
Menteri
Agama RI Nasaruddin Umar bersama Paus Leo XIV, di Vatikan Roma/Foto.
Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, VATIKAN - Di tengah dunia yang kian bising
oleh konflik, prasangka, dan klaim kebenaran yang saling meniadakan, sebuah
gestur sunyi dari Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, justru
menggema kuat di ruang batin lintas iman. Momen saat Menag RI mencium kepala
dan tangan Paus, lalu menyalakan Lilin Perdamaian di Roma pada 28 Oktober lalu,
dinilai sebagai pesan spiritual yang melampaui sekat agama.
Peristiwa tersebut berlangsung dalam peringatan 60 tahun
Dokumen Konsili Vatikan II Nostra Aetate, yang diselenggarakan komunitas awam
Sant'Egidio dan dihadiri Paus Leo XIV serta tokoh-tokoh lintas agama dunia.
Menag RI menjadi salah satu undangan kehormatan yang dipercaya menyalakan Lilin
Perdamaian, simbol dialog dan rekonsiliasi antarumat beragama.
Aktivis Gereja Katolik dan pemerhati dialog lintas iman, Dar
Edi Yoga, memaknai momen itu sebagai "bahasa iman yang paling jujur."
"Di saat agama sering dipakai untuk mengeras dan
memecah, Menag RI justru menghadirkan wajah iman yang lembut dan rendah hati.
Gestur mencium kepala dan tangan Paus bukan soal hierarki, melainkan pengakuan
bahwa para pemimpin agama adalah pelayan kemanusiaan," ujar Dar Edi Yoga,
Sabtu (3/1).
Ia menjelaskan, dalam tradisi spiritual lintas agama,
mencium kepala adalah simbol penghormatan terhadap kebijaksanaan, sementara
mencium tangan adalah pengakuan atas pelayanan. Karena itu, tindakan Menag RI
dinilai sebagai ekspresi teologis yang dalam, bukan simbol politik atau
seremoni diplomatik belaka.
"Ini bukan soal siapa lebih tinggi, tapi siapa lebih
tulus melayani perdamaian. Di situlah iman menemukan wajahnya yang
sejati," lanjutnya.
Menurut Dar Edi Yoga, Lilin Perdamaian yang dinyalakan Menag
RI juga memiliki makna universal. Cahaya, kata dia, selalu hadir sebagai simbol
kehadiran Tuhan dalam hampir semua tradisi agama.
"Api kecil itu adalah doa. Ia melawan gelapnya
kebencian, prasangka, dan kekerasan. Dunia hari ini tidak kekurangan khotbah,
tapi kekurangan teladan. Dan momen ini adalah teladan," tegasnya.
Ia menambahkan, kehadiran Indonesia melalui Menag RI di
forum internasional tersebut mengirimkan pesan moral yang kuat kepada dunia.
"Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman,
dialog bukan kelemahan, dan iman tidak lahir untuk memisahkan, tetapi untuk
menyatukan," katanya.
Dar Edi Yoga menilai, di tengah meningkatnya konflik global
yang kerap berlatar agama, momen di Roma itu menjadi pengingat bahwa Tuhan
tidak membutuhkan pembelaan dengan kemarahan, melainkan kesaksian melalui
kasih, akhlak, dan kerja nyata bagi perdamaian.
"Pada akhirnya, iman sejati tidak diukur dari seberapa
keras kita mengklaim kebenaran, tetapi seberapa dalam kita mampu mencintai
sesama. Lilin kecil di Roma itu mengingatkan dunia: cahaya Tuhan selalu cukup,
asal manusia mau merendahkan hati untuk menjaganya," pungkasnya.
