Evaluasi Kemitraan Kehutanan Perhutani Dukung BPHL Wilayah VII Ciamis

Kegiatan Evaluasi Kemitraan Kehutanan/Foto. Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID,
BANDUNG -
Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara bersama Balai
Pengelolaan Hutan Lindung (BPHL) Wilayah VII Ciamis melaksanakan kegiatan
evaluasi kemitraan kehutanan dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tani
Mukti Giri Jaya, Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut
berlangsung di kawasan hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Arcamanik, Bagian
Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Manglayang Barat, dalam keterangan yang
diterima pada Senin (13/4/2026).
Kegiatan
ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi pengelolaan hutan
berbasis masyarakat, sekaligus membuka peluang pemanfaatan potensi jasa
lingkungan, salah satunya melalui budidaya tanaman kopi.
Kemitraan
kehutanan merupakan skema kerja sama resmi antara Perhutani dan masyarakat desa
hutan melalui wadah LMDH. Skema ini bertujuan memberikan kepastian hukum dalam
pemanfaatan kawasan hutan secara lestari. Melalui kemitraan tersebut,
masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi dari usaha agroforestri, wisata
alam, maupun produk hasil hutan bukan kayu, dengan tetap menjaga fungsi
ekologis hutan.
Administratur
KPH Bandung Utara, Deden Yogi Nugraha, menyampaikan dukungan Perhutani atas
fasilitasi yang dilakukan oleh BPHL. Komitmen kemitraan kehutanan memberikan
ruang bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga hutan sekaligus
memanfaatkannya secara bijak.
“Dengan adanya penyusunan
kemitraan ini, kami berharap LMDH Tani Mukti Giri Jaya dapat mengembangkan
wisata dan budidaya tanaman kopi yang aman, terkelola dengan baik, serta
memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Deden.
Perwakilan
BPHL Wilayah VII Ciamis, Meiza Amalia, menegaskan bahwa pihaknya berperan
sebagai fasilitator yang menjembatani Perhutani dan masyarakat.
“Kemitraan
kehutanan harus menjadi payung kolaborasi yang adil, transparan, dan
berkelanjutan. Kami mendorong LMDH Tani Mukti Giri Jaya agar mampu membangun
tata kelola jasa lingkungan yang sesuai dengan regulasi sehingga manfaatnya
dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Meiza.
Melalui
penyusunan kemitraan kehutanan ini, diharapkan tercipta kesepahaman bersama
dalam pengelolaan jalur wisata pendakian Setlerep via Kejajar. Selain memperkuat
ekonomi masyarakat desa hutan, inisiatif ini juga menjadi bentuk nyata
keterlibatan mereka dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus mengelola potensi
alam secara bijaksana.

Posting Komentar