Kita Kembali atau Dijajah
Yudhie Haryono | CEO Nusantara Centre
Perang itu memberi banyak pelajaran. Terutama perang Iran
melawan imperialisme Amerika dan Zionisme Israel. Apa pelajaran utamanya?
Kekuatan jati diri sebuah bangsa. Jati diri yang membentuk perlindungan
pikiran, cita-cita, sistem, wilayah, kehormatan, strategi dan kepentingan
nasional.
Iran menunjukkan dengan gagah hal tersebut sehingga tak bisa
dijajah. Kita sebaliknya. Tanpa dikirim bom dan pasukan tempur, kita sudah
menyerah kalah. Bukti terbaik dari kekalahan tersebut adalah pergantian
konstitusi. Saat konstitusi kita dikudeta, elite tertawa.
Ya. Konstitusi adalah jati diri. Puncak-puncak pikiran,
perjuangan, cita-cita sekaligus metoda mencapainya. Itu juga disebut sistem
sendiri. Ia berisi karakter, nilai-nilai, keyakinan, perasaan, dan tujuan hidup.
Saat ia dirubah dan dikudeta, semua keindonesiaan kita roboh dan lumpuh.
Dus, fungsi jati diri sangat penting dalam bernegara.
Pertama, sebagai rujukan dalam mengambil keputusan politik dan publik. Saat
membikin UU, program pembangunan, kebijakan luar negeri, atau acara kenegaraan,
acuannya harus berlandaskan kejatidirian.
Kedua, sebagai pemersatu-pengikat rakyat yang
pluralis-majemuk. Tanpa ikatan yang kuat, kita mudah tercerai berai, lemah dan
dipecah belah. Ketiga, sebagai tameng dan perisai dari penjajahan luar dan
dalam yang destruktif. Keempat, sebagai modal diplomasi mempertegas posisi di
dunia. Dengan jati diri yang kokoh, kita pasti disegani karena punya prinsip
dan tidak jadi negara “ikut-ikutan; jadi-jadian.”
Kelima, sebagai sumber kebanggaan dan identitas kenegaraan.
Tanpa jati diri, negara kita hanya sekumpulan orang yang tinggal di pulau yang
sama. Keenam, sebagai penjaga keberlangsungan negara. Rezim dan penguasa bisa
jatuh, tapi kalau jati diri kuat, negaranya tetap hidup.
Yang jelas, jati diri sinonim dengan DNA negara. Ia
berfungsi buat nyetir arah, ngikat warga, nahan gempuran luar-dalam, dan kasih
alasan kenapa negara ini harus hadir. Ia membentuk komunitas imajinatif
sekaligus epistemik.
Tetapi, sejak konstitusi dikudeta, di mana sistem asli dalam
bentuk MPR, ia dikebiri secara struktural dari lembaga rakyat tertinggi menjadi
lembaga biasa. Kita tahu, MPR adalah komisaris (pemilik) negara, sedangkan
presiden dkk hanya direksi (pelaksana). Akibatnya, kontrol terhadap Presiden
dkk hilang.
Karena MPR disfungsi, maka kita kehilangan GBHN. Tanpa GBHN,
arah pembangunan hilang, bipolaristik, terjebak hutang besar, tertipu investasi
asing (asong dan aseng), bahkan bertradisi KKN.
Lalu, kudeta itu merubah sistem politik dari sistem
demokrasi perwakilan/permusyawaratan ke sistem demokrasi langsung/voting yang
mahal, beresiko tinggi, membelah rakyat di mana keburukan dan kecurangan begitu
masif; saling fitnah; pemborosan; penyogokan; perpecahan karena mengabsenkan
prinsip musyawarah dan gotong-royong.
Dengan aksiologi itu, lembaga dan agensi keamanan, hukum dan
birokrat yang harus netral, ikut rusak dan merusak karena membela satu golongan
sambil memusuhi yang lainnya. Mereka membela yang bayar, bukan membela yang
benar dengan menegakkan hukum dan keadilan.
Dus, kudeta ini juga membawa asas kapitalisme dan
liberalisme yang bertentangan dengan pikiran para pendiri republik. Asas ini
mentradisikan budaya liberal (individualisme, materialisme, konsumtifisme,
hedonisme, premanisme) dan mental kapitalis (serakahnomic, jahat, merusak) yang
menghancurkan nasionalisme, keamanan dan kepentingan nasional, spiritualisme,
kekeluargaan dan tradisi asli plus hibridasi.
Kita hampir terjajah di semua sektor: ipoleksos dan
budhankam. Dari perubahan pasal 6A (1-2), pasal 22E (3) dan pasal 33 misalnya,
kita mendapati perilaku yang terdampak kehidupan dijajah. Harga kuliah mahal
(padahal nganggur saat lulus), pupuk mahal karena mafia, alat elektronik mahal
karena ketergantungan impor, pajak mencekik padahal pendapatan suram, tetapi
kehidupan elite politik dan oligark sangat nyaman.
Atas alasan itulah menjadi kewajiban kita semua untuk
kembali ke sistem yang diwariskan pendiri republik, UUD45 yang disahkan 18
Agustus 1945. Ini merupakan konstitusi yang melenyapkan dan menghapuskan
penjajahan dalam segala wajah. Inilah konsensus politik berwajah dan bermental
jati diri bangsa: pancasila.


Posting Komentar