Notification

×

Iklan

Iklan

Air Galon Picu Kanker Payudara? Praktisi: Persaingan Usaha

Minggu, 07 Mei 2023 | 09:01 WIB Last Updated 2023-05-07T02:01:08Z

Ilustrasi konsumsi air galon menjadi kebutuhan masyarakat bahkan dalam memenuhi kebutuhan di layanan kesehatan./Istimewa


AKURATNEWS.ID, JAKARTA – Air Galon bukan produk yang baru sehari dua hari beredar di masyarakat. Bahkan, bukan setahun atau dua tahun dikonsumsi masyarakat tanah air pada umumnya. Air galon bisa disebut sebagai salah satu bahan pokok yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan masyarakat, demi memenuhi kebutuhan tubuh.


Isu air galon menjadi penyebab kanker payudara menjadi isu liar. Yang mana, Praktisi kesehatan bidang onkologi atau penyakit kanker, dr. Bajuadji, Sp.B (K) Onk, mengatakan tak ada kaitannya sama sekali antara air galon dengan penyakit kanker payudara. Dia melihat isu-isu yang mengait-ngaitkan air galon dengan kanker payudara itu hanya karena adanya unsur-unsur persaingan usaha semata.   

 

“Saya tidak pernah menemukan ada dari pasien-pasien yang mengalami kanker payudara karena telah mengkonsumsi air galon. Itu menurut saya hanya persaingan usaha saja,” ujarnya.


Menjadi Kebutuhan di Pusat Layanan Kesehatan


Kebutuhan air menjadi hal vital dalam kehidupan makhluk di muka bumi, tanpa terkecuali manusia sebagai kholifah seluruh makhluk. Kebutuhan air di pusat-pusat layanan kesehatan, digantikan dengan keberadaan air galon dalam memenuhi kebutuhan air yang tidak sedikit demi menopang layanan kesehatan kepada pasien dan SDM rumah sakit.

 

Seperti diketahui, air galon juga sangat membantu bagi penyediaan air minum sehat di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Menurut salah satu staf bagian gizi rumah sakit yang tidak bersedia disebutkan namanya, penyediaan air galon di rumah sakit ini digunakan untuk kebutuhan pasien, staf rumah sakit dan juga untuk keperluan memasak makanan untuk pasien rumah sakit. 


Salah satu karyawan supplier yang memasok air galon ini ke rumah sakit tersebut menyebutkan setiap hari memasok 100-200 galon per hari ke Rumah Sakit Kanker Dharmais ini.  

 

Dokter spesialis penyakit kanker ini menyebut 85 persen penyebab kanker payudara itu adalah karena faktor keturunan atau genetik. Kemudian 15 persennya karena faktor lingkungan seperti zat kimia yaitu formalin dan zat pengawet makanan, radiasi ultraviolet, merokok, minum, alkohol, penyakit yang berhubungan dengan dan kebiasaan minum alkohol, kemudian penyakit yang berhubungan dengan defisiensi tubuh/imunitas misalkan HIV/AIDS, kemudian bisa juga karena penyakit hepatitis atau gangguan fungsi hati. 

 

Selain itu, lanjutnya, kanker payudara juga bisa disebabkan karena terjadinya ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Misalnya, pada seseorang yang mempunyai riwayat mengonsumsi hormon, mereka yang melaksanakan inseminasi buatan atau bayi tabung, atau ada riwayat pemakaian KB suntik, KB pil, dan KB implan. 


“Dengan memakai obat hormon itu, tubuh seseorang bisa mengalami ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh yang memicu terjadinya suatu keganasan,” ungkapnya.

 

Dia mengutarakan 80 persen gejala kanker payudara ini ditandai dengan timbul benjolan di payudara atau ketiak yang bisa disertai nyeri ataupun tidak.  Biasanya benjolannya itu padat dan keras seperti batu. 


Selain itu, keluarnya cairan dalam bentuk darah, nanah dengan cairan bening atau cairan berwarna kuning atau berwarna putih atau hitam melalui puting susu. | “Kita anjurkan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau sadari,” tuturnya.

 

Langkah berikutnya yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara ini adalah dengan pemeriksaan penunjang melalui USG payudara atau mamografi paling tidak setahun sekali. Kemudian yang ketiga, berkonsultasi dengan dokter Onkologi. 

 

Sebelumnya, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP juga menyampaikan belum pernah menemui pasien kanker karena telah mengonsumsi air galon. “Belum ada buktinya sama sekali hingga saat ini,” ungkapnya. 

 

Menurutnya, kebanyakan kanker itu disebabkan paparan-paparan gaya hidup seperti kurang olahraga dan makan makanan yang salah, merokok, dan lain sebagainya. “Jadi belum ada penelitian air galon itu menyebabkan kanker,” ujarnya. 

 

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga mengendus adanya isu persaingan usaha dalam kasus penyudutan air galon ini. Komisioner KPPU, Chandra Setiawan, melihat penyudutan terhadap produk tertentu ini dilarang dalam hukum persaingan usaha.