Firnando Ganinduto Anggota Komisi VI DPR RI Kritik Keras Manajemen KAI

Ilustrasi Kecelakaan Kereta Api/Foto. ChatGPT/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA – Insiden tabrakan antara kereta
komuter line di daerah Bekasi Timur oleh Argo Bromo Anggrek yang menimbulkan
korban jiwa dan puluhan luka-luka memicu perhatian serius terhadap tata kelola
keselamatan transportasi perkeretaapian nasional. Peristiwa ini tidak hanya
menjadi tragedi kemanusiaan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar terkait
kualitas manajemen operasional dan sistem keselamatan yang diterapkan oleh PT
Kereta Api Indonesia (Persero).
Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, menyampaikan
duka mendalam dan keprihatinan atas jatuhnya korban meninggal dan luka luka
dalam kecelakaan tersebut. Dan menghimbau kepada masyarakat tetap mengacu pada
informasi yang akurat dari pemerintah. Dalam hal ini juga firnando menilai
bahwa insiden ini merupakan indikasi kuat adanya kegagalan sistemik dalam
manajemen operasional yang seharusnya mampu mencegah tabrakan antar kereta di
jalur yang sama.
Menurut Firnando Sebagai mitra KAI dikomisi VI DPR RI
menilai, salah satu aspek paling krusial yang harus dievaluasi adalah sistem
KRL tidak mampu mendeteksi keberadaan kereta yang sedang berhenti di depannya.
Dalam sistem perkeretaapian modern, keberadaan teknologi
seperti automatic signaling, train protection system, hingga fail-safe
mechanism seharusnya dapat mencegah terjadinya tabrakan, bahkan dalam kondisi
human error sekalipun. Ketidakmampuan sistem dalam mengantisipasi kondisi
tersebut menunjukkan adanya celah serius dalam integrasi teknologi dan
pengawasan operasional.
Lebih lanjut, Firnando menyoroti tanggung jawab manajerial
di tingkat tertinggi, termasuk Direktur Utama KAI. Firnando menegaskan bahwa
dalam perspektif tata kelola BUMN, kegagalan yang berdampak fatal seperti ini
tidak dapat semata-mata dibebankan pada level teknis di lapangan.
“Ada pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengawasan,
kesiapan sistem keselamatan, serta standar operasional yang diterapkan. Ini
adalah tanggung jawab manajemen puncak, kami mendesak dirut KAI untuk
mengudurkan diri”, tegasnya.
Firnando juga menilai bahwa kejadian ini mencerminkan
lemahnya implementasi manajemen keselamatan (safety management) yang seharusnya
menjadi prioritas utama dalam industri transportasi publik. Ia menekankan bahwa
keselamatan tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif, melainkan harus
terintegrasi dalam setiap lini operasional, mulai dari perencanaan perjalanan,
pengaturan sinyal, hingga pengendalian lalu lintas kereta secara real-time.
Selain itu, ia mendorong dilakukannya audit menyeluruh
terhadap manajemen operasional KAI, termasuk evaluasi terhadap sistem
komunikasi antar stasiun, prosedur pemberhentian darurat, serta keandalan
teknologi deteksi dan pengendalian kereta. Menurutnya, Komite Nasional
Keselamatan Transportasi (KNKT) harus beritndak secara transparans dari hasil
investigasi untuk mengembalikan kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa
kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Firnando menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi momentum
bagi KAI untuk melakukan reformasi serius dalam sistem keselamatan
transportasi. Dengan meningkatnya volume penumpang dan frekuensi perjalanan
kereta, kebutuhan akan sistem yang lebih canggih, responsif, dan berlapis menjadi
tidak terelakkan. “Keselamatan publik adalah prioritas utama. Tidak boleh ada
kompromi dalam hal ini,” pungkasnya.

Posting Komentar