Kolonel Edward Sitorus, Pengabdian Seorang Prajurit
![]() |
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Masa pengabdian seorang prajurit tidak hanya diukur dari pangkat dan jabatan yang pernah disandangnya, tetapi juga dari kesediaannya untuk terus hadir ketika negara membutuhkan. Bagi Kolonel Kav Edward Sitorus, semangat itu masih menyala, bahkan ketika masa dinasnya di TNI Angkatan Darat tinggal menghitung hari.
Lulusan Akademi Militer tahun 1990 ini dijadwalkan
mengakhiri masa dinasnya pada awal November 2026. Namun, menjelang purna tugas,
Edward justru masih menjalankan penugasan yang membawanya ke Kalimantan dalam
Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Ada cerita sederhana di balik keterlibatannya. Sejumlah
junior sempat merasa sungkan untuk meminta kesediaan Edward bergabung dalam
satgas penyuluhan dari Mabes TNI. Sebagai perwira senior yang akan segera
menyelesaikan pengabdiannya, mereka khawatir permintaan itu terasa kurang
pantas.
Namun, Edward memberikan jawaban yang mencerminkan prinsip
yang dipegangnya selama menjadi prajurit.
Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menolak tugas.
Senioritas, menurut sikap yang ditunjukkannya, tidak seharusnya menjadi
penghalang ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan demi kepentingan
bersama.
Sikap itu menjadi gambaran bahwa bagi Edward, pengabdian
bukan semata-mata tentang posisi atau berapa lama lagi seseorang mengenakan
seragam. Selama masih dipercaya dan mampu menjalankan tugas, kesempatan untuk
berbuat sesuatu bagi masyarakat tetap layak diterima.
Dari Medan Tugas Hingga Kepedulian Terhadap Lingkungan
Dalam penugasan karhutla di Kalimantan, perhatian Edward
tidak berhenti pada persoalan api yang harus dipadamkan. Ia juga mengajak
masyarakat memahami bahaya kebakaran lahan gambut yang kerap tidak terlihat
secara kasatmata.
Melalui unggahan di media sosialnya, Edward mengingatkan
bahwa api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar selesai. Bara
dapat bertahan di lapisan gambut bawah tanah dan kembali memicu kebakaran.
"Di permukaan padam, di dalam bisa masih membara,"
demikian pesan yang disampaikan Edo, panggilan akrab Edward Sitorus.
Peringatan itu bukan sekadar penjelasan mengenai karakter
kebakaran gambut. Di baliknya terdapat ajakan agar masyarakat tidak lengah,
terutama ketika api terlihat kecil atau asap mulai menghilang.
Edward mengimbau warga segera melaporkan titik api kepada
aparat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau petugas pemadam. Masyarakat juga
diingatkan agar tidak mengambil risiko dengan memadamkan kebakaran sendirian
ketika situasi sudah membahayakan.
"Jangan jadi pahlawan sendirian," ucapnya dalam
tayangan yang dikutip, Rabu (14/10/2026).
Kalimat sederhana itu terasa dekat dengan kehidupan
sehari-hari. Kepedulian memang diperlukan, tetapi keselamatan tetap harus
menjadi prioritas. Membantu bukan berarti mempertaruhkan nyawa tanpa
perhitungan.
Edward juga mengingatkan, dampak karhutla tidak berhenti di
lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa angin hingga ke wilayah lain, mengganggu
kesehatan, menghambat perjalanan, menyulitkan anak-anak belajar, dan
memengaruhi mata pencaharian masyarakat.
Karena itu, dia mengajak masyarakat memulai pencegahan dari
hal-hal sederhana, "Tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok
sembarangan, serta saling mengingatkan untuk menjaga gambut tetap basah."
"Menjaga gambut berarti menjaga udara yang kita hirup
dan kehidupan keluarga yang kita sayangi," tambahnya.
Pesan tersebut memperlihatkan sisi lain seorang perwira
Kavaleri. Di tengah perjalanan panjangnya di dunia militer, Edward turut
menggunakan ruang digital untuk menyampaikan edukasi yang menyentuh langsung
kehidupan masyarakat.
