Uang: Tuhan Berwujud Benda
![]() |
| Resensi Buku Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre |
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Orang terjenius sepanjang masa adalah penemu uang. Orang tercerdik di dunia adalah penemu kurs bebas. Orang terzalim se alam raya adalah oligarki serakah pengumpul uang. Orang miskin adalah mereka yang tak punya uang. Tetapi, semua punya persamaan riil: mereka menyembah tuhan uang. Lalu, kalian orang apa di semesta ini?
Aku menemukan buku ajib ini tak sengaja. Saat merancang mata
kuliah uang, utang dan perang. Di pojok mall langgananku kongkow menyembul
mencolok buku ini. Tanpa niat membeli buku pada awalnya, tetapi karya ini
membetot mata dan menguras dompetku yang tinggal selembar merah seratus ribu.
Aku terhipnotis dan berhasrat yang tidak tak tertahankan.
Buku keren ini lahir dengan menggunakan pendekatan sejarah
dan bahkan mitologi. Dengan dua metoda riset itu, Crawford menelusuri sejarah,
kisah, mitos, dan bahkan legenda untuk menunjukkan bagaimana pandangan terhadap
uang terbentuk dan bertahan lama. Kisah purba yang tidak dipahami banyak orang.
Dunia sejak lama hanya dibagi dua: (1)Yang banyak uang/kaya;
(2)Yang banyak utang/miskin. Dunia juga terpapar dua hal: fiskal dan moneter.
Dunia juga pada akhirnya diperkosa oleh dua pikiran: valaster dan supremuster.
Rezim valas (juga devisa bebas) adalah ordo bermadzab
perdagangan internasional dan kontrol negara via perang mata uang oleh kekuatan
keuangan internasional. Rezim inilah pelaku utama "the colonialism did not
end..."
Karena itu, valas digunakan sebagai alat tukar internasional
juga untuk transaksi jual beli barang dan jasa antar negara sekaligus kontrol
nilai uang yang signifikan. Di rezim ini, rukun imannya adalah pasar bebas,
devisa bebas, kurs bebas, utang, gadai.
Sedangkan rezim supremuster berpikir sebaliknya bahwa
kebijakan harus dilakukan dengan basis kedaulatan negara dan kedaulatan uang,
menetapkan tingkat pertumbuhan uang untuk menjaga stabilitas perekonomian dan
harga, sambil memproduksi industri dan iptek secara luas.
Karena itu rukun imannya adalah pasar terkelola, devisa
berimbang, kurs tetap, printing money dan SWF (Sovereign Wealth Fund). Yang
jadi soal, pasca orde lama dan orde baru, pikiran-pikiran supremuster
dihilangkan dan diharamkan.
Mengapa itu terjadi? Sebab, reformasi di kita, salah satunya
adalah menghadirkan rezim finansial ini sebagai pengganti rezim hibrida yang
memberlakukan valas dan moneter dengan terukur. Satu rezim yang memastikan
berlakunya sistem ekonomi perbudakan.
Di buku ini, penulis juga menelusuri legenda kata money.
Menurutnya, money berasal dari kisah Dewi Moneta atau Juno Moneta (hlm. 13). Ia
adalah dewi Romawi kuno yang disembah sebagai pelindung keuangan dan percetakan
uang, dengan kuil utamanya di Bukit Capitoline, Roma, yang didirikan pada 344
SM.
Nama "moneta" berasal dari bahasa Latin monere
(mengingatkan/menasihati) dan tempat kuil tersebut digunakan sebagai bengkel
koin, yang akhirnya menjadi akar kata untuk uang (money) dalam berbagai bahasa.
Membaca buku ini adalah membaca psikologi manusia yang kini
menyembah tuhan baru: angka pada benda (koin maupun kertas). Karenanya, buku
ini membongkar asumsi tersembunyi manusia terhadap uang, dari zaman Raja Midas
hingga kartu kredit, membantu kita memahami hubungan emosional dan makna
terdalam uang dalam kehidupan.
Ya. Isi bukunya juga membahas sisi gelap manusia seperti
keserakahan dan utang, perang dan penjajahan juga dari sisi positif seperti
amal dan moral untuk mencapai keseimbangan.
Sebagai penulis, Tad Crawford berhasil membawa pembaca pada
perjalanan yang menarik untuk mengungkap sumber keinginan kita terhadap uang.
Tujuannya jelas, "dengan memahami mengapa uang memiliki
kekuatan untuk menguasai manusia, kita mendapatkan kekuatan untuk mengakhiri
pola yang merusak dengan menemukan kekayaan jiwa." Penulis ini memang jos.
Kita berhutang budi dan keseriusan padanya.
Judul Asli: The Secret Life of Money: Kisah Abadi tentang
Utang, Kekayaan, Kebahagiaan, Keserakahan, dan Amal.
Penulis: Tad Crawford.
Genre: Keuangan.
Penerbit: Gemilang Tangerang.
Cetakan: Mei 2023.
Ukuran: 15x23 cm.
Tebal: 296 hlm (2 cm).
Berat: 370 gr.
ISBN: 978-623-8036-06-6.
Harga: Rp. 95.000.
