Perwatusi ‘Bergerak Bersama untuk Tulang yang Lebih Kuat’

Peserta kegiatan ‘Bergerak Bersama untuk Tulang yang Lebih Kuat’/Foto. Ist/akutratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Menjadi lanjut usia bukan berarti
harus berhenti bergerak. Justru pada fase ketika kemampuan fisik mulai menurun,
aktivitas yang aman, tepat dan menyenangkan menjadi bagian penting untuk menjaga
kualitas hidup.
Semangat itulah yang diusung Perkumpulan Warga Tulang Sehat
Indonesia (Perwatusi) melalui Pelatihan dan Sertifikasi Instructor Chair
Exercise (ICE) bagi para Instruktur Osteoporosis Perwatusi (IOP), yang digelar
di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat
(18/9/2026).
Mengusung tema “Bergerak Bersama untuk Tulang yang Lebih
Kuat”, pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 18–19 September 2026,
tersebut diikuti 74 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Panitia, dr. Ida Wisnubaroto, mengatakan pelatihan ini
tidak sekadar meningkatkan keterampilan teknis para instruktur dalam melakukan
senam, tetapi juga memperkuat pengetahuan dan kreativitas mereka dalam
memberikan latihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Tujuannya meningkatkan keterampilan dan teknik senam yang
benar, pengetahuan, serta memacu daya kreasi para instruktur,” ujarnya, Jumat
(18/9/2026).
Melalui pelatihan tersebut, Perwatusi menargetkan lahirnya
instruktur Chair Exercise yang profesional, kompeten dan bersertifikat. Mereka
diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya para lansia, agar
tetap dapat berolahraga secara aman, nyaman dan menyenangkan bersama instruktur
Perwatusi.
Ketua Umum Perwatusi Anita A. Hutagalung dalam sambutannya
menegaskan bahwa seorang instruktur tidak boleh berhenti belajar. Kompetensi
harus terus diperbarui agar semakin mampu mendampingi masyarakat dari berbagai
kelompok usia.
“Sebagai seorang instruktur, kita tidak boleh berhenti belajar.
Kita harus terus mengasah diri, memperbarui pengetahuan, dan melengkapi
kompetensi,” kata Anita.
Ia menjelaskan, Perwatusi terus memperluas program sesuai
kelompok usia. Untuk remaja tersedia Osteodance, sementara bagi kelompok dewasa
terdapat Senam Pencegahan Osteoporosis Perwatusi. Kini, kemampuan para IOP
dilengkapi dengan Chair Exercise yang ditujukan bagi masyarakat lanjut usia.
Dalam pelatihan ICE, para peserta dibekali pemahaman
mengenai karakteristik lansia, keterbatasan gerak, aspek keselamatan dan
keamanan berlatih, hingga teknik mengajarkan Chair Exercise secara tepat.
Menurut Anita, menjadi instruktur bukan sekadar mampu
melakukan gerakan. Seorang instruktur harus memahami siapa yang didampinginya,
memberikan gerakan yang sesuai, mampu memotivasi, serta membantu lansia tetap
aktif, percaya diri, sehat dan bahagia.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada perolehan
sertifikat. Pengetahuan yang didapat harus dibawa ke tengah masyarakat dengan
membuka lebih banyak kelas latihan bagi lansia, baik melalui kelompok,
komunitas maupun layanan privat.
“Usia lanjut bukan berarti berhenti bergerak. Lansia tetap
bisa aktif, tetap bisa sehat, tetap bisa produktif, dan tentu saja lansia harus
tetap bahagia,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan
Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, MPAM, mengapresiasi semangat para
peserta sekaligus membuka secara resmi pelatihan tersebut.
Imran mengatakan perhatian terhadap kesehatan lansia semakin
penting seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Ia
menyebut sekitar 12 persen penduduk Indonesia atau sekitar 34 juta orang saat
ini berada dalam kelompok lansia.
Ia juga mengaitkan pelatihan tersebut dengan hasil
pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pemerintah. Hingga Juli 2026, menurut
Imran, sekitar 10 juta lansia telah menjalani skrining dalam program Cek
Kesehatan Gratis.
Hasil skrining tersebut, kata dia, dapat memberikan gambaran
mengenai kondisi kesehatan dan tingkat kemandirian lansia, termasuk kemampuan
melakukan aktivitas sehari-hari. Dari sana dapat diketahui kebutuhan intervensi
maupun pendampingan yang sesuai.
Imran menyoroti persoalan kurangnya aktivitas dan mobilitas
yang dapat dialami lansia. Ketika seseorang mulai mengalami kesulitan bergerak,
kondisi tersebut dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan dan meningkatkan
ketergantungan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, ia berharap para instruktur Perwatusi tidak
berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya memperluas
edukasi dan aktivitas fisik yang aman bagi lansia di daerah masing-masing.
Pelatihan yang diikuti peserta dari sejumlah provinsi
tersebut, menurut Imran, juga menjadi kesempatan untuk memperkuat koordinasi
antara Perwatusi dan jejaring kesehatan di daerah.
Ia menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk wilayah
dengan persentase penduduk lansia yang tinggi, mencapai sekitar 17 persen.
Namun, jumlah lansia secara absolut juga besar di sejumlah provinsi lain.
“Jangan hanya sampai di sini. Teman-teman juga bisa
berkoordinasi dengan jejaring di daerah untuk melakukan sosialisasi,” pesannya.
Dengan lahirnya instruktur Chair Exercise yang kompeten dan
bersertifikat, Perwatusi berharap gerakan menjaga kesehatan tulang tidak
berhenti di ruang pelatihan. Gerakan itu diharapkan sampai ke rumah-rumah,
komunitas dan ruang-ruang aktivitas lansia.
Sebab, menjaga tulang tetap kuat bukan hanya tentang
mencegah osteoporosis. Lebih jauh, gerakan itu adalah upaya menjaga agar para
lansia tetap memiliki kesempatan untuk bergerak, mandiri, produktif dan
menikmati masa tua dengan bahagia.
Kegiatan pelatihan ini mendapat dukungan dari Kementrian
Kesehatan RI, Purnomo Yusgiantoro Centre, Entrasol, Bayan, dan SSP
Posting Komentar