
Jaya Suprana dalam gambaran Proses Batin Spiritual Sri Eko Sriyanto/Foto.Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Kitab spiritual Ma Ha Is Ma Ya
karya Sri Eko Sriyanto Galgendu lahir dari proses batin yang panjang dan
kontemplatif. Kitab ini tidak disusun dari imajinasi personal, melainkan dari
apa yang disebut Sri Eko sebagai bahasa Bhumi, sebuah rapalan atau paritta yang
ia tangkap dari laku hidup dan kehadiran tokoh-tokoh tertentu, salah satunya
budayawan Jaya Suprana.
Bahasa Bhumi tersebut tidak dituliskan secara literal
seperti bahasa sehari-hari. Sri Eko menerjemahkannya ke dalam bentuk doa,
syair, dan refleksi spiritual melalui kepekaan batin yang ia miliki. Dalam
konteks ini, Jaya Suprana tidak ditempatkan sebagai figur yang
"diangkat", melainkan sebagai sumber nilai dan energi pengabdian yang
diterjemahkan ke dalam teks spiritual.
"Bahasa Bhumi itu tidak berbunyi seperti kalimat biasa.
Ia hadir sebagai getaran nilai, lalu saya terjemahkan dalam bentuk doa dan ayat
perenungan," jelas Sri Eko, Rabu (21/1).
Sri Eko dikenal memiliki kemampuan membaca dan menafsirkan
bahasa Bhumi, bahasa simbolik yang diyakini memuat pesan tentang relasi manusia
dengan Tuhan, sesama, dan tanah air. Rapalan tersebut kemudian disusun menjadi
Ayat-Ayat Bhuwana yang menjadi inti kitab Ma Ha Is Ma Ya.
Salah satu ayat kunci dalam kitab tersebut berbunyi,
"Aku Berbakti dan Mengabdi." Menurut Sri Eko, kalimat itu merupakan
sari pesan Bhumi yang ia tangkap.
"Ini bukan soal ritual atau simbol keagamaan semata.
Berbakti dan mengabdi adalah sikap hidup, bekerja jujur, mencintai tanah air,
dan memberi tanpa pamrih," kata Sri Eko.
Dalam kitab tersebut, tanah air digambarkan sebagai ruang
hidup tempat manusia berpijak dan bertumbuh. Indonesia diposisikan sebagai
amanah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Dari kesadaran inilah,
pengabdian dipahami sebagai jalan spiritual yang membumi dan dekat dengan
kehidupan rakyat sehari-hari.
Sosok Jaya Suprana dalam Ma Ha Is Ma Ya digambarkan sebagai
pribadi pengabdi yang bekerja dalam diam. Nilai cinta budaya, kesetiaan pada
bangsa, serta konsistensi berkarya diterjemahkan Sri Eko ke dalam bahasa
spiritual Bhumi tanpa klaim kepemilikan pribadi.
Kitab ini juga merekam kegelisahan Jaya Suprana terhadap
realitas sosial seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan. Doa-doa yang
lahir dari kegelisahan tersebut diyakini memiliki kekuatan karena bersumber
dari empati dan kejujuran batin.
"Ketika kegelisahan itu jujur, doa menjadi hidup. Ia
tidak mengawang, tapi menyentuh kenyataan manusia," tulis Sri Eko dalam
salah satu refleksinya.
Sri Eko menegaskan bahwa kelahiran seseorang di suatu bangsa
adalah kehendak ilahi. Karena itu, pengabdian kepada tanah air merupakan bagian
dari ibadah. Jalan spiritual, menurutnya, tidak selalu berada di ruang sunyi,
melainkan hadir dalam tindakan nyata yang merawat kehidupan bersama.
Di bagian akhir kitab, Sri Eko kembali menegaskan posisinya
sebagai penerjemah, bukan pencipta nilai. Bahasa Bhumi, katanya, adalah milik
semesta, sementara manusia hanya bertugas menangkap dan menyampaikannya.
"Aku hanya menerjemahkan apa yang bumi bisikkan,"
tulis Sri Eko menutup perenungannya dalam Ma Ha Is Ma Ya.
