Mens Rea Membuktikan Humor Tidak Niscaya Lucu

Ilustrasi Panji Pragiwaksono di acara Mens Rea/Foto. Ist/akuratnews.id
Oleh: Jaya Suprana
Dari beberapa hasil penelitian Pusat Studi Humorologi dapat
disimpulkan bahwa pada hakikatnya humor tidak niscaya lucu. Keyakinan bahwa
humor niscaya lucu sama keliru dengan lukisan niscaya indah atau masakan
niscaya lezat. Humor, lukisan, masakan adalah kata benda sementara lucu, indah,
lezat adalah kata sifat. Pada kenyataan kata benda memiliki sifat yang bisa
positif bisa negatif bahkan bebas nilai sebab tidak lepas dari selera dan
tafsir pihak yang menilainya. Dan perlu diingat bahwa humor apabila
diulang-ulang rawan kehilangan kelucuannya sehingga bisa berubah menjadi
menjengkelkan bahkan memuakkan.
Sifat humor juga nisbi terkait ruang dan waktu. Misalnya
pada upacara pemakaman sebaiknya kita jangan berkisah humor tentang sang
jenazah apalagi keluarga jenazah yang dimakamkan. Memang jenazah mustahil
merasa tersinggung tetapi pihak keluarga yang sedang berduka mudah merasa
tersinggung oleh humor selucu apa pun.
Para politisi juga sensitif terhadap humor kecuali apabila
sasaran humor diarahkan ke lawan politik mereka. Wajar apabila para politisi dari parpol
tertentu yang tidak menjadi sasaran humor “Mens Rea” tidak merasa tersinggung
namun malah melindungi Panji Pragiwaksono dari kriminalisasi. Juga tidak semua
ulama setuju pernyataan Habib Rieziq bahwa “Mens rea” menista agama.
Humoris termasuk para komedian monolog alias stand-up comedy
pada hakikatnya merupakan kaum profesional yang mencari nafkah dengan
menggunakan humor. Kaum profesional tidak bisa lepas dari peraturan sosial yang
apabila tidak bersifat hukum minimal etika. Berarti mereka yang mencari nafkah
dengan menggunakan humor wajib mematuhi aturan tata-krama profesional yang
mengatur sikap dan perilaku mereka.
Sebagai penggagas dan penulis buku Humorologi, saya
menghargai keputusan Panji Pragiwaksono untuk menghentikan pergelaran “Mens
Rea” sebagai sebuah sikap arif bijaksana. Risiko menyinggung perasaan
(sebenarnya merupakan niat dasar mens rea yang dalam bahasa hukum memang
bermakna niat jahat) terlalu besar. Meski bisa juga dicurigai bahwa segenap
hujatan terhadap Mens Rea sebenarnya rekayasa yang disengaja manajemen
penyelenggara justru demi meningkatkan popularitas Panji Pragiwaksono. Makin
dihujat, makin tersohor !
Naga-naganya Panji Pragiwaksono cukup bijak untuk senantiasa
tidak lupa pada peribahasa sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga.
Selucu-lucu seorang komedian menampilkan humor akhirnya bisa menjadi tidak lucu
juga. Karena memang humor tidak niscaya lucu.