Jelang Dua Tahun Prabowo–Gibran, JAMIRA Dorong Kemitraan Media yang Adil dan Transparan
AKURATNEWS.ID, JAKARTA — Menjelang dua tahun pemerintahan
Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20
Oktober 2026, Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA) mendorong evaluasi yang
objektif terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah, terutama dalam menjaga
kualitas demokrasi, kebebasan pers, dan keberlanjutan industri media nasional.
Ketua Umum JAMIRA, RM Gusti Haes, mengatakan evaluasi
pemerintahan tidak semestinya berhenti pada daftar program, angka pertumbuhan,
atau capaian administratif. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan
kebijakan negara memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menciptakan
ruang yang sehat bagi pers untuk menjalankan fungsinya.
"JAMIRA memandang dua tahun pemerintahan merupakan
momentum penting untuk mengukur bukan hanya apa yang telah dikerjakan, tetapi
juga apa yang masih perlu diperbaiki. Pemerintah perlu memastikan bahwa
pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan penguatan demokrasi, keterbukaan
informasi, dan perlindungan terhadap kebebasan pers," kata Gusti Haes,
dalam keterangan resmi di Kantor DPP Jamira, Jakarta, pada Minggu (18/10).
Menurut dia, perusahaan media menghadapi tantangan yang
semakin kompleks akibat perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan,
dan dominasi platform digital dalam distribusi informasi serta pasar
periklanan.
"Dalam situasi tersebut, keberlanjutan perusahaan pers
tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada kemampuan masing-masing media beradaptasi.
Diperlukan ekosistem yang adil, kepastian regulasi, perlindungan hak ekonomi
karya jurnalistik, dan persaingan usaha yang sehat," imbuhnya.
JAMIRA mendorong pemerintah memperkuat implementasi
kebijakan perlindungan karya jurnalistik, termasuk Peraturan Presiden Nomor 32
Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung
Jurnalisme Berkualitas.
"Pelaksanaannya perlu diarahkan pada mekanisme yang
efektif, transparan, dan memberikan manfaat bagi perusahaan pers, termasuk
media lokal dan nasional yang memiliki kapasitas usaha beragam," ujarnya.
Di sisi lain, Gusti menilai kebebasan pers harus tetap
menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis.
Wartawan perlu memperoleh perlindungan ketika menjalankan tugas jurnalistik,
sementara kritik dan pengawasan terhadap kebijakan publik harus dipandang
sebagai bagian dari mekanisme pertanggungjawaban kekuasaan.
"Media tidak harus selalu sependapat dengan pemerintah.
Namun, perbedaan pandangan harus dijawab melalui data, penjelasan yang terbuka,
dan perbaikan kebijakan, bukan tekanan terhadap kerja jurnalistik,"
ujarnya.
JAMIRA juga mendorong pemerintah memperbaiki komunikasi
publik agar lebih terbuka, terukur dan responsif terhadap persoalan yang dihadapi
masyarakat. Keberhasilan suatu program tidak cukup dinilai dari intensitas
publikasi, tetapi juga dari pelaksanaan, transparansi anggaran, serta manfaat
yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Dalam bidang ekonomi, JAMIRA berpandangan bahwa capaian pembangunan
perlu diukur melalui indikator yang dapat diuji, termasuk penciptaan lapangan
kerja, daya beli masyarakat, kesempatan usaha, dan pemerataan manfaat
pembangunan.
JAMIRA menegaskan posisinya sebagai organisasi yang
memperjuangkan penguatan industri media nasional tanpa menempatkan diri sebagai
alat kepentingan politik tertentu.
"Kami tidak berada pada posisi untuk memuji atau
menolak pemerintah secara membabi buta. Sikap JAMIRA adalah mendukung kebijakan
yang berpihak pada kepentingan publik, mengapresiasi capaian yang dapat
dibuktikan, dan menyampaikan kritik terhadap persoalan yang membutuhkan
perbaikan," kata Gusti Haes.
Ia menambahkan, pemerintah, media dan masyarakat memiliki
tanggung jawab masing-masing dalam menjaga kualitas demokrasi. Pemerintah perlu
terbuka terhadap pengawasan, media harus menjaga akurasi dan independensi,
sedangkan masyarakat berhak memperoleh informasi yang benar dan dapat
dipertanggungjawabkan.
"Dua tahun pemerintahan harus menjadi momentum untuk
memperkuat kepercayaan publik. Pemerintahan yang kuat membutuhkan masyarakat
yang sejahtera, demokrasi yang sehat, dan pers yang independen serta
berkelanjutan," ujar Gusti Haes.
Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA) akan terus mendorong
dialog konstruktif antara pemerintah, perusahaan media dan pemangku kepentingan
lainnya guna mewujudkan ekosistem pers nasional yang profesional, independen,
dan berdaya saing. (Jamira)



Posting Komentar