Negara Sedang Ke Mana? Ketika Rakyat Menunggu Kepastian, Pemerintah Sibuk Memberi Kejutan
Oleh: Muhammad Akbar
Maulana (Akademisi Universitas Pamulang, Program Studi Ilmu Pemerintahan)
Belakangan ini,
masyarakat seperti terus-menerus dibuat terkejut. Harga Pertamax naik di tengah
malam ketika sebagian besar rakyat sedang tidur. Keesokan harinya, pemerintah
sibuk memberikan penjelasan. Pola seperti ini bukan sekali dua kali terjadi.
Kebijakan muncul lebih dulu, komunikasi menyusul kemudian.
Akibatnya, yang lahir
bukan kepercayaan, melainkan kecurigaan.
Masyarakat mulai
bertanya-tanya, mengapa kebijakan yang menyentuh kebutuhan publik justru sering
terasa seperti keputusan mendadak? Mengapa pemerintah selalu terlihat reaktif
setelah kritik bermunculan? Seolah-olah yang dikelola bukan persepsi publik
sebelum kebijakan dibuat, tetapi kerusakan kepercayaan setelah kebijakan
diprotes.
Di saat yang sama,
rakyat juga disuguhi narasi efisiensi anggaran. Namun di lapangan, banyak yang
masih bingung efisiensi ini sebenarnya diarahkan ke mana. Sebagian program
dipangkas, sejumlah kegiatan dibatasi, tetapi manfaat nyatanya belum
benar-benar dirasakan masyarakat.
Yang lebih
memprihatinkan, di berbagai daerah masih terdapat PPPK yang mengeluhkan
keterlambatan pembayaran hak mereka. Ironis. Negara begitu cepat menuntut
kinerja aparatur, tetapi pada saat yang sama belum sepenuhnya mampu memberikan
kepastian terhadap kesejahteraan mereka.
Padahal PPPK bukan
sekadar angka dalam laporan birokrasi. Mereka adalah guru, tenaga kesehatan,
dan pegawai pelayanan publik yang menjadi ujung tombak negara di lapangan.
Di tengah situasi
tersebut, publik juga mulai memperhatikan fenomena lain yang cukup menarik.
Nama Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, justru lebih sering muncul dalam
berbagai agenda strategis pemerintahan dibanding Wakil Presiden Gibran
Rakabuming Raka.
Tentu setiap jabatan
memiliki fungsi dan peran yang berbeda. Namun dalam politik, persepsi sering
kali sama pentingnya dengan realitas. Ketika publik lebih sering melihat
aktivitas seorang pejabat non-politik dibanding wakil presiden yang dipilih
langsung oleh rakyat, maka pertanyaan mengenai efektivitas distribusi peran
dalam pemerintahan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Satu per satu persoalan
ini mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Tetapi ketika muncul secara
bersamaan, ini membentuk akumulasi keresahan publik.
Harga kebutuhan hidup
naik. Lapangan pekerjaan belum sepenuhnya pulih. Daya beli masyarakat masih
tertekan. Sementara itu, komunikasi pemerintah sering terlambat dan kebijakan
terasa kurang memiliki arah yang jelas di mata masyarakat.
Inilah yang sebenarnya
menjadi masalah utama. Bukan semata kenaikan harga BBM, bukan sekadar isu PPPK,
dan bukan pula soal siapa yang lebih sering tampil di depan publik.
Masalahnya adalah
kepercayaan.
Masyarakat ingin melihat
pemerintah yang mampu memberikan kepastian, bukan kejutan. Masyarakat ingin
melihat arah kebijakan yang jelas, bukan sekadar respons setelah kritik
bermunculan. Dan masyarakat ingin merasakan bahwa negara benar-benar hadir
untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya menjelaskan mengapa masalah itu
terjadi.
Karena sebetulnya rakyat
tidak menuntut negara menjadi sempurna. Rakyat hanya ingin diyakinkan bahwa
pemerintah tahu ke mana arah bangsa ini dibawa.
Jika kepastian itu tidak
kunjung terlihat, maka yang akan terus tumbuh bukan optimisme, melainkan
pertanyaan yang semakin keras terdengar dari bawah, sebenarnya negara sedang
berjalan ke mana?

Posting Komentar