Bobibos, Inovasi Anak Bangsa yang Disambut Pemerintah Timor Leste?

Gambar Ilustrasi Bobibos di Timor Leste/Foto. Gemini/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA – Ironi. Mungkin kata ini tepat untuk
menggambarkan keadaan hasil dari inovasi anak bangsa dalam dunia energi yang
justru ditangkap potensinya oleh pemerintah Timor Leste. Seperti halnya yang
disampaikan oleh Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula selaku pengembang dari
Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos), Mulyadi, bagaimana
produknya sedang dalam perkembangan di Timor Leste.
Mulyadi mengatakan, pihaknya, sudah menjalin MoU dengan
Timor Agranova SA untuk mengembangkan dan memproduksi massal Bobibos di negara
pecahan Indonesia itu.
Kerjasama ini berbentuk joint venture antara Timor Agranova
SA (51%) dan pihak