Dr. dr. Renni Yuniati Menyatukan Pendidikan, Riset Kusta, dan Industri Kosmetik Bersertifikat Cosmobeauté Indonesia
AKURATNEWS.ID, JAKARTA – Industri kosmetik Indonesia tengah
menghadapi paradoks yang jarang dibicarakan: negeri ini kaya bahan alam, tetapi
sebagian besar bahan baku, kemasan, dan formulasi masih didatangkan dari luar.
Di tengah persoalan struktural itu, muncul sosok yang bergerak dari hulu ke
hilir—seorang dokter spesialis kulit yang tidak hanya mengabdikan diri di ruang
praktik, tetapi juga membangun pabrik kosmetik bersertifikasi, meneliti kusta
hingga ke forum internasional, dan mencetak generasi dokter wirausaha.
Dialah Dr. dr. Renni Yuniati, Sp.D.V.E., Subsp.D.T., FINSDV,
FAADV, M.H., pakar dermatologi dan venereologi dengan subspesialisasi
dermatologi tropik, yang kini menjadi kandidat penghargaan Dokter Pendidik,
Peneliti, dan Wirausahawan Berprestasi.
Lahir di Solo, 23 Juni 1972, Renni menempuh pendidikan
kedokteran di FK UNS Surakarta (lulus 1997), melanjutkan spesialisasi kulit dan
kelamin di FK Undip (lulus 2008), lalu menambah kompetensi dengan
subspesialisasi Dermatologi Tropik.
Ia bahkan mengambil S2 Magister Hukum untuk memahami
regulasi kesehatan dan bisnis, sebelum meraih gelar doktor dari Universitas
Diponegoro. Fellowship internasional pun diraih: FINSDV dan FAADV. Saat ini, ia
aktif sebagai dokter spesialis konsultan di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RSND
Universitas Diponegoro, sekaligus dosen tetap FK Undip sejak 2016.
Kiprahnya semakin relevan di tengah gelaran Cosmobeauté
Indonesia 2026—pameran bisnis kecantikan terbesar ke-19 di Indonesia yang
diselenggarakan pada 1–3 Oktober 2026 di Hall 5–9, Indonesia Convention
Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, pukul 10.00–19.00 WIB. Menempati area
25.000 m² dengan lebih dari 600 perusahaan dan 1.550+ merek, pameran ini
menampilkan sektor kosmetik dan skincare, perawatan rambut dan kuku, estetika
dan kesehatan (spa & wellness), teknologi kecantikan, AI, dental
aesthetics, hingga rantai pasok, kemasan, dan maklon. Lebih dari 60 agenda
pendukung—seminar, workshop, dan demonstrasi langsung—serta fasilitas gratis
seperti cek kulit, penataan rambut, dan layanan antar-jemput bagi pengunjung
terdaftar, menjadikannya ruang temu strategis bagi pelaku industri nasional.
Di ajang inilah gagasan Renni tentang kemandirian bahan baku
menjadi kian relevan. Ia menyoroti ironi industri kosmetik Indonesia.
"Kita masih minim industri bahan baku. Artinya, kalau kita ingin maju, ya
kita harus menasionalisasikan industri bahan baku supaya kita bisa
mengambilnya," ujarnya dalam sebuah forum diskusi. "Bahan baku sangat
banyak, tapi tidak ada, sedikit. Jadi yang belinya tanaman dari Indonesia, juga
dari Korea, Perancis, Spanyol, kita sudah gram-graman harganya, jadi
repot," keluhnya. Menurutnya, Indonesia masih langka perusahaan yang memproduksi
bahan baku, kemasan, dan formulasi secara mandiri. "Kemasan pun juga dari
Cina," tambahnya.
Mendidik Calon Dokter Wirausaha
Sebagai pendidik, Renni tidak sekadar mengajar dermatologi.
Ia adalah pengajar utama dan inisiator Course Elektif Doctorpreneurship di FK
Undip—sebuah terobosan yang membekali mahasiswa kedokteran dengan ilmu
kewirausahaan. Ia juga aktif membimbing karya tulis ilmiah, tesis, dan
disertasi.
Kepeduliannya pada pengembangan ilmu terlihat dari perannya
sebagai narasumber Sawit Academy Episode UNDIP 2025, yang membahas hilirisasi
sawit menjadi sunscreen alami. Gagasan ini sejalan dengan visinya tentang
pentingnya kemandirian bahan baku nasional—sebuah tema yang semakin relevan di
tengah gelaran Cosmobeauté Indonesia 2026 yang menampilkan sektor rantai pasok,
kemasan, dan maklon.
Meneliti Kusta hingga Barcelona
Di dunia riset, nama Renni telah menembus panggung global.
Fokus penelitiannya adalah dermatologi tropik—terutama kusta atau Morbus
Hansen, penyembuhan luka, dan inovasi bahan alami.
Per Maret 2026, metrik penelitiannya tercatat: Google
Scholar 62 artikel, 200 sitasi, H-Index 8; Scopus 19 artikel, 57 sitasi,
H-Index 5; serta SINTA Score Overall 808. Publikasi internasionalnya tersebar
di jurnal Scopus Q2–Q4, termasuk Leprosy Review (2026) dengan artikel berjudul
"Bridging the gap: A VR conceptual framework in dermatology for leprosy
diagnosis training".
Ia juga meneliti ekstrak ikan gabus (Channa striata) untuk
ulkus tropik pada kusta, dan ekstrak Clitoria ternatea untuk reaksi lepra.
