Catatan Menteri LH Baru: Jumhur Hidayat Sang Aktivis
![]() |
| Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat/Foto. Ist/akuratnews.id |
Oleh: Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini,
Ph.D.
AKURATNEWS.ID - Keputusan Presiden Prabowo mengangkat Jumhur Hidayat sebagai
Menteri Lingkungan Hidup menarik disimak karena aktornya adalah Jumhur Hidayat,
sang aktivis sepanjang masa dan memiliki DNA pergerakan dalam sepanjang
hidupnya. Juga hadir dalam pelantikan
itu sahabat dekatnya sang pendobrak gagasan dan debat publik Rocky Gerung, yang
disapa ramah dan senda gurau oleh Presiden.
Bagaimana prediksi kebijakan yang akan diambil oleh Menteri
LH yang baru ini? Apakah Jumhur akan tetap sebagai aktivis dengan penuh idealisme
atau menjadi Jumhur sang birokrat karena tidak bisa menaklukkan tatanan yang
sudah mendarah-daging sejak lama?
Dalam pandangan saya sebagai sahabat yang sudah saling kenal
lebih tida dekade, sejak tahun 1990-an setelah keluar dari penjara, Jumhur
sudah bermetamorfose dua fase. Yang pertama figur jumhur Hidayat aktivisme
konfrontatif (era mahasiswa).
Jumhur kerap turun dalam aksi untuk pembelaan hak-hak petani
dan menentang penggusuran tanah rakyat
seperti dalam kasus tanah Badega, Kacapiring, Cimacan, dan Kedung Ombo tahun
1988. Inilah fase memberontak yang menyebabkan masuk jeruji besi. Setelah itu masuk dalam aktivisme dan gerakan
LSM bersama tokoh Adi Sasono. Saya sempat mengajari pakai dasi yang benar
ketika mengikuti latihan di Malaysia dan Jumhur masih ingat sekali peristiwa
tersebut sampai sekarang.
Sebagai anak ITB pada fase ini, Jumhur mengambil posisi pada
isu struktural seperti penggusuran tanah, hak petani (Badega, Kedung Ombo) dan
berani menghadapi risiko negara represif (penangkapan, penyiksaan, pemecatan).
Ini merupakan proses aktivisme frontal yang tidak tunduk dalam tekanan
interogasi dan ancaman penjaran. Saya
melihat ini merupakan gerakan aktivisme
berbasis moral-ekonomi, yakni keberpihakan pada rakyat kecil.
Fase kedua adalah fase institusionalisasi gagasan (era
kebijakan dan lembaga) dimana Jumhur sudah bisa tampil sebagai pejabat . Untuk
membaca arah kebijakannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup fase ini perlu
dilihat dengan membedah pola pikirnya dengan latar belakang yang kuat dari fase
sebelumnya. Jumhur sebelumnya sudah
pernah menjabat sebagai Kepala Badan Penempatan dan Perlindungan TKI selama 7
tahun (2007-2014). Fase ini merupakan proses institusionalisasi dari perjalanan
hidupnya.
Bahkan sebelumnya bergabung dengan Presiden Habibie melalui
Adi Sasono, seniornya di ITB, yang sama-sama dropout kuliah karena denyut gerakan aktivisme yang kuat. Ketika masuk ke
ranah ICMI Jumhur memimpin CIDES dan
terlihat terlihat di sini ada pergeseran
dari konfrontasi menjadi mediasi, ari aksi menjadi formulasi kebijakan (CIDES
memasok kebijakan kepada Presiden Habibie). Kiprahnya masuk ke dalam kekuasaan
walaupun tidak di tengah ada benang merahnya, yakni tetap pro-rakyat,
mengembangkan ekonomi kerakyatan dan enjadi jembatan masyarakat–negara.
Pertanyaan saya sekali lagi, apakah Jumhur Menteri LH yang
baru akan tetap sebagai aktivis dengan penuh idealisme atau menjadi Jumhur sang
birokrat? Jawaban saya dan mungkin juga harapan, Jumhur sudah pada usia matang
dan senior tetap tidak akan meninggalkan idealisme, tapi mengubah alat
perjuangannya tidak akan lagi frontal.
Situasi di dalam kekuasaan pasti dipahami dengan ada di
kekuasan perubahan tetap harus berproses dalam perubahan yang sistematik. Tidak bisa lagi gaya protes seperti fase
aktivisme tetapi mulai bermain di wilayah kebijaka (policy design) karena dia memegang kekuasaan
dalam bidang Lingkungan Hidup).
Catatan saya sebagai sahabat, tidak ada lagi “romantisme
aktivisme” dengan idealisme di atas langit.. Sekarang realitas politik
lingkungan hidup dengan segala kerumitan dan permasalahannya sudah ada di
hadapannya. Ujian terbesar bagi seorang aktivis adalah konsistensinya. Banyak
aktivis gagal saat masuk kekuasaan lalu menjual idealismenya dan melakukan
kompromi politik, yang dulu ditentangnya.


Posting Komentar