BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute

 

BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute

AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Dalam upaya menyeluruh memperkokoh ekosistem sinema nasional, Badan  Perfilman Indonesia (BPI) menempuh dua  langkah strategis sekaligus selama sepekan terakhir, mencakup sektor hulu hingga hilir—mulai dari pembinaan talenta film dokumenter hingga pelestarian warisan perfilman tanah air.

Untuk  membenahi  hambatan  utama  pada  sektor  dokumenter,  BPI  secara  resmi  bermitra dengan  Eagle  Institute  Indonesia,  penyelenggara  Eagle  Awards   Documentary Competition yang   berpengalaman  lebih  dari  satu dekade melahirkan  sineas  dokumenter. 

Kemitraan  ini berfokus mengatasi putusnya mata rantai antara tahap penciptaan gagasan, proses produksi, hingga penayangan kepada penonton.

Menurut Ketua Umum  BPI, Fauzan  Zidni, kolaborasi ini meliputi lima pilar utama: peningkatan pengembangan  dan    produksi,   penyelarasan   standar  kompetensi,   perluasan   jangkauan distribusi dan  festival, pemetaan potensi talenta, hingga penguatan advokasi kebijakan.

Lebih dari sekadar dukungan formal, kemitraan BPI dan  Eagle Institute Indonesia difokuskan untuk membangun  jalur  nyata  bagi  sineas  lokal—mulai  dari  tahap pendampingan,  standardisasi kualitas industri, hingga pembuka akses ke panggung serta pasar internasional.

Selama  ini,  kebuntuan  yang   kerap  dihadapi  pembuat  film  dokumenter  berbakat  bukan disebabkan oleh minimnya gagasan, melainkan ketiadaan alur yang  pasti dari ranah produksi menuju rantai distribusi. Melalui sinergi ini, kedua pihak berkomitmen memberikan ruang pemutaran yang  lebih luas bagi karya-karya dokumenter tanah air, baik skala nasional maupun internasional.

Inisiatif  Pelestarian  Arsip  Sinema  Melalui  Diskusi  Lintas  Sektor. Sebagai  bagian  dari  upaya menjaga warisan perfilman Indonesia, Badan  Perfilman Indonesia (BPI) menggelar Kelompok Diskusi  Terpumpun (FGD) berstatus "Pengelolaan Koleksi dan  Konservasi" pada 3 September

2026    di     Gedung    E    Kemendikbud,    Jakarta    Pusat.    Diskusi    ini    mempertemukan bermacam-macam pemangku kepentingan—termasuk lembaga pemerintah, komunitas, pengelola festival, dan  rumah produksi—untuk saling berbagi pengalaman, perspektif, serta membedah berbagai tantangan nyata dalam perawatan arsip film nasional. 

Diskusi tersebut menghadirkan empat narasumber kunci: Achmad Dedi Faozi (Arsip Nasional Republik  Indonesia/ANRI),  Rizka  F. Akbar  (Koordinator  Utama Tim  Kerja  Pengarsipan  Audio Visual/Film Kemendikbud), Aditya Martodiharjo (SIKLUS), serta Intan Nadya  Maulida (Manajer Program   JAFF   Archive).   Berbagai   masukan   dan    tanggapan   dari   perwakilan   Museum Penerangan,  TVRI,  UICS,  PFN,  dan   para  pegiat  arsip  lainnya  turut  memperkaya dinamika pembahasan.

Kebutuhan Sinergi Kolaboratif dalam Pelestarian Arsip Film. Meskipun berbagai pihak telah secara mandiri menjalankan inisiatif pemeliharaan film Indonesia, diskusi ini menegaskan pentingnya memperkuat koordinasi dan  kolaborasi lintas sektor. Beberapa fokus  utama yang teridentifikasi meliputi:

  • Konsolidasi  Jaringan:   Berbagai  upaya pelestarian  yang  selama  ini  berjalan  secara sektoral perlu disatukan dalam jejaring koordinasi antarlembaga yang solid.
  • Penanganan   Kendala    Operasional:    Para    pemangku   kepentingan    menghadapi tantangan serupa, mulai dari keterbatasan fasilitas, pendanaan, SDM ahli, hingga kelangkaan perangkat pemutar (playback).
  • Standardisasi Kerja: Integrasi antarorganisasi memerlukan keterselarasan terminologi, standar metadata, dan alur kerja pengarsipan yang seragam.
  • Pemanfaatan    Digitalisasi:     Proses    digitalisasi    difokuskan    untuk    memperluas aksesibilitas dan  pengamanan cadangan data, tanpa mengabaikan pemeliharaan fisik medium asli.
  • Dampak  Luas Preservasi: Kegiatan preservasi diharapkan membawa manfaat konkrit bagi  publik,  pendidikan,  penelitian,  serta  penguatan ekosistem  kebudayaan secara berkelanjutan.

Salah satu gagasan utama yang  mencuat dalam diskusi tersebut adalah urgensi pembentukan sebuah hub  atau simpul bersama. Wadah kolaboratif ini ditujukan untuk memfasilitasi berbagi fasilitas, teknologi, basis data, serta kepakaran yang  selama ini sukar  dijangkau secara mandiri oleh  tiap  lembaga. 

Tingginya  dorongan dari  beragam  pihak  ini  mengindikasikan  kuatnya kesadaran kolektif bahwa pelestarian arsip sinema merupakan tanggung jawab bersama.

Sebagai tindak lanjut konkrit, BPI bersama para pegiat preservasi akan  menyusun pemetaan komprehensif  atas  ekosistem  pelestarian  film  nasional.  Langkah  ini  mencakup  evaluasi kebutuhan koordinasi dan  penyelarasan standar, mulai dari kejelasan peran antarlembaga, alur kerja, hingga kesepakatan terminologi.

Selain itu, serangkaian FGD susulan akan  digelar untuk membedah aspek preservasi audiovisual yang lebih spesifik, seperti digitisasi dan restorasi, tata kelola  HAKI  serta hak  akses,  hingga  perumusan  kebijakan  pelestarian  sesuai  amanat UU Perfilman.

BPI memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas sikap terbuka dari seluruh pemangku kepentingan yang  telah hadir dan berbagi pengalaman dalam forum ini. BPI berkomitmen untuk konsisten menjadi platform inklusif yang  menyerap berbagai aspirasi demi menjaga ingatan kolektif sinema Indonesia. 

Ikuti perkembangan lebih lanjut melalui Instagram @bpi_indonesiafilmagency dan LinkedIn linkedin.com/company/badanperfilmanindonesia/

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute
  • BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute
  • BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute
  • BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute
  • BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute
  • BPI Perkuat Ekosistem Perfilman dengan Gandeng Eagle Institute

Posting Komentar