PPM Manajemen Perkenalkan ETHOZ
AKURATNEWS.ID, JAKARTA — Membangun integritas di tempat kerja tidak cukup hanya dengan menetapkan kode etik dan aturan kepatuhan. Organisasi juga perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang mengambi keputusan etis, termasuk ketika menghadapi tekanan pekerjaan, tuntutan target, maupun hierarki jabatan.
Berangkat dari tantangan tersebut, PPM Manajemen memperkenalkan ETHOZ (Ethical Humancentric Organization), sebuah kerangka diagnostik untuk membantu organisasi memahami kondisi yang mendukung budaya etis dan lingkungan kerja yang berpusat pada manusia. Pendekatan ini diperkenalkan dalam sesi Interactive Lab bertema antikorupsi dan integritas organisasi pada rangkaian Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Bali, 20–22 Oktober 2026.
ETHOZ dikembangkan melalui integrasi perspektif dan pendekatan riset dari dua pusat kajian PPM Manajemen, yaitu PEBOSS (Pusat Etika dan Budaya Organisasi Soedarpo Sastrosatomo) dan CHCD (Center of Human Capital Development). Pengembangannya menghubungkan kajian etika dan budaya organisasi dengan perspektif pengelolaan sumber daya manusia yang menempatkan manusia sebagai bagian penting dari sistem kerja.
Pendekatan ini menggabungkan budaya etis dan lingkungan kerja yang berpusat pada manusia untuk membantu organisasi mengidentifikasi kondisi yang mendukung perilaku berintegritas
Model ETHOZ juga telah tercatat dalam administrasi hak cipta Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), dengan PPM Manajemen sebagai pemegang hak cipta dan nomor pencatatan 001534245.
“Organisasi tidak cukup hanya memastikan bahwa karyawannya mengetahui apa yang benar. Organisasi juga perlu membangun kepemimpinan, sistem, dan praktik kerja yang mendukung mereka untuk mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari,” ujar Eva Phasa Purpadita, Koordinator PEBOSS-PPM Manajemen.
ETHOZ menggabungkan dua perspektif utama, yakni Ethical Culture dan Human-Centric Work. Perspektif pertama menelaah bagaimana nilai dan standar etika diterapkan melalui keteladanan pemimpin, pengambilan keputusan, serta praktik integritas sehari-hari.
Sementara itu, perspektif kedua mengkaji sejauh mana lingkungan kerja menghargai martabat manusia, memberikan ruang bagi karyawan untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapat, serta mendukung kebermaknaan dan pengembangan diri.
Kedua perspektif tersebut diterjemahkan ke dalam enam dimensi diagnostik, yaitu Ethical Foundation, Internalization, Ethical Practice, Humanistic Values, Work Design, dan Employee Thriving. Dimensi-dimensi ini membantu organisasi menelaah sejumlah aspek mendasar, mulai dari konsistensi keteladanan pemimpin dan penerapan standar etika hingga keamanan karyawan dalam menyampaikan kekhawatiran serta kesempatan untuk berkembang di tempat kerja.
Pengembangan ETHOZ didukung oleh riset ECHI–HCO yang melibatkan 444 responden dengan instrumen yang telah tervalidasi. Para responden memiliki latar belakang yang beragam, mencakup kategori jabatan, masa kerja, tingkat pendidikan, sektor industri, dan wilayah kerja. Mereka berasal dari 17 sektor industri dan 17 wilayah kerja, sehingga memberikan konteks empiris yang beragam bagi pengembangan pendekatan diagnostik tersebut.
Dalam sesi Interactive Lab di GEF 2026, peserta diajak mengeksplorasi hubungan antara kondisi organisasi dan keputusan etis melalui studi kasus serta pengisian instrumen diagnostik.
Untuk menyesuaikan dengan waktu sesi, digunakan versi ringkas yang terdiri atas 12 pernyataan yang mewakili enam dimensi ETHOZ. Hasilnya menjadi bahan diskusi untuk mengidentifikasi aspek yang relatif kuat, potensi kerentanan, dan kondisi organisasi yang perlu ditelaah lebih lanjut.
“ETHOZ bukan sertifikasi kepatuhan maupun label untuk menentukan apakah suatu organisasi baik atau buruk. Kerangka ini merupakan alat bantu diagnosis untuk mendukung refleksi, diskusi, dan penentuan prioritas perbaikan organisasi,” jelas Eva.
Melalui ETHOZ, PPM Manajemen mengangkat pentingnya melihat integritas tidak hanya dari pengetahuan individu tentang benar dan salah, tetapi juga dari kondisi organisasi yang memengaruhi tindakan sehari-hari.
Dengan memahami hubungan antara budaya etis, kepemimpinan, dan sistem kerja, organisasi memiliki landasan untuk menentukan aspek yang perlu dipertahankan, diperkuat, atau diperbaiki agar nilai integritas dapat diwujudkan dalam praktik.




Posting Komentar