Sebagai ketua peneliti, ia memimpin berbagai hibah BIMA dan FK Undip, seperti
validasi in silico dan in vitro senyawa bioaktif dari Centella asiatica sebagai
inhibitor Mycobacterium leprae (2025), serta efikasi ekstrak Curcuma longa dan
Moringa oleifera sebagai terapi adjuvan ulkus kusta (2025).
Kontribusinya juga diakui di forum internasional. Ia menjadi
oral presenter di 7th International Conference on Dermatology and Cosmetology
(IDC 2026) di Barcelona dengan topik "Latest innovations in leprosy
diagnosis and therapy", serta pembicara utama di 22nd International
Leprosy Congress (ILC 2025) di Bali Nusa Dua dengan topik "Invisible
Scars: The Silent Impact of Leprosy on Indonesian Quality of Life and
Strategies for Eradication Through Adaptation".
Inovasinya telah dipatenkan. Pada 2020, ia meraih dua paten:
formula kombinasi ekstrak Holothuria scabra dan Ozonated Virgin Coconut Oil
sebagai agen antiinflamasi topikal, serta formula ekstrak Holothuria scabra dan
Spirulina platensis untuk tujuan serupa. Ia juga menulis buku ajar Lepra,
Dermatomikosis, Kusta, dan Pedoman Strategi Eradikasi Kusta (2019).
Membangun Pabrik Kosmetik Bersertifikat
Yang membedakan Renni dari kebanyakan akademisi adalah
kemampuannya menerjemahkan ilmu menjadi usaha nyata. Melalui PT Muntira
Kosmeditama (Munkos), perusahaan manufaktur dan maklon skincare yang
dirintisnya sejak 2006 dan memiliki pabrik di Kudus sejak 2011, ia membuktikan
bahwa dokter bisa menjadi wirausahawan.
Munkos telah mengantongi sertifikasi CPKB Grade A dari BPOM,
lisensi kosmetik resmi (2021), dan Sertifikat Halal (2024). Perusahaan ini
memberdayakan masyarakat lokal dan menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang
lebih luas: Muntira Skin Care (klinik di Semarang), Apotek Ummi.
"Harapannya kita berkontribusi untuk meningkatkan
kualitas kosmetik Indonesia menjadi barometer untuk pengembangan dan
pengangkatan bahan alam yang lebih bagus. Kita bisa menjadi leader di bidang
bahan alam di Indonesia," ujarnya.
Dalam konteks Cosmobeauté Indonesia 2026, keberadaan Munkos
sebagai perusahaan maklon bersertifikat CPKB Grade A menjadi bukti bahwa
ekosistem kosmetik nasional memiliki aktor yang mampu bersaing di rantai pasok
global—sebuah posisi yang jarang dimiliki dokter yang juga berperan sebagai
akademisi.
Mengedukasi Publik tentang Klinik Kecantikan yang Benar
Sebagai dokter kulit, Renni juga vokal mengedukasi publik
tentang pentingnya memilih klinik kecantikan yang sesuai aturan. "Sesuai
dengan aturan pemerintah, jadi dia memang sudah kompetensinya. Kalau dia sudah
ada bukti kompeten, ya silahkan berpraktek," jelasnya.
Ia menekankan perbedaan mendasar antara obat dan kosmetik.
"Kalau obat disuruh bebas itu ilegal, kan meracikan. Itu obat, gak boleh,
karena eksamennya kan besar. Kalau kosmetik, enggak ada masalah. Kalau itu ada
notifikasi BPOM," paparnya.
Menurutnya, klinik kecantikan yang benar harus didampingi
dokter, terutama dokter kulit. "SPDB itu kan yang paling kompeten untuk
kulit," tegasnya.
Inovator Strategi Zero Leprosy
Di luar dunia medis dan bisnis, Renni aktif dalam organisasi
profesi dan pengabdian masyarakat. Ia menjabat sebagai Humas IDI Wilayah Jawa
Tengah, Anggota Bidang Humas PB IDI (2025–2028), dan Kabid Pengabdian
Masyarakat KSMHI PERDOSKI. Ia juga Ketua LKNU Kabupaten Kudus (2024–2029),
Pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Provinsi Jawa Tengah
(2025–2030), serta Ketua Dharma Wanita RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.
Yang tak kalah penting, ia merumuskan strategi pemberantasan
kusta dengan melibatkan tokoh agama—kyai, imam, pastor—untuk menghapus stigma
sosial. Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa kusta bukan hanya persoalan
medis, tetapi juga sosial.
Harapan pada Generasi Muda
Renni berpesan kepada anak muda agar tidak berhenti menjadi
penonton. "Anak muda itu jangan merasa sudah cukup. Mereka kan katanya
hanya melihat, tidak menjadi pelaku. Nah, kalau jadi pelaku ya memang harus
bangun sendiri," ujarnya.
Ia juga mendorong kolaborasi lintas disiplin.
"Bagaimana kita melibatkan ilmuwan di bidang kimia, di bidang farmasi
untuk memberikan kontribusi bahan alam yang menjadi unggulan di
Indonesia," harapnya.
Bagi Renni, menjadi dokter bukan hanya tentang menyembuhkan
pasien. Ia adalah pendidik yang mencetak generasi, peneliti yang menghasilkan
inovasi global, dan wirausahawan yang menciptakan lapangan kerja. Sinergi tiga
pilar ini menjadikannya sosok langka—dan sangat layak menerima penghargaan
tertinggi sebagai Dokter Pendidik, Peneliti, dan Wirausahawan Berprestasi.

Posting Komentar