Cerita Hanan, Pedagang Batu Cincin yang Tetap Bertahan di Rawabening

Hanan dengan Etalase Batu Akiknya.
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Di tengah perubahan zaman dan
selera masyarakat, Hanan tetap setia menekuni pekerjaannya sebagai pedagang
batu cincin di Pasar Rawabening, Jatinegara, Jakarta Timur. Sejak 1997, pria
asal Kuningan, Jawa Barat, itu menggantungkan hidup dari batu-batu yang bagi
sebagian orang bukan sekadar perhiasan, melainkan bagian dari cerita dan
kenangan.
Hampir tiga dekade berlalu, Hanan masih menempati ruangnya
di tengah denyut perdagangan batu Rawabening. Ia menyaksikan sendiri bagaimana
pasar batu mengalami pasang surut, dari masa ketika batu cincin menjadi tren di
berbagai kalangan hingga kini ketika peminatnya tidak lagi seramai dahulu.
Menurut Hanan, masa kejayaan batu cincin terjadi sekitar
2014–2015. Saat itu, demam batu merebak di berbagai daerah. Batu akik, batu
lokal maupun batu asal berbagai wilayah menjadi perbincangan dan buruan
masyarakat.
“Waktu itu memang ramai sekali. Batu sedang jaya-jayanya,”
ujar Hanan mengenang masa tersebut.
Namun, berakhirnya tren besar batu cincin tidak membuat
Hanan meninggalkan pekerjaannya. Ia memilih tetap bertahan, karena baginya
berdagang batu bukan semata soal mengikuti tren, tetapi juga tentang
mempertahankan pekerjaan yang telah dijalani selama puluhan tahun.
Kini suasana Pasar Batu Rawabening memang tidak lagi seperti
masa kejayaannya. Meski demikian, Hanan mengatakan masih ada para penggemar
batu yang datang dan mencari koleksi tertentu.
“Sekarang masih ada penggemarnya. Mereka yang memang suka
batu tetap datang,” katanya.
Para penggemar inilah yang menurut Hanan membuat denyut
perdagangan batu di Rawabening belum sepenuhnya padam. Mereka datang bukan
hanya untuk membeli, tetapi juga melihat koleksi, berbincang mengenai jenis dan
kualitas batu, serta bertukar cerita dengan sesama penghobi.
Bagi Hanan, bertahan selama hampir 30 tahun menjadi pedagang
batu merupakan perjalanan panjang. Ia tidak lagi sekadar menjual batu cincin,
tetapi menjadi bagian dari perjalanan Pasar Rawabening dan komunitas pencinta
batu di Jakarta.
Di tengah perubahan tren dan gaya hidup, Hanan memilih tetap
berada di tempatnya. Sebab, selama masih ada orang yang mencintai batu, selama
itu pula ia percaya perdagangan batu di Rawabening akan tetap memiliki
kehidupan.
Batu boleh tak lagi menjadi tren sebesar dulu. Tetapi bagi
Hanan, kecintaan pada batu membuat langkahnya tetap bertahan.
Posting Komentar