Pelopor EMR Bidik Efisiensi Klaim BPJS Lewat AI
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - PT Nova Prima Utama, perusahaan
penyedia sistem informasi rumah sakit, yang telah menerapkan Electronic Medical
Record (EMR) sejak 2004–2008, jauh sebelum Kementerian Kesehatan mewajibkan
integrasi dengan platform Satu Sehat, turut ambil bagian dalam gelaran Indonesia
International Hospital Expo 2026 di ICE BSD City, 7–10 Oktober 2026.
Direktur PT Nova Prima Utama, AI Gindo, menuturkan bahwa
perusahaannya termasuk yang pertama mengimplementasikan Hospital Information
System (HIS) paperless di Indonesia yang Bernama VESALIUS.
"Di tahun 2004–2008, kita salah satu sistem yang
pertama implementasi EMR (Electronic Medical Record). Waktu itu di RS Pondok
Indah dan EKA Hospital, dan terakhir 2018 di Kasih Ibu Hospital Bali”, ujarnya di
sela-sela acara Indonesia International Hospital Expo 2026 di ICE BSD City,
Tangerang.
Namun, perjalanan itu tidak mulus. Tantangan terbesar
bukanlah teknologi, melainkan kesiapan sumber daya manusia dan resistensi
budaya kerja. "Dokter juga harus pakai sistem. Tidak semuanya familiar
dengan komputer. Mereka yang harus melakukan input order lab, radiologi, hingga
resep elektronik. Itu bukan hal mudah," kenang AI Gindo.
Fragmentasi sistem di rumah sakit pemerintah juga menjadi
hambatan struktural. "Sistemnya terpisah-pisah. Billing punya sistem
sendiri, lab sendiri, radiologi sendiri. Ada tiga sampai empat sistem, dan
masing-masing punya 'raja-raja kecil'. Butuh dorongan kuat dari pimpinan untuk
mengubahnya," tambahnya.
Regulasi Baru dan Momentum Satu Sehat
Kebijakan baru Kementerian Kesehatan yang mewajibkan EMR
untuk integrasi dengan Satu Sehat menjadi titik balik. "Sekarang, mau
tidak mau, rumah sakit harus beralih ke EMR. Ini momentum yang tepat,"
tegas AI Gindo.
Ia menilai, integrasi data pasien dalam satu platform
nasional akan meningkatkan kualitas layanan sekaligus efisiensi. "Dengan
EMR, data pasien bisa diakses lintas fasilitas kesehatan. Ini akan sangat
membantu dalam penanganan pasien secara holistik," ujarnya.
Momentum ini juga sejalan dengan tema besar Indonesia
International Hospital Expo 2026 yang menyoroti pergeseran pemanfaatan
kecerdasan artifisial (AI) dari sekadar teknologi pendukung menjadi bagian dari
operasional pelayanan rumah sakit. Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-38
ini menjadi titik temu antara kebutuhan rumah sakit dan perkembangan teknologi
kesehatan terkini.
AI untuk Optimasi Klaim BPJS
Tantangan berikutnya yang disorot AI Gindo adalah proses klaim BPJS. "Klaim BPJS sering menjadi beban administratif. Dengan AI, proses klaim bisa dioptimalkan," jelasnya.
Menurut AI Gindo, AI dapat merumuskan diagnosis berdasarkan
hasil pemeriksaan dokter, hasil laboratorium, dan radiologi, lalu menentukan
ICD-Code yang tepat. "Prosesnya lebih cepat, pendapatan rumah sakit pun
lebih cepat diterima. Efisiensi benar-benar dimunculkan," ujarnya.
Optimalisasi klaim ini menjadi krusial di tengah tekanan
efisiensi anggaran yang melanda industri kesehatan nasional. Dengan skema
konsolidasi pengadaan dan efisiensi belanja pemerintah, rumah sakit dituntut
untuk lebih cermat dalam mengelola sumber daya, termasuk memastikan klaim yang
diajukan dapat diproses secara cepat dan akurat.
Mindset Pemilik Rumah Sakit Masih Jadi Kendala
Meski teknologi semakin matang, adopsi di lapangan masih
terkendala pola pikir beberapa pemilik rumah sakit. "Tantangan terbesar
masih mindset owner. Beberapa dari mereka berpikir, “Dengan kondisi existing
system yang ada, dan rumah sakit masih beroperasi dan memberikan keuntungan,
mengapa harus ada perubahan system?” “Padahal, transformasi digital bukan lagi
pilihan, melainkan keharusan," tegas AI Gindo.
Ia menekankan bahwa investasi teknologi kesehatan bukan
sekadar biaya, melainkan investasi jangka panjang untuk efisiensi dan daya
saing. "Kami punya paket yang disesuaikan, bahkan untuk klinik yang
memiliki beberapa cabang atau rumah sakit yang memiliki 50-100 beds. Yang
terpenting adalah bagaimana teknologi ini dapat membantu," pungkasnya.
Hospital Expo 2026: Panggung Transformasi Digital Kesehatan
Indonesia International Hospital Expo 2026 yang berlangsung
pada 7–10 Oktober 2026 di ICE BSD City menjadi panggung bagi perusahaan seperti
PT Nova Prima Utama untuk menunjukkan solusi mereka. Pameran teknologi medis
terbesar di Asia Tenggara ini menyoroti pergeseran pemanfaatan AI dari sekadar
teknologi pendukung menjadi bagian dari operasional pelayanan rumah sakit.
Direktur Marketing dan Finance PT Okta Sejahtera Insani,
Yudha Imam Sutedja, menegaskan bahwa perkembangan teknologi kesehatan membuat
pemanfaatan AI perlu dilihat dari kebutuhan pelayanan rumah sakit, bukan hanya
dari sisi kecanggihan teknologi. "Hospital Expo kami hadirkan sebagai
titik temu antara kebutuhan rumah sakit dan perkembangan teknologi kesehatan,"
ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan
Rumah Sakit Seluruh Indonesia, dr. Bambang Wibowo, menambahkan bahwa AI kini
telah masuk ke berbagai lini pelayanan rumah sakit. "Kecerdasan artifisial
bukan lagi sekadar wacana masa depan, namun kenyataannya saat ini telah masuk
ke dalam lini operasional klinis, manajemen data, hingga peningkatan mutu
layanan pasien," katanya.
Tren ini menjadi konteks penting bagi perusahaan seperti PT
Nova Prima Utama. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dan portofolio
implementasi EMR yang mumpuni, perusahaan berada di posisi yang relevan untuk
menjembatani kebutuhan rumah sakit Indonesia dalam mengadopsi teknologi yang
tengah berkembang pesat.



Posting Komentar