Garuda Indonesia dan IKAL Sinergi Tanamkan Nilai Patriotisme dan Profesionalisme Penerbangan
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.,
bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL), menyelenggarakan Kegiatan
Pelatihan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, yang diselenggarakan di Pusdiklat
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Jakarta, 13 Oktober 2026.
Dalam penyampaian materinya yang berjudul “Bela Negara Dalam
Perspektif Korporasi”, Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso, S.Sos., S.I.P., M.Tr
(Han), mengatakan, sebagai maskapai penerbangan nasional yang membawa identitas
Indonesia, Garuda Indonesia memiliki tanggung jawab strategis yang melampaui
kepentingan komersial, mulai dari menjaga keselamatan manusia, memperkuat
konektivitas Nusantara, hingga mempertahankan kepercayaan publik dan kehormatan
bangsa.
Acara yang diikuti oleh para manajer PT Garuda Indonesia
(Persero) Tbk seluruh Indonesia, ini berkaitan dengan kerja sama IKAL dengan Garuda
Indonesia dalam memperkuat pemahaman kebangsaan, kepemimpinan, serta budaya
profesional di lingkungan korporasi penerbangan.
Selanjutnya Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso, menjelaskan
bahwa menempatkan bela negara sebagai
fondasi etika sekaligus arah strategis penguatan budaya kerja Garuda Indonesia.
Menurutnya, profesionalisme, integritas, dan pelayanan berkualitas tidak dapat
dipisahkan dari tanggung jawab setiap insan perusahaan terhadap kepentingan
bangsa.
“Karenanya keselamatan yang dikompromikan, integritas yang
diabaikan, pelayanan yang kehilangan martabat, serta tata kelola yang
menyimpang bukan semata-mata persoalan internal perusahaan. Hal tersebut juga
berkaitan dengan tanggung jawab moral sebuah korporasi nasional yang membawa
nama Indonesia,” ujar Dr. Totok Imam Santoso, yang juga mantan Pangdam XIV
Hasanudin.
Lebih jauh, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni
Unhan RI ini, menjelaskan, profesionalisme perlu dipahami sebagai wujud
patriotisme, integritas sebagai bentuk kesetiaan kepada negara, dan pelayanan
terbaik sebagai pengabdian nyata kepada masyarakat.
“Dari itu bela negara tidak selalu diwujudkan melalui
pengabdian militer atau kekuatan pertahanan. Dalam kehidupan modern, setiap
warga negara memiliki ruang pengabdian melalui profesi, kompetensi, serta
tanggung jawabnya masing-masing,” tegasnya.
Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso lebih lanjut juga
memaparkan landasan konstitusionalnya yang tercantum dalam Pasal 27 ayat (3)
UUD 1945, yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta
dalam upaya pembelaan negara. Semangat tersebut diperkuat melalui Pasal 30 UUD
1945 serta Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
“Bagi insan Garuda Indonesia, amanat kebangsaan itu dapat
diwujudkan melalui kedisiplinan, kepatuhan terhadap regulasi penerbangan,
kepemimpinan berintegritas, perlindungan keselamatan penumpang, serta kesediaan
mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi,” ujar Mayor
Jenderal Totok yang juga peraih Bintang Kartika Eka Paksi Nararya.
Lulusan Lemhanas RI 2019 ini juga menguraikan lima nilai
dasar bela negara yang perlu diinternalisasikan dalam kehidupan korporasi,
yakni cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan kepada
Pancasila, kerelaan berkorban, serta kemampuan awal bela negara. Cinta tanah
air, misalnya, harus tercermin melalui kesungguhan menjaga nama baik Indonesia.
“Kesadaran berbangsa dan bernegara diwujudkan dengan
memahami hak, kewajiban, serta tanggung jawab profesional. Sementara kesetiaan
kepada Pancasila hadir melalui penghormatan terhadap kemanusiaan, persatuan,
musyawarah, dan keadilan sosial,” ujarnya.
Adapun kerelaan berkorban, tambah Dr. Totok, dapat diterjemahkan melalui kesediaan
memberikan waktu, tenaga, pikiran, serta keahlian bagi kepentingan bersama.
Kemampuan awal bela negara dibangun melalui disiplin, ketahanan mental,
kesiapsiagaan, dan kompetensi menghadapi risiko.
Kelima nilai tersebut, menurut Mayjen TNI Dr. Totok Imam
Santoso, S.Sos., S.I.P., M.Tr (Han), tidak boleh berhenti sebagai materi
pembinaan. Nilai kebangsaan harus terlihat dalam keputusan, kebiasaan, dan
standar kerja yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh unsur perusahaan.
”Perhatian khusus juga diberikan terhadap keselamatan
penerbangan sebagai salah satu manifestasi paling fundamental dari bela negara
di lingkungan Garuda Indonesia,” ujarnya.
Pada bagian lain Mayjen TNI Dr. Totok juga mengingatkan
bahwa loyalitas kepada perusahaan tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran
terhadap penyimpangan, melainkan keberanian menjaga organisasi agar tetap
berjalan berdasarkan prinsip yang benar. Lebih jauh, Garuda Indonesia memiliki
kedudukan penting sebagai pembawa identitas bangsa di ruang udara
internasional. Setiap interaksi dengan penumpang menjadi kesempatan
memperkenalkan Indonesia sebagai bangsa yang ramah, berbudaya, profesional, dan
menghormati keberagaman.
Pelayanan yang manusiawi, komunikasi yang jelas, perhatian
terhadap kebutuhan khusus penumpang, serta respons cepat ketika terjadi
gangguan perjalanan merupakan bentuk konkret pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Mayjen TNI Dr. Totok turut menempatkan konektivitas udara sebagai bagian dari
kontribusi strategis Garuda Indonesia terhadap persatuan nasional.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan
keterhubungan antardaerah untuk mendukung mobilitas masyarakat, aktivitas
ekonomi, pariwisata, pendidikan, dan hubungan sosial.
“Karena itu, kontribusi Garuda Indonesia tidak hanya
menghubungkan bandar udara, tetapi juga mempererat hubungan antarmasyarakat dan
memperkenalkan potensi Nusantara kepada dunia,” katanya seraya mengimbuhkan
bahwa dalam menghadapi perkembangan teknologi, perhatian terhadap keamanan
informasi juga menjadi bagian dari tanggung jawab bela negara. Perlindungan
data penumpang, keamanan sistem digital, penjagaan kredensial, serta
kewaspadaan terhadap serangan siber harus menjadi kesadaran bersama seluruh
insan perusahaan.
Pesan utama yang semakin bersemayam dari pemaparan Mayjen
TNI Dr. Totok ialah, bahwa Garuda Indonesia tidak cukup hanya menjadi maskapai
yang membawa nama negara. Perusahaan juga harus mampu menghadirkan nilai-nilai
bela negara dalam setiap keputusan, pelayanan, dan penerbangannya. Menjaga
keselamatan berarti menjaga kehidupan. Memelihara integritas berarti menjaga
kepercayaan bangsa. Menghubungkan Nusantara berarti memperkuat persatuan.
Sementara memberikan pelayanan terbaik merupakan cara memperkenalkan keluhuran
budaya Indonesia kepada dunia.
“Dengan begitu penguatan budaya bela negara di lingkungan
Garuda Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pelatihan, tetapi
berkembang menjadi kesadaran kolektif yang melekat dalam tata kelola, kepemimpinan,
dan profesionalisme seluruh insan perusahaan,” imbuh Mayjen TNI Dr. Totok.



Posting Komentar