
Ilustrasi Tarian Penguin/Foto. Pixabay/akuratnews.id
Oleh: Jaya Suprana
Dari kata benda tari lahirlah kata kerja
menari, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai gerak tubuh
berirama, sering kali diiringi bunyi-bunyian. Pada hakikatnya, manusia mampu
menari karena memiliki kecerdasan mengolah gerak tubuh agar selaras dengan
irama pengiringnya.
Seni tari memang diciptakan oleh manusia.
Namun, bukan berarti ia menjadi monopoli manusia semata. Di alam, cukup banyak
makhluk hidup yang memperlihatkan perilaku menyerupai tarian gerak-gerak ritmis
yang memiliki fungsi tertentu, terutama dalam komunikasi dan reproduksi.
Burung cenderawasih, misalnya. Burung
jantan dari keluarga Paradisaeidae ini berkumpul di area tertentu dan
menampilkan pertunjukan yang memukau: melompat, memutar tubuh, mengayunkan
sayap, serta memamerkan bulu hiasnya. Gerakan tersebut menyerupai tarian ritual
untuk menarik perhatian betina dalam proses seleksi seksual.
Hal serupa terlihat pada burung merak (Pavo
cristatus). Sang jantan mengembangkan ekor panjangnya, menggoyangkannya, dan
berputar di hadapan betina. Ritual kawin ini menjadi ajang pamer kejantanan,
kesehatan, dan kualitas genetik.
Burung manakin (Pipridae) bahkan dikenal
melakukan tarian kelompok di atas cabang pohon. Mereka melompat, berputar, dan
menghasilkan bunyi “snap” dari sayapnya. Tarian ini berfungsi untuk menarik
pasangan sekaligus mempertahankan wilayah.
Di laut, lumba-lumba memperlihatkan
perilaku serupa. Mereka berenang melengkung, melompat tinggi, dan bermain di
permukaan air, terutama saat musim kawin atau dalam interaksi sosial. Gerakan
tersebut memperkuat ikatan sosial sekaligus menunjukkan vitalitas.
Beruang kutub pun tak ketinggalan. Pada
musim kawin, jantan kerap melakukan gerakan menyerupai tarian di atas es,
berputar, mengangkat kaki, dan mengayunkan tubuh, sebagai bentuk pamer dominasi
kepada betina.
Kuda liar, seperti kuda Przewalski, juga
mengekspresikan gerak ritmis melalui lari kencang dan angkatan kaki yang
teratur. Gerakan ini menjadi simbol kekuatan dan kesiapan reproduksi. Bahkan
serangga, seperti beberapa jenis lalat, melakukan “tarian udara” sebelum kawin,
sering kali sambil membawa hadiah bagi betina.
Di bawah laut, kura-kura laut jantan
berputar dan menggoyangkan cangkangnya untuk menarik perhatian pasangan. Lebah
madu pun terkenal memiliki “bahasa tari” sebagai sistem komunikasi untuk
memberi tahu sesamanya tentang sumber makanan.
Kesimpulannya, ketika satwa tampak
“menari”, bukan berarti mereka memahami musik atau irama seperti manusia.
Gerakan tersebut bersifat naluriah dan fungsional, dipicu oleh hormon,
kebutuhan komunikasi, reproduksi, dan seleksi alam. Istilah menari kita gunakan
secara antropomorfik untuk memudahkan pemahaman.
Alam, pada hakikatnya, telah menyediakan
tarian unik bagi setiap makhluk hidup. Bahkan dalam dunia fiksi, seperti film
Guardians of the Galaxy, sebatang kayu bernama Groot digambarkan gemar
menari—terutama ketika manusia tidak melihatnya. Meminjam lirik Ebiet G. Ade,
rumput pun bisa bergoyang seperti menari ketika ditiup angin sepoi-sepoi.
Karena sesungguhnya, menari adalah bahasa
semesta, bahasa kehidupan itu sendiri.
