Beranda Ruang Diskusi Apresiasi HUT ke-81 TNI Sederhana, Serukan Ini

Upacara TNI/Foto. Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Pelaksanaan HUT ke-81 TNI secara
sederhana mendapat apresiasi dari salah satu pendiri Beranda Ruang Diskusi, Dar
Edi Yoga. Ia menilai langkah Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto tersebut
sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pengeluaran negara yang
tidak efisien dipangkas dan anggaran diprioritaskan untuk kebutuhan yang
memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Dar Edi Yoga, kesederhanaan dalam perayaan institusi
negara seharusnya tidak berhenti di tingkat pusat. Praktik tersebut perlu
menjadi contoh bagi seluruh satuan utama TNI hingga satuan di bawahnya,
termasuk dalam menyelenggarakan kegiatan kedinasan dan menerima kunjungan
pimpinan.
Dia juga menyoroti budaya feodal yang masih tercermin dalam
kebiasaan menyambut kedatangan pimpinan dengan kemegahan, seremoni berlebihan,
penampilan khusus, hingga penyediaan konsumsi yang tidak proporsional.
"Sudah saatnya kita menghapus budaya feodal dalam
birokrasi dan institusi negara. Pimpinan tidak perlu disambut dengan kemegahan
seolah-olah kedatangannya merupakan peristiwa luar biasa. Penghormatan kepada
pimpinan tidak harus diwujudkan melalui seremoni yang menghabiskan
anggaran," kata Dar Edi Yoga, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, kunjungan pimpinan seharusnya lebih berorientasi
pada substansi pekerjaan, evaluasi kinerja, dan penyelesaian persoalan di
lapangan. Bukan justru membuat satuan yang dikunjungi sibuk mempersiapkan
penyambutan, mengerahkan personel, serta mengeluarkan biaya untuk acara
seremonial.
"Pimpinan datang untuk melihat kondisi sebenarnya,
mendengar persoalan, dan memastikan pekerjaan berjalan baik. Jangan sampai yang
dipersiapkan justru panggung, sambutan, dan jamuan, sementara persoalan nyata
di lapangan tidak terselesaikan," katanya.
Dar Edi Yoga menilai contoh kesederhanaan yang ditunjukkan
Panglima TNI perlu diterapkan secara konsisten, dari tingkat markas besar
hingga satuan terkecil. Dengan demikian, efisiensi tidak hanya menjadi
instruksi di atas kertas, tetapi berubah menjadi budaya kerja.
Yoga juga mendorong agar peresmian proyek pemerintah tidak
selalu mensyaratkan kehadiran langsung Presiden. Untuk kegiatan yang
memungkinkan, peresmian dapat dilaksanakan secara hybrid atau melalui
konferensi video sehingga tetap berjalan baik tanpa biaya besar untuk mobilisasi
dan rangkaian acara.
"Tidak semua proyek harus diresmikan langsung oleh
Presiden. Jika bisa dilakukan secara hybrid, mengapa harus mengeluarkan
anggaran besar untuk sebuah seremoni? Kehadiran Presiden sebaiknya
diprioritaskan untuk agenda yang benar-benar strategis," ujarnya.
Yoga mengingatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah,
dan organisasi agar tidak menjadikan kehadiran Presiden sebagai tolok ukur
keberhasilan sebuah acara. Undangan kepada kepala negara maupun pejabat tinggi
perlu mempertimbangkan urgensi, manfaat, serta biaya yang ditimbulkan.
Pesan efisiensi tersebut sejalan dengan arahan Presiden
Prabowo dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan di Senayan,
Jakarta, Jumat (14/8/2026). Presiden menekankan perlunya mengurangi pengeluaran
tidak efisien, termasuk anggaran untuk perayaan ulang tahun kementerian,
pemerintah daerah, dan berbagai kegiatan seremonial.
"Kita harus kurangi semua pengeluaran tidak efisien.
Saya gembira sekarang tidak ada lagi anggaran untuk ulang tahun kementerian
cukup potong tumpeng di kantor saja," demikian pesan Presiden.
Bagi Dar Edi Yoga, efisiensi bukan berarti menghilangkan
penghormatan atau merendahkan kedudukan seorang pemimpin. Justru, kepemimpinan
yang sehat harus dibangun di atas keteladanan, profesionalisme, dan kedekatan
dengan persoalan rakyat, bukan melalui simbol kemewahan dan jarak sosial.
"Budaya feodal membuat bawahan lebih sibuk menyenangkan
atasan daripada menyelesaikan pekerjaan. Kita harus mengubah pola pikir itu.
Hormati pimpinan karena integritas, keteladanan, dan hasil kerjanya, bukan
karena megahnya penyambutan," tegasnya.
Ia berharap semangat kesederhanaan diterapkan dalam
peringatan hari jadi institusi, kunjungan pejabat, rapat koordinasi, hingga
peresmian proyek. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus memiliki alasan dan
manfaat yang jelas bagi kepentingan publik.
"Uang negara berasal dari rakyat dan harus kembali
untuk kepentingan rakyat. Jangan sampai rakyat diminta berhemat, sementara
institusi dan pejabat justru mempertahankan kemewahan seremoni. Sudah waktunya
budaya feodal ditinggalkan dan budaya melayani rakyat benar-benar menjadi
panglima," pungkas Dar Edi Yoga.


Posting Komentar