Roy Wijaya Bertekad Jadikan Politeknik SSR, Barometer Kampus Film Nasional
AKURATNEWS.ID, JAKARTA — Industri film dan ekonomi kreatif Indonesia terus berkembang, namun pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknis sekaligus memahami budaya kerja profesional. Menjawab tantangan tersebut, sutradara, penulis, pelaku budaya, sekaligus konseptor seni pertunjukan Roy Wijaya bertekad membawa Kanpus Politeknik SSR sebagai kampus film berstandar industri dan Profesional.
Bagi Roy, perguruan tinggi vokasi di bidang film tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori dan teknik produksi. Kampus harus mampu menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata industri, mulai dari rumah produksi, stasiun penyiaran, hingga perkembangan industri konten digital.
“Apa yang dipelajari di dalam kelas harus menjadi cerminan langsung dari apa yang berlaku di lapangan,” ujar Roy Wijaya.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi film idealnya mampu beradaptasi dengan cepat ketika memasuki dunia kerja. Mereka harus memahami bagaimana sebuah produksi berjalan, bagaimana bekerja dalam tim, mengikuti standar operasional, mengelola waktu, serta memiliki etika dan disiplin kerja yang sesuai dengan tuntutan profesional.
Bukan Sekadar Kampus, tetapi Barometer SDM Film
Roy Wijaya ingin Politeknik SSR tidak berhenti sebagai institusi pendidikan yang mencetak lulusan. Lebih jauh, kampus tersebut diharapkan dapat menjadi barometer kualitas sumber daya manusia industri film di Indonesia.
Konsep tersebut diwujudkan melalui pendidikan yang lebih banyak bersentuhan dengan praktik produksi nyata. Mahasiswa diarahkan untuk memahami tahapan kerja sebagaimana yang mereka temui di lingkungan profesional.
Dengan pendekatan tersebut, lulusan Politeknik SSR diharapkan memiliki kesiapan untuk masuk ke berbagai bidang, baik produksi film, televisi, penyiaran, maupun industri konten kreatif yang terus berkembang.
“Kualitas lulusan nanti akan menjadi indikator sejauh mana seseorang siap terjun langsung ke lokasi syuting, rumah produksi, atau rumah penyiaran tanpa memerlukan pelatihan ulang yang berlebihan,” katanya.
Keahlian Teknis Harus Berjalan Bersama Karakter Profesional
Bagi Roy, kemampuan menggunakan kamera, mengolah gambar, menyunting video, menulis skenario, atau memahami tata produksi hanyalah salah satu bagian dari kompetensi yang dibutuhkan industri.
Lebih dari itu, mahasiswa harus dibentuk menjadi tenaga profesional yang mampu bekerja dalam sistem. Karena produksi film merupakan kerja kolektif, kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menghargai waktu, memahami tanggung jawab, dan menjaga etika menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.
“Banyak lulusan seni film yang mahir secara teknis, namun belum siap secara sistem kerja industri. Celah inilah yang ingin kami jembatani membentuk karakter sekaligus keahlian secara seimbang,” tutur Roy.
Gagasan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengalaman Roy sebagai pelaku budaya dan konseptor seni pertunjukan turut membentuk pandangannya terhadap pendidikan film. Baginya, industri kreatif membutuhkan manusia yang tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga memahami proses, budaya kerja, dan tanggung jawab profesional di balik sebuah karya.
Mendorong Standar Baru Industri Film Nasional
Ambisi Roy Wijaya tidak berhenti pada upaya menciptakan lulusan siap kerja. Ia ingin Politeknik SSR ikut mendorong peningkatan standar industri film nasional.
Kampus diharapkan memiliki lingkungan belajar yang mendekati suasana kerja profesional, didukung fasilitas produksi yang memadai, pengajar yang memahami perkembangan industri, serta hubungan yang kuat dengan pelaku dan perusahaan di sektor kreatif.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana membuat karya, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produksi dikelola secara profesional, efisien, dan bertanggung jawab.
“Lulusan Politeknik SSR tidak hanya mengisi posisi yang tersedia, tetapi juga membawa cara kerja yang lebih rapi, efisien, dan modern. Secara perlahan hal ini akan mengangkat mutu keseluruhan ekosistem industri film nasional,” jelas Roy Wijaya.
Membangun Jembatan antara Kampus dan Dunia Industri
Gagasan menjadikan Politeknik SSR sebagai kampus film berstandar industri pada akhirnya merupakan upaya membangun jembatan yang lebih kuat antara pendidikan dan dunia profesional.
Roy Wijaya melihat pendidikan film sebagai bagian penting dari pembangunan ekosistem perfilman nasional. Kampus harus mampu membaca perubahan teknologi, kebutuhan industri, perkembangan platform digital, sekaligus tetap memberikan ruang bagi kreativitas, seni, dan budaya.
Jika gagasan tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, Politeknik SSR bukan hanya akan menjadi tempat mahasiswa memperoleh ijazah, tetapi juga menjadi ruang pembentukan talenta film yang siap bekerja, berkarakter, kreatif, dan memiliki standar profesional.
Tekad Roy Wijaya menjadikan Politeknik SSR sebagai barometer kampus film berstandar industri menjadi sebuah visi yang menempatkan pendidikan, seni, budaya, dan kebutuhan industri dalam satu ekosistem. Sebuah langkah yang diharapkan dapat ikut mendorong perfilman Indonesia menjadi semakin profesional dan memiliki daya saing di tingkat nasional maupun global.
Posting Komentar