harmoni. Saling menghormati antar anak bangsa harus terus dipupuk," imbuhnya.


Terlebih di tahun politik, di mana politik identitas menjadi momok menakutkan bagi Indonesia. Masih teringat, bagaimana hebatnya politik identitas nyaris mengoyak persatuan antar anak bangsa.


"Padahal perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar. Kita harus kembali bercermin pada Gus Dur, yang dapat menerima perbedaan, dan justru menjadikan perbedaan menjadi satu harmoni yg indah untuk Indonesia," katanya.


"Jangan melupakan sejarah dan harus apresiasi Generasi muda yang tidak mengalami umur 25 ke bawah juga perlu tau," ungkapnya. 


Jadikan Imlek Ajang Silaturahmi Lintas Agama


Tahun Baru Imlek bagi warga etnis Tionghoa merupakan ajang silaturahmi lintas agama. Semua pemeluk agama keturunan Tionghoa dapat tetap bersilaturahmi antara satu dengan yang lain. Pada Tahun Baru Imlek, biasanya keluarga-keluarga Tionghoa berkumpul.


"Imlek bukan perayaan agama melainkan sebagai warisan tradisi dan budaya lintas agama. Sejarah Imlek dimulai Kaisar Wu dari Dinasti Han di China, setelah dinasti-dinasti sebelumnya gagal menciptakan sistem penanggalan yang bisa digunakan di seluruh China," ungkapnya. 


"Seluruh masyarakat Tionghoa akan berkumpul bersama dan melakukan banyak tradisi yang sarat makna. Tahun Baru Imlek akan menjadi tradisi dan perayaan hari besar yang dirayakan dengan penuh sukacita," pungkas dia.