
Ilustrasi Perdagangan Orang/Foto. Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Caritas Indonesia
(KARINA KWI) mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya risiko
perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pascabencana bencana
hidrometeorologi yang melanda Sumatera. Wilayah-wilayah terdampak seperti Aceh,
Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai rentan menjadi sasaran predator yang
memanfaatkan kondisi darurat dan kerentanan korban bencana.
Komite Migran, Pengungsi, dan
Anti-Perdagangan Orang Caritas Indonesia menilai bencana tidak hanya
menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga menciptakan krisis sosial dan
psikologis. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga, mata
pencaharian, bahkan dokumen penting seperti kartu identitas dan ijazah. Situasi
ini memicu trauma, kebingungan, hingga keputusasaan yang membuka celah bagi
praktik perdagangan orang.
Caritas Indonesia menegaskan bahwa warga
terdampak bencana berada dalam posisi sangat rentan terhadap tawaran-tawaran
mencurigakan berupa bantuan uang, pekerjaan, relokasi, hingga adopsi anak.
Karena itu, negara dan seluruh elemen masyarakat sipil diminta hadir secara
aktif memberikan perlindungan hukum dan pengawasan ketat di wilayah pengungsian
maupun rumah-rumah warga terdampak.
Melalui Komite Divisi Migran, Pengungsi,
dan Anti-Perdagangan Manusia, Caritas Indonesia mengingatkan bahwa seluruh
lokasi pengungsian dan wilayah pemulihan harus dikawal agar tidak dimasuki
pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Pengalaman penanganan bencana sebelumnya,
termasuk erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, menjadi
pelajaran penting bahwa kelengahan di fase pascabencana kerap berujung pada
meningkatnya kasus perdagangan orang.
Sebagai langkah pencegahan, Caritas
Indonesia merekomendasikan sejumlah upaya, antara lain sosialisasi masif
mengenai bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah
pascabencana. Kegiatan ini dilakukan bersama Komisi Keadilan dan Perdamaian –
Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP) di Keuskupan Agung Medan, Keuskupan
Sibolga, dan Keuskupan Padang. Selain itu, pemerintah didorong menjadikan isu
ini sebagai program khusus Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana
Perdagangan Orang di daerah terdampak bencana.
Caritas Indonesia juga membuka hotline
pelaporan bagi masyarakat untuk melaporkan dugaan praktik perdagangan orang dan
migrasi tidak aman melalui WhatsApp 0811-9996-728 atau email
migran@karina.or.id.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo
Fredy Rante Taruk, menegaskan bahwa pemberantasan perdagangan orang merupakan
tanggung jawab bersama. Dengan dukungan 38 jaringan keuskupan di seluruh
Indonesia, Caritas membuka peluang kerja sama lintas sektor untuk menciptakan iklim
migrasi yang aman dan berkeadilan.
Sementara itu, anggota Komite sekaligus
pendamping Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau di Batam,
Romo Chrisantus Paschalis, mengingatkan bahwa wilayah pascabencana kerap
menjadi ladang subur bagi calo dan jaringan perdagangan orang. “Pemulihan
wilayah bencana membutuhkan waktu. Dalam masa itulah predator beraksi. Negara
harus hadir melindungi warga yang kehilangan pekerjaan, orang tua, dan dokumen
resmi,” ujarnya.
Anggota Komite Caritas Indonesia yang juga
praktisi dan ahli hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, mengungkap
sejumlah modus predator yang perlu diwaspadai masyarakat. Menurutnya, korban
kerap ditipu oleh individu atau kelompok yang mengaku sebagai lembaga peduli
bencana. Pelaku juga menggugah emosi ketidakberdayaan korban, seperti
kehilangan orang tua atau tulang punggung keluarga, minimnya perhatian, hingga
stigma sosial yang melekat pada korban bencana.
“Korban dijanjikan berbagai kemudahan,
mulai dari pekerjaan, perlindungan, penghasilan, sekolah, hingga penyediaan
dokumen resmi untuk bekerja dan pindah ke tempat lain,” jelas Dinna. Ia
menambahkan, predator biasanya melumpuhkan daya kritis korban dengan cara
mengisolasi dari lingkungan sekitar, menguasai pola pikir, mencegah korban
melakukan verifikasi, memberikan uang, serta mendesak korban agar segera
mengambil keputusan.
Dinna menegaskan perlunya kepekaan aparat
pemerintah, relawan, media, dan masyarakat sipil dalam mengamati gerak-gerik
mencurigakan di wilayah pascabencana agar korban tidak dikuasai oleh jaringan
perdagangan orang.
Senada, anggota Komite Caritas Indonesia di
Kupang, Suster Laurentina SDP, menilai korban sering kali tidak menyadari bahwa
mereka sedang dimanipulasi. Oleh karena itu, peran media massa sangat penting
dalam menyebarluaskan kewaspadaan terhadap bahaya perdagangan orang dan migrasi
tidak aman agar tragedi serupa tidak terulang di daerah lain.
Sejak bencana hidrometeorologi melanda
Sumatera pada akhir November 2025, Caritas Indonesia bersama Keuskupan Agung
Medan, Keuskupan Sibolga, dan Keuskupan Padang telah terlibat aktif dalam
pelayanan kemanusiaan. Berdasarkan laporan situasi per 3 Januari 2026, bencana
tersebut diperkirakan berdampak pada lebih dari 3,3 juta jiwa, memaksa sekitar
1 juta orang mengungsi, dengan 1.157 korban meninggal, 165 orang hilang, dan
sekitar 7.000 orang luka-luka. Tercatat 178.479 rumah rusak dengan berbagai
tingkat kerusakan.
Selain pemantauan, Caritas Indonesia telah
menyalurkan bantuan pangan, hygiene kit, shelter kit, serta membuka layanan
kesehatan dan dukungan psikososial bagi ribuan warga terdampak di wilayah
bencana.
