Notification

×

Iklan

Iklan

Uqbah ibn Nafi' Sang Penakluk Maroko

Jumat, 16 Desember 2022 | 09:43 WIB Last Updated 2022-12-16T02:52:44Z

 

Masjid dan Patung Uqbah bin Nafi' (foto istimewa)

AKURATNEWS.ID, KHAZANAH – Maroko saat ini tengah menjadi perbincangan dunia. Melalui sepak bola di laga World Cup Qatar 2022, Maroko berhasil masuk ke babak semi final, yang akhirnya harus kandas di babak tersebut setelah dikalahkan oleh Prancis 0:2.


Menyebut Negara Maroko dengan bendera berwarna Merah bergambar bintang berwarna hijau di tengahnya, sebagian orang mungkin tidak tahu, mengapa Maroko mayoritas masyarakatnya beragama muslim.


Maroko yang didirikan oleh Dinasti Idrisiyyah (789 M), menjadi wilayah protektorat Prancis dan Spanyol sejak 30 Maret 1912.


Negara ini memproleh kemerdekaannya pada tanggal 7 April 1956, tapi memperingati hari kemerdekaan pada tanggal 18 November.


Menyebut Maroko dalam sejarahnya tentu tidak terlepas dari sejarah sahabat nabi Uqbah ibn Nafi'. Seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan Afrika Utara pada paruh kedua di abad pertama Hijriyah. Wilayah yang berhasil ia taklukkan meliputi Aljazair, Tunisia, Libya, dan Maroko hingga ke pantai Atlantik, kecuali Mesir yang ditaklukkan Amr bin al-Ash.


Uqbah bin Nafi’ lahir di Makkah, satu tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah. Ia dibesarkan dalam lingkungan Islam. Ia banyak mendapat didikan mengenai ajaran Islam dari sang ayah, Nafi bin Qais al Fahri Quraisy. Dari sang ayah pulalah bakat kemiliteran mengalir deras dalam darahnya.


Memiliki nama Uqbah bin Nafi bin Qais al-Fihri adalah panglima Islam yang pertama kali mampu menaklukkan Maroko dan ia lahir satu tahun sebelum hijrahnya Rasulullah saw. Dia dan ayahnya juga berpartisipasi dalam penaklukan Mesir di tangan pemimpin besar Amr ibn Ash.


Kedekatannya dengan penakluk Mesir, Amr bin al-Ash, ia dapatkan dari garis keturunan ibunya. Amr bin al-Ash adalah paman Uqba yang juga mewariskan darah pejuang dalam dirinya. Uqba selalu mengikuti dan menemani ayahnya selama masa kampanye Amr bin al-Ash di Mesir.


Setelah penaklukan Mesir, Amr bin al-Ash kemudian mengirim Uqba untuk menaklukkan wilayah barat. Pada 50 H, Uqba memimpin pasukan Muslim ke Afrika Utara dengan melintasi padang pasir Mesir. Dalam perjalanannya, ia mendirikan sejumlah pos militer, salah satunya di wilayah yang kini dikenal sebagai Tunisia.


Di Tunisia pula ia membangun sebuah kota bernama Kairouan yang terletak di 160 kilometer arah selatan sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Tunis, ibu kota Tunisia. Uqba menggunakan Kairouan sebagai pos utama untuk operasi-operasi selanjutnya.


Kedekatannya dengan penakluk Mesir, Amr bin al-Ash, ia dapatkan dari garis keturunan ibunya. Amr bin al-Ash adalah paman Uqba yang juga mewariskan darah pejuang dalam dirinya. Uqba selalu mengikuti dan menemani ayahnya selama masa kampanye Amr bin al-Ash di Mesir.

 

Setelah penaklukan Mesir, Amr bin al-Ash kemudian mengirim Uqba untuk menaklukkan wilayah barat. Pada 50 H, Uqba memimpin pasukan Muslim ke Afrika Utara dengan melintasi padang pasir Mesir. Dalam perjalanannya, ia mendirikan sejumlah pos militer, salah satunya di wilayah yang kini dikenal sebagai Tunisia.


Di Tunisia pula ia membangun sebuah kota bernama Kairouan yang terletak di 160 kilometer arah selatan sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Tunis, ibu kota Tunisia. Uqba menggunakan Kairouan sebagai pos utama untuk operasi-operasi selanjutnya.


Pada 55 H, Uqba diberhentikan oleh Amir Muawiyah. Dengan lapang dada, Uqba menerima pemberhentiannya dan menyerahkan komando pasukan kepada Abu Mahajer Dinar. Namun, pada 62 H, Uqba lagi-lagi ditunjuk sebagai komandan pasukan untuk wilayah Maghribi, yang kini meliputi sejumlah negara di Afrika Utara, yakni Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya.


Sebarkan Agama Islam di Daratan Afrika Utara


Atas keberhasilan Uqbah ibn Nafi’ dalam menyebarkan Agama Islam di daratan Afrika Utara dengan cepat dan dalam waktu yang sangat singkat memperluas wilayah tersebut sampai ke Maroko, ia dijuluki sang Alexander Muslim I.


Dalam bukunya M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta, yang dikutip dari Ameer Ali, bahwa Uqbah ibn Nafi’ pernah menyatakan, “Ya Allah, apabila Laut Atlantik tidak menghalangiku, aku akan maju terus untuk membebaskan negeri-negeri dan mengobarkan asma-Mu dan Agama-Mu”.


Hal ini jelas menjadi bukti bahwa Uqbah benar-benar sosok penyebar panji Islam yang tidak pernah menyerah, kecuali hanya untuk Islam.


Keberhasilan Uqbah ibn Nafi’ di Afrika Utara nampak dalam sosial-budaya,politik, dan keagamaan. Dalam bidang sosial-budaya, yang dahulunya kehidupan masyarakat Afrika Utara adalah sebuah kehidupan masyarakat pedesaan yang bersifat kesukuan, berpindah-pindah tempat, dan patriarkhi.


Ketika daerah ini berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi, pengaruhnya sangat besar bagi masyarakat Barbar. Umumnya mereka dipengaruhi oleh para elit kota yang mengadopsi bahasa, gagasan, dan adat istiadat para penguasa.


Setelah orang-orang Romawi dikalahkan oleh Uqbah ibn Nafi’, pengaruhnya di Afrika Utara mulai berhenti. Sehingga penduduk Afrika Utara terhindar dari kekejaman dan pemerasan, oleh karena itu, kehidupan mereka akhirnya merasakan keamanan dan ketenteraman.


Uqbah ibn Nafi’ berhasil membawa kehidupan masyarakat Afrika Utara kepada suatu kehidupan masyarakat yang tidak begitu terbebani oleh pungutan pajak. Mereka membayar jizyah23 sebagai perlindungan atas keamanan jiwa dan harta mereka. Dalam bidang politik, Uqbah ibn Nafi’ telah berhasil membebaskan Afrika Utara dan membangun kota militer, Kairawan yang sekaligus menjadi pusat Pemerintahannya.


Dalam bidang keagamaan, Uqbah ibn Nafi’ berhasil menyebarkan Agama Islam pada wilayah ini,serta membangun masjid sebagai sarana peribadatan. Mereka yang dahulu dipaksa untuk memeluk suatu kepercayaan, yaitu Kristen, sejak wilayah tersebut dikuasai Uqbah ibn Nafi’, toleransi beragama mulai diterapkan meski Dakwah Islam selalu digiatkan oleh Uqbah ibn Nafi’.