Ketika IKN Masuk dalam Pembahasan Manajemen Krisis
Oleh:
Rektor Paramadina, Prof. Didik Junaidi Rachbini, M.Sc., Ph.D.
Diskusi
tentang manajemen kriris masuk ke masalah Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dinilai
menjadi beban pemborosan anggaran negara dan akan sia-sia pajak rakyat yang
diinvestasikan secara sembrono dengan keputusan politik yang salah kaprah.
Kritik
yang luar biasa terhadap keputusan politik ini sudah diberikan oleh para ahli,
para intelektual, perguruan tinggi dan masyarakat umum, bahwa proyek dengan
dana besar tersebut tidak layak, tergesa-gesa dan ngawur.
Tetapi
pimpinan yang bebal terus menjalankannya seolah-olah kritik tersebut seperti
anjing menggonggong dan kafilah berlalu. Bukti tidak layak tersebut, pemerintah
baru pun enggan untuk mempersiapkan IKN sebagai ibu kota meskipun sudah
ditetapkan secara formal.
Bagaimana menyelamatkan aset negara yang potensial dan
bahkan sudah bertahun-tahun mangkrak?
Cara yang harus dipikirkan agar tidak menjadi beban jika ASN
tidak bisa pindah segera, maka dicari alternatif untuk membangun komunitas baru
di lokasi ini. Harus ada insiatif cepat dan kebijakan yang segera agar menciptakan
pertambahan populasi, yang bisa menghidupkan ekonomi lokal. Cara inilah yang
penting dilakukan agar IKN hidup dan sekaligus menciptakan dengan cepat populasi
baru (critical mass).
Cara
mengatasi agar IKN tidak mangkrak bisa
dilakukan dengan pembangunan kegiatan pendidikan tinggi di lokasi tersebut
dengan memanfaatkan gedung-gedung yang sudah jadi tapi mangkrak. Presiden bisa memerintahkan Menteri
Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi agar setidaknya 10 kampus-kampus besar (UI, IPB, ITB, UGM, Unair, UB dan lainnya)
secara serempak membuka kelas jauh atau sebagai kampus kedua.
Kegiatan
pendidikan dilaksanakan dengan segera di Gedung-gedung IKN tetapi pada saat
yang sama menyiapkan lokasi-lokasi kuhsus dengan segenap
fasilitasp-fasilitasnya. Masing-masing kampus menerima 5 ribu mahasiswa sehingga setiap tahun ada 50 ribu
populasi. Dalam 4 tahun akan ada 200 ribu populasi baru di IKN.
Kampus-kamnpus
besar tersebut setiap tahun sangat berlebihan menerima sangat banyak mahasiswa. Penerimaan
mahasiswa baru di kampus negeri berkisar antara 15 ribu sampai 25 ribu orang.
Selama
3-4 tahun terakhir ini jumlah mahasiswa di kampus-kamnpus negeri PTN bertambah
dari 2,9 juta mahasiswa menjadi 4,5 juta mahasiswa. Jika 200 ribu pindah ke IKN
selama 3-4 tahun, maka populasi baru ini akan menghindari IKN mangkrak. Jadi
ada kehidupan di sana dan kalau mau, presiden Prabowo tinggal perintahkan saja
IKN tidak jadi mangkrak.
Aset besar di IKN harus diselamatkan dengan
ide-ide dan pemikiran yang out of the box. Dengan cara ini populasi baru
tersebut menghidupkan ekonomi lokal tidak hanya 200 ribu orang tersebut tetapi
dampaknya terhadap kesempatan kerja baru akan lebih besar lagi.
Kebijakan dan program seperti ini jelas murah
sekali biayanya dibanding dengan membuat proyek transmigrasi misalnya, yang
belum tentu mewnghidupkan ekonomi lokal secara langsung. Sudah jelas program ini dapat meningkatkan
utilisasi aset dan menyelamatkan IKN menjadi proyek mangkrak seperti ibu kotga
baru di berbagai belahan dunia.
Kebijakan kampus baru PTN di IKN langsung
menciptakanmultiplier effek karena akan menambah kegiatan ekonomi pangan,
kuliner dan berbagai jasa yang menyertainya. Tambahan lain adalah ekonomi
student housing, asrama dan sejenisnya termasuk transportasi. Karena di situ suda terbentuk brain pooling,
maka dengan gampang ekosistem diperluas menjadi pusat riset digital seperti di
Amerika. Swasta bisa diajak untuk ekosistem
riset & industri, pusat hub inovasi, mungkin industri hijau.

Posting Komentar