Turun Ke Papua Selatan, Ketua PP PMKRI Soroti Ini

Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI), Christian A. D. Rettob/Foto. Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI
(PP PMKRI), Christian A. D. Rettob setelah acara pelantikan Ketua Presidium dan
Dewan Pimpinan Cabang Merauke, turut menyoroti PSN dan Karhutla di Papua
Selatan yang hari-hari ini cukup menuai persoalan.
Proyek PSN yang digadang-gadang menjadikan Provinsi Papua
Selatan sebagai kawasan lumbung pangan dan energi seperti cetak sawah baru,
perkebunan tebu dan bioethanol yang luasnya setara dengan 40x luas Provinsi DKI
Jakarta atau 2,7 Juta Hektar menimbulkan dampak sosial-ekologi bagi masyarakat.
Di lain sisi Papua Selatan diselimuti Karhutla yang menyebabkan kurang lebih
143.497 titik panas berdasarkan data dari Nusantara Atlas.
Mempertegas Ensiklik Laudato Si’ bahwa bumi adalah rumah
kita bersama yang wajib dirawat, dan bahwa krisis ekologis tidak dapat dipisahkan
dari krisis sosial. Inilah gagasan ekologi integral: persoalan sosial, ekonomi,
dan lingkungan saling terkait erat. Sebagaimana seruan moral Paus Fransiskus
yang mana mengajak kita mendengar jeritan bumi sekaligus jeritan kaum miskin,
dan menghormati keberadaan budaya serta kearifan lokal masyarakat adat.
“PMKRI tentu menolak pembangunan yang memisahkan pangan dari
ekologi dan menyingkirkan manusia dari tanahnya. Kemudian menaruh keprihatinan
terhadap keadaan Karhutla yang tidak menentu kapan selesainya. Kami menyerukan
agar pemerintah mempertimbangkan perluasan PSN di Papua Selatan, menghormati
hak masyarakat adat atas hutan adat, dan memastikan setiap proyek melewati
persetujuan masyarakat yang bebas dan tanpa paksaan”. Tegas Rettob.
Beberapa wilayah terdampak PSN seperti Merauke, Boven
Digoel, Mappi dan Asmat adalah adalah cermin dari krisis moral dan spiritual.
Di sisi lain juga Penegakan Hak Masyarakat Adat dan Penerapan PADIATAPA dimana
Pemerintah wajib menjamin pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat atas
tanah ulayat serta kekayaan alam di wilayahnya, sebagaimana diamanatkan
Undang-Undang Otonomi Khusus dan regulasi turunannya.
Prinsip Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan
(PADIATAPA) harus dijadikan syarat utama sebelum proyek apa pun dijalankan,
agar masyarakat adat ikut menentukan secara setara setiap keputusan yang
menyangkut tanah dan kehidupan mereka.
“Saya menegaskan bahwa polemik PSN juncto Karhutla di Papua
Selatan harus dilihat melalui perspektif keadilan sosial, perlindungan hak
masyarakat adat, dan keberlanjutan lingkungan. Kepentingan nasional dan hak
masyarakat adat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Negara justru
berkewajiban memastikan keduanya berjalan beriringan, sehingga penguatan ketahanan
pangan nasional tidak melemahkan ketahanan pangan lokal dan pertumbuhan ekonomi
tidak mengorbankan keberlangsungan ruang hidup masyarakat.”
Papua Selatan didominasi hutan dataran rendah, rawa, gambut,
dan ekosistem basah yang secara alami menjaga kelembapan lanskap dan
melindunginya dari kebakaran, tetapi kini pembukaan lahan, pembangunan jalan,
dan pengeringan rawa yang dinilai meningkatkan potensi kebakaran.
Titik panas di kawasan PSN pangan, energi, dan air di Papua
Selatan pada Januari-Juni 2026 dan deforestasi juga sudah berjalan. Greenpeace
mencatat hilangnya sekitar 13 ribu hektare hutan di dua konsesi tebu hingga
Oktober 2025, dengan emisi 5,6 juta ton CO2. Angka itu bisa melonjak hingga 221
juta ton CO2 jika seluruh tutupan hutan alami di Merauke dibuka.
Kerusakan ini juga mengancam keanekaragaman hayati,
penyerapan karbon, dan daur air, sementara pembabatan hutan dikaitkan dengan
banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Pembangunan yang menukar
ekosistem dengan ladang monokultur bukanlah kemajuan, melainkan utang ekologis
yang akan ditanggung generasi mendatang, terutama masyarakat Papua yang paling
dekat dengan kerusakannya.
Deforestasi masif dan Karhutla yang terjadi menimbulkan
ancaman serius terhadap hutan tropis unik Papua, spesies endemik, pencemaran
lingkungan sekitar. Proyek Strategis Nasional harusnya menjadi program yang
benar benar selaras dengan kebutuhan daerah dengan aspek-aspeknya seperti
sosial, ekonomi, lingkungan, kemanusiaan. PMKRI mengingatkan bahwa kedaulatan
pangan sejati hanya mungkin tercapai jika alam dan manusia yang hidup
bersamanya dijaga, bukan dikorbankan.
Dalam pelantikan Ketua Presidium dan Dewan Pimpinan Cabang
Merauke turut dihadiri oleh pihak Hirarki Gereja, OKP Cipayung Plus Merauke
serta BEM dan Organisasi Basis Daerah di wilayah Papua Selatan.


Posting Komentar