Pemimpin Iran Ali Khomaeni Tewas dalam Serangan, Bagaimana Dampak Ekonomi ke Depan
![]() |
| Ilustrasi perang Iran dengan latar belakang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Hosseini Khamenei/Foto. ChatGPT/AKURATNEWS.id |
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Pemimpin Tertinggi Iran Ali Hosseini Khamenei, dikabarkan tewas dalam serangan kolaborasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Serangan yang tengah menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut, tentu saja mengejutkan dunia. Terlebih dalam kekhawatiran dampak akibat tewasnya Ali Khamenei, terhadap ekonomi dan keamanan global ke depan.
Pengamat Militer Stanislaus Riyanta, menjelaskan, kematian pemimpin tertinggi Iran memiliki dampak yang cukup signifikan ke depan. Konflik terbuka ini memberikan dampak ekonomi sistemik melalui "Guncangan Selat Hormuz".
Menurutnya, terkait dengan Krisis Energi dan Subsidi, yang bisa terjadi, mengingat Iran adalah produsen minyak besar, dan Selat Hormuz merupakan jalur bagi 20% pasokan minyak dunia.
"Jika jalur ini terganggu, harga minyak Brent diprediksi melonjak melampaui USD 120 per barel. Bagi Indonesia (importir neto minyak), hal ini akan membengkakkan subsidi BBM dalam APBN secara drastis, memaksa pemerintah memilih antara menaikkan harga BBM (yang berisiko memicu kerusuhan sosial) atau memangkas anggaran pembangunan," ungkapnya melalui pesan Whatsapp saat dihubungi, Minggu (1/3/26).
Lebih jauh, dilihat dari sektor pangan dan logistik, inflasi akan terjadi pada sektor ini ke depan. Dia menjelaskan, kenaikan biaya energi akan langsung mempengaruhi biaya logistik.
"Kenaikan biaya energi akan langsung mengerek biaya logistik global. Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan pangan dan bahan baku industri akan mengalami inflasi tinggi (cost-push inflation), menurunkan daya beli masyarakat bawah," ungkapnya.
Dia juga menyampaikan, volatilitas pasar keuangan akan mengalami ketidakpastian. Bhan hal ini akan berpengaruh kepada masyarakat untuk melakukan safe haven, khususnya pada Dollar AS dan Emas.
"Ketidakpastian geopolitik mendorong aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang menuju safe haven seperti Dollar AS dan Emas. Rupiah bisa saja mengalami tekanan depresiasi hebat, yang memperberat biaya impor dan pembayaran utang luar negeri," pungkasnya.