Dari Papua, Membangun Kedekatan dengan Masyarakat
Nama Kolonel Edward Sitorus juga dikenal melalui
aktivitasnya di media sosial. Lewat akun TikTok @edwardsitorus70 dan kanal
YouTube Edward Sitorus Papua Channel, ia membagikan berbagai pengalaman,
aktivitas TNI, serta pesan motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Pengalamannya bertugas di Papua sejak 2010 menjadi salah
satu sumber cerita yang ia dokumentasikan. Melalui konten-kontennya, masyarakat
dapat melihat kehidupan prajurit dan berbagai sisi pengabdian yang tidak selalu
terlihat dari luar.
Gaya komunikasinya yang lugas, ramah, dan kebapakan membuat
pesan-pesannya terasa mudah diterima. Ia juga aktif memberikan edukasi mengenai
proses rekrutmen TNI, mulai dari persiapan fisik, ketahanan mental, hingga
pentingnya disiplin bagi anak-anak muda yang bercita-cita menjadi prajurit.
Di ruang digital yang kerap dipenuhi hiburan dan perdebatan,
Edward memilih berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ia memanfaatkan media sosial
sebagai sarana untuk mendekatkan TNI dengan masyarakat sekaligus menyemangati
generasi penerus.
Unggahan-unggahannya mendapat perhatian luas dari warganet.
Banyak orang tertarik mengikuti aktivitas dan pesan-pesannya karena
menghadirkan sosok prajurit bukan hanya sebagai pemegang jabatan, tetapi juga
sebagai manusia yang memiliki pengalaman, keluarga, dan kepedulian terhadap Sesama.
Kebanggaan Seorang Ayah
Di balik seragam dan perjalanan panjang pengabdiannya,
Edward juga menjalani peran sebagai seorang ayah dari tiga anak. Putri pertama
sebagai karyawati, kedua putranya mengikuti jejak pengabdian di lingkungan
militer, masing-masing melalui jalur yang berbeda.
Putra keduanya merupakan lulusan Akademi Militer dan kini
menjadi perwira Kavaleri berkuda di lingkungan Paspampres dengan pangkat Letnan
Satu. Ia sedang menjalani pendidikan selama 10 bulan di Prancis untuk menjadi
pelatih kuda.
Sementara itu, putra bungsunya merupakan lulusan Akademi
Angkatan Udara dan berkarier sebagai penerbang dengan pangkat Letnan Dua.
Perjalanan kedua putranya tentu menjadi bagian tersendiri
dalam kehidupan Edward. Pengabdian yang selama ini dijalani sang ayah kini juga
menjadi pilihan jalan hidup anak-anaknya, meski dengan tugas dan tantangan
masing-masing.
Namun, warisan seorang prajurit tidak semata-mata tentang
anak yang mengikuti profesi orang tuanya. Lebih dari itu, ada nilai tanggung
jawab, disiplin, keberanian, dan kesediaan untuk menjalankan tugas yang perlu
diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup Masa Dinas, Bukan Menutup Pengabdian
Awal November 2026 akan menjadi penanda penting bagi
perjalanan Edward Sitorus. Setelah puluhan tahun mengenakan seragam TNI AD, ia
akan memasuki babak baru dalam kehidupannya.
Bagi sebagian orang, masa menjelang purna tugas mungkin
menjadi waktu untuk bersiap meninggalkan rutinitas kedinasan. Namun,
keterlibatan Edward dalam satgas penyuluhan karhutla menunjukkan bahwa semangat
mengabdi tidak selalu berhenti ketika seseorang mendekati akhir masa dinas.
Dari penugasan di berbagai daerah, pengalaman di Papua,
hingga edukasi melalui media sosial, perjalanan Edward Sitorus menggambarkan
beragam cara seorang prajurit menjalankan perannya. Ada tugas yang diselesaikan
di lapangan, ada pengetahuan yang dibagikan kepada masyarakat, dan ada semangat
yang diteruskan kepada generasi muda.
Kisahnya juga mengingatkan bahwa senioritas tidak harus
menjadi jarak. Dalam situasi yang membutuhkan kerja bersama, pengalaman justru
dapat menjadi bekal untuk membantu mereka yang lebih muda.
Ketika masa dinasnya berakhir nanti, seragam yang dikenakan
Edward mungkin akan disimpan. Jabatan dan tanggung jawab kedinasan pun akan
berganti tangan. Namun, kepedulian terhadap masyarakat, lingkungan, dan
generasi penerus tidak harus ikut berhenti.



Posting Komentar