Notification

×

Iklan

Iklan

Kereen… Mantan Sales Promotion Girl ini Kuliah S2 di Stanford University

Jumat, 15 Maret 2024 | 10:52 WIB Last Updated 2024-03-15T03:52:19Z

 

Irawati Putri, mantan Sales Promotion Girl (SPG) yang lolos di 9 Kampus Top Dunia

AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Irawati Puteri lahir pada tanggal 10 Maret 1998. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya menjadi yatim piatu sejak usia sembilan tahun, yang mana pada saat itu harus berhenti sekolah. Sementara ibunya harus berhenti sekolah di usia enam belas tahun agar adik-adiknya bisa melanjutkan pendidikan. Ira menempuh pendidikan TK serta SD di Batanghari. Di mana sekolah tersebut merupakan sekolah swasta dengan jumlah murid yang relatif sedikit, yakni hanya delapan anak.

 

Selain itu, sekolah tersebut juga memberikan beasiswa kepada Ira. Ira kemudian melanjutkan sekolah menengah pertama di SMPK 1 BPK Penabur Jakarta. Ia aktif mengikuti berbagai lomba debat yang ada, Olimpiade Sains Nasional (OSN) serta menjadi jurnalis di Media Best. Setelah lulus, Ira melanjutkan studinya di SMAK 1 BPK Penabur Jakarta. Saat SMA, Ira mendapatkan potongan biaya pendidikan yang cukup besar karena prestasi yang Ia dapatkan.

 

Setelah lulus dari SMA, Ira memiliki tekad untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Di booth Chicken Nugget tempatnya bekerja, Ira selalu mengulang doa yang sama yaitu “Jika Saya hanya bisa memiliki akses ke satu keajaiban dalam hidup Saya, Saya akan mengambil kesempatan ini untuk masuk universitas.”

 

Ira merasa dirinya tidak akan mampu jika berkuliah di tempat swasta lantaran biaya yang cukup mahal. Sembari dirinya bekerja menjadi Sales Promotion Girl Chicken Nugget, Ira juga menyempatkan diri untuk belajar dari buku kilat seraya menggoreng nugget dan berjualan. Di tengah itu semua, Ia nekat mendaftarkan diri di Fakultas Hukum Universitas Indonesia berbekal pengalaman menang menjadi best speaker di kompetisi debat Sciencesational (diselenggarakan salah satu lembaga di Fakultas Hukum UI).

 

Uang hadiah yang didapat Ia gunakan untuk mendaftar Seleksi Masuk UI (SIMAK UI). Alhasil, Ira diterima di 2 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yakni Ilmu Hukum Universitas Padjajaran lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) serta Ilmu Hukum Universitas Indonesia lewat jalur SIMAK UI. Ira memilih untuk melanjutkan studinya di Universitas Indonesia.

 

Di perkuliahan, Ira mendapatkan beasiswa BCA serta mendapatkan Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BPO-B). Selain itu, Ira juga masih melanjutkan untuk bekerja serta mengajar les. Tak hanya fokus pada pekerjaan, Ira juga memperhatikan pendidikannya. Ia berhasil menorehkan beragam prestasi semasa di kampus di mana hadiah dari hasil lomba yang Ia ikuti Ia gunakan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Bahkan, Ira menjabat sebagai ketua di organisasi debat Fakultas Hukum UI. Berkat ketekunan dan kesungguhannya, di semester 7 Ira ditawari untuk bekerja di firma hukum. Hal tersebut Ia jalani sepenuh hati serta secara bersamaan hingga Ia lulus kuliah.

 

Kini, Ira sedang melanjutkan studinya di Stanford University jurusan International Comparative Education and Internasional Policy Analysis. Ia berhasil mendapat beasiswa penuh dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Fakta lainnya, Ira berhasil lolos di sembilan kampus top dunia, antara lain:

  1. Stanford University (Law school and Graduate school of Education)
  2. Harvard University
  3. University of Michigan
  4. Columbia University
  5. University of Chicago
  6. Cornell University
  7. University of California, Berkeley
  8. University of Pennyslvania
  9. New York University

 

Survive di Tengah Kondisi Ekonomi Keluarga

 

Ira tumbuh dari keluarga yang memiliki kesulitan dalam ekonomi. Ayah dan Ibunya bekerja serabutan untuk menghidupi Ira beserta kedua adiknya. Namun kendati demikian, Ayahnya selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menyalahkan keadaan. Ira dan keluarganya tinggal di lingkungan kumuh yang berlokasi di Jakarta berukuran 3x3, serta untuk 1 porsi makanan dibagi untuk lima orang.

 

Tak hanya itu, bahkan untuk merasakan makan daging, Ira mengaku harus menunggu perayaan Hari Raya Idul Adha. Tinggal di rumah petak yang banyak tikus menjadi pengalaman hidup yang tak akan mungkin Ia lupakan.

 

“Even ketika kita lagi kesusahan pasti akan selalu ada berkat, bukan berarti dalam kondisi yang sulit tidak ada berkat” ungkapnya.

 

Ira mengaku berkatnya datangnya dalam bentuk support dari kedua orang tuanya. Semisal ketika Ia kerja, karena orang tuanya tau mungkin mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan Ira secara finansial, maka kedua orang tuanya mencoba untuk memberi dukungan dalam bentuk energi atau dalam bentuk dukungan moral.

 

Ia mengungkapkan bahwa kedua orang tuanya bukan tipikal orang tua yang melarang Ira dalam melakukan apapun, Ira diberi kebebasan untuk melakukan dan mencoba segala hal karena orang tuanya yakin bahwa Ira tidak akan melakukan hal yang macam-macam.

 

Sewaktu awal-awal masuk SMA, Ira bercerita bahwa dirinya sempat di bully karena selalu memakai baju yang lusuh atau bau matahari. Orang-orang jarang mau berteman dengannya karena mereka pikir Ira bukan dari bagian mereka. Namun, Ira tidak memusingkan hal tersebut karena dirinya merasa tidak ada waktu untuk menghiraukan apa yang mereka pikir tentangnya.

 

Ira menekankan bahwa Ia cuma memikirkan bagaimana caranya bisa survive hari ke hari. Saat itu dirinya juga mendapat kekuatan karena Ia merasa punya prioritas lain yang mana seluruh energi dan pikiran harus Ia alokasikan ke hal tersebut.

 

“Starting point orang selalu berbeda-beda dan itu bukan salah mereka juga. Kalau misalkan hati kita dengki, itu akan bikin segala sesuatu dijalaninnya lebih berat. Fokus sama perkembangan diri sendiri hari demi hari, daripada mengukur pencapaian orang lain yang jelas-jelas starting pointnya beda.”

 

Tak hanya aktif dalam berprestasi, siapa sangka di umur 16 tahun Ira sudah membantu kedua orang tuanya untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai Sales Promotion Girl di booth Chicken Nugget di mana pada pukul 06.00 WIB Ia sudah harus ada di booth tersebut. Pulang larut malam karena seharian bekerja menjadi SPG sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Ayahnya, biasa menjemput menggunakan motor butut. Selain menjadi SPG, Ira juga bekerja sebagai guru les serta menjadi penerjemah.

 

Pada akun Instagram pribadi miliknya, Ira mengatakan bahwa Ia mulai bekerja dari 2014 awal, apapun dilakukan waktu itu untuk mendapatkan uang. Memulai karir lebih awal sangat membantunya untuk menjadi penopang keluarga. Bahkan pundi-pundi rupiah yang didapat Ia gunakan untuk membayar uang sekolahnya.

 

Tips Belajar Bahasa Inggris Ala Ira

 

  • Ada beberapa tips yang Ira berikan untuk belajar bahasa Inggris, berikut beberapa di antaranya:
  • Waktu yang tepat untuk belajar bahasa Inggris yaitu waktu kecil
  • Lebih banyak baca sumber yang bisa diakses secara gratis
  • Pakai google translate
  • Berani bicara sama orang
  • Keberanian untuk berbicara dan tahu cara penyebutan yang benar merupakan dua hal yang paling penting dalam belajar bahasa Inggris

 

Pesan untuk Mahasiswa yang Sedang Berjuang dalam Perkuliahan

 

Kepada penulis melalui google meet, Irawati Puteri menyampaikan sebuah pesan “ Aku tahu yang dilalui memang berat dan aku tidak akan bisa janji bahwa semua orang kisahnya bisa dari zero to hero. Selalu banyak elemen untuk keberuntungan, ketemu sama orang yang tepat untuk bisa membuat kita naik level. Tapi, harapan itu masih ada dan yang paling pasti untuk bisa kita coba kejar adalah pendidikan.

 

Pendidikan itu adalah jalan yang paling masuk akal untuk bisa kita tapaki, untuk bisa mengubah nasib. Tapi itu bukan jalan satu-satunya. Ada banyak cara untuk kita bisa mencapai apa yang kita mau. Jangan lupa untuk selalu berbuat baik sama orang lain, karena kadang kita nggak tahu siapa yang akan bisa bantu bukain pintu buat kita.

 

Jalin relasi dengan teman sebanyak-banyaknya dan jangan memandang dari status sosial orang lain, karena kita pun tidak mau dipandang dari status sosial. Selalu jadi orang yang baik, terbuka sama feedback, dan jangan pahit sama kehidupan.”

 

Harapan, Angan, dan Cita

 

Saat ini, Ira lebih memilih bidang hukum karena Ia pikir hukum adalah cara yang paling strategis untuk bisa melibatkan banyak hal. Harapannya setelah lulus dari Stanford University dan jika Ia bisa kembali ke Indonesia serta membuat sesuatu, Ira ingin membangun Startup yang bisa menghubungkan orang-orang dengan kemampuan seperti soft skills.

 

Misal anak jalanan, mereka bisa belajar pakai kamera, belajar gitar, sesuatu yang orang-orang gak pernah terpikirkan bahwa mereka butuh. Ira akan menghubungkan anak-anak jalanan ini atau penerima beasiswanya dengan donor. (Noor Latifah Adzhari)