Ketika IKN Membelah Pandangan
![]() |
| Menteri Negara BUMN Periode 2011-2014, Dahlan Iskan/Foto. ChatGPT/akuratnews.id |
AKURATNEWS.ID,
JAKARTA - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai telah membelah pemikiran
masyarakat Indonesia. Terbelah dalam arti, IKN sudah menjadi kenyataan. Istana
sudah terbangun, juga istana Wapres, dan beberapa Kementerian Koordinator juga
sudah terbangun, ada lima Kemenko. Bandara VVIP yang terbesar di seluruh
Kalimantan juga sudah dibangun, hal tersebut disampaikan oleh Menteri Negara
BUMN Periode 2011-2014, Dahlan Iskan, dalam Seminar Publick secara hybrid
dengan tema, “Manajemen Krisis di Tengah ketidakpastian Global,” Selasa
(5/5/26).
“Itu
artinya, semuanya menghabiskan beberapa ratus triliun rupiah untuk membangun
semua itu. Tapi yang menjadi pikiran kita adalah Mau diapakan semua bangunan
itu? Karena jelas-jelas mau ditempati, ya belum bisa. Tapi kalau ditelantarkan
juga uang yang sudah terpakai sekian banyak itu pertanggungan jawab ilmiahnya
bagaimana?,” ujar Dahlan.
Lebih
jauh, Dahlan menegaskan pertanyaannya, tidak usah dahulu pertanggungjawaban
politik atau hukum, tapi bagaimana pertanggungjawaban ilmiahnya?
“Nah,
itu betul betul merupakan salah satu yang buruk dari yang ada. Itu adalah
prinsip yang disebut ICOR. Yakni ada prinsip investasi dalam ekonomi setiap
satu rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan berapa rupiah. Itu prinsip ICOR
yang ternyata kita buruk sekali. Kita mengeluarkan sekian ratus triliun di IKN,
kita dapat apa? Akan dapat apa? Belum dapat apa apa,” ungkapnya.
“Semua
itu, jelas tidak ilmiah sama sekali. Lalu bandar IKN, kalau dari bandara
Sepinggan Kaltim ke IKN cukup 3 menit saja sudah sampai. Naik mobil 45 menit
sampai. Yang jadi pertanyaan, kenapa bandara VVIP IKN itu dibangun sekarang?
Meskipun ngotot harus dibangun menurut prinsip ekonomi, ya jangan sekarang.
Karena, ICOR kita kacau dan itu mau diapakan,” lanjutnya.
Dahlan
mengungkapkan, jika masalah seperti IKN telah ada contohnya. Dia mencotohkan
seperti Bandara Kertajati, kerta laying di Palembang, yang nasibnya sama dengan
IKN.
“Kita
terlalu banyak yang seperti IKN itu. Contoh lain Bandara Kertajati, juga sama.
Tidak menjawab berapa triliun menghasilkan berapa? Kita tahu kereta layang di Palembang, berapa
triliun tidak dipakai. Juga Bandara baru di Kediri. 30 triliun sampai sekarang
tidak dipakai. Terlalu banyak yang seperti itu. Jadi kita kalau tidak maju
memang pantas,” tegasnya.
Saat
ditanya terkait diberikan wewenang, Dahlan menjelaskan, akan merubah fungsi
bandara-bandara tersebut yang dinilainya akan lebih bermanfaat dan bernilai
ekonomis.
“Kalau
saya, bandaranya sendiri akan saya jadikan bandara militer. Tidak bandara umum,
supaya tetap ada gunanya. Pangkalan udara di Madiun atau di Halim
Perdanakusumah, pindah ke sana (IKN). Di Halim itu ada nilai ekonominya.
Katakanlah biaya bangun bandara di sana tercukupi dari nilai ekonomi baru di
Halim. Atau, Pangkalan Udara Iswahyudi Madiun pindah ke sana. Nilai ekonomi
bandara Iswahyudi sudah tercukupi,” jawabnya.
“Sementara
kita tak perlu merasa kehilangan apa-apa. Kecuali Iswahyudi ditutup tapi tak
ada gantinya. Dengan demikian bandara baru Kediri bisa beroperasi. Tak ada lagi
alasan bandara Kediri akan mengganggu bandara militer Iswahyudi. Itu cara
memperbaiki ICOR. Sementara untuk bandara kertajati mau diapakan, itu belum
ketemu. Tetapi hal yang lain harus ditemukan caranya, dari semua yang sudah
dibangun tapi belum bisa dimanfaatkan,” papar Dahlan.

Posting Komentar