Upaya Revolusi Energi Nasional Jadi Harga Mati untuk Kemandirian dan Keadilan Bangsa

Gambar Ilustrasi Revolusi Energi Nasional/Foto. ChatGPT/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Upaya revolusi energi nasional
menjadi harga mati di tengah ketidakpastian dan gejolak global yang terjadi
saat ini. Indonesia harus terus berupaya
untuk melepas ketergantungan dari
bahan-bahan yang menggali kekayaan dari perut bumi.
Di tengah tantangan tersebut, upaya revolusi energi nasional
bisa dimulai dari memberdayakan matahari, angin, air, dan tanaman sumber energi
yang tak pernah habis. Revolusi energi nasional bukan sekadar mengganti sumber
daya sebab hal ini berbicara tentang masa depan anak bangsa, kemandirian,
keberanian, dan keadilan energi untuk semua.
Upaya revolusi energi nasional membuka peluang bagi anak bangsa untuk berinovasi,
menciptakan sumber energi baru yang ramah lingkungan dan mandiri. Dengan
revolusi energi nasional maka akan dapat menghemat subsidi migas dan
mengalihkan triliunan APBN untuk membangun sekolah, menaikkan gaji guru,
memberantas kemiskinan hingga meningkatkan pelayanan kesehatan.
Salah satu tokoh yang menggagas revolusi energi nasional
sekaligus Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Mulyadi, menegaskan
pentingnya memberikan ruang kepada anak-anak bangsa untuk terus berinovasi
mencari potensi energi baru terbarukan. Mulyadi meyakini, dengan memberikan
ruang kepada anak-anak bangsa menggali potensi energi baru terbarukan akan
mengurangi beban negara untuk mensubsidi energi.
“Kalau diberi ruang, ternyata mereka juga kreatif dan terus
berinovasi untuk mencari potensi-potensi energi terbarukan sehingga Pertamina
saya kira betul-betul konsen dan membuka ruang itu sehingga subsidi energi yang
dikeluarkan oleh pemerintah secara signifikan akan berkurang,” kata Mulyadi
dalam sebuah video dikutip, Minggu, 14
Juni 2026.
Atas dasar itu, Mulyadi berharap, Pertamina selaku
perusahaan milik negara juga dapat ikut membantu dan memberikan ruang untuk
potensi energi terbarukan. Menurutnya, hal ini merupakan langkah konkret dalam
melakukan revolusi energi nasional.
“Kami berharap Pertamina memberikan ruang untuk potensi
energi terbarukan dan mengidentifikasi, ya, mengidentifikasi upaya-upaya yang
justru menghambat upaya yang Bapak/Ibu laksanakan terkait membangun bisnis yang
low carbon tadi,” tegas Mulyadi.
“Kenapa? Karena ini menjadi kompetitor untuk yang berbisnis
yang berbasis karbon. Nah, ini harus diidentifikasi Bapak/Ibu sekalian,”
sambung Mulyadi dalam video tersebut.
Jepang dan Cina Sudah Revolusi Energi, Indonesia Saatnya
Diketahui saat ini dunia
memasuki era revolusi energi. Jepang bertumpu pada hidrogen dengan biaya
isi ulang sekitar 11 dolar per kilogram dan subsidi pemerintah 700 yen per
kilogram. Meski memiliki teknologi yang
canggih ternyata biaya yang dikeluarkan oleh Jepang masih sangat tinggi.
Sementara itu, Cina memilih listrik sebagai strategi nasional. Pada 2024, investasinya menembus 625 miliar dolar Amerika Serikat untuk energi bersih, baterai, jaringan listrik, dan kendaraan listrik. Namun, skalanya besar, biayanya mahal, dan prosesnya merusak lingkungan karena penggunaan nikel.
Indonesia mempunyai peluang berbeda untuk merevolusi energi
yakni dengan memanfaatkan kekayaan hayati. Salah satu upaya yang dilakukan oleh para anak muda Indonesia
menciptakan bahan bakar nabati bernama Bobibos.
Bobibos sendiri merupakan energi terbarukan yang lahir dari
tanah sendiri. Pengelolaan dan
produksinya jauh lebih murah, sederhana, dan berdaulat.
Apabila Jepang membayar 11 dolar perkilogram hidrogen dan
Cina menggelontorkan ratusan miliar dolar, Indonesia bisa memproduksi energi
lebih terjangkau dengan bahan baku lokal dan tenaga kerja sendiri.
Jepang dengan hidrogen, Cina dengan listrik. Indonesia
memilih jalur ketiga: energi nabati, ramah lingkungan, dan mandiri. Bobibos
energi merah putih dari tanah air untuk dunia.
Posting Komentar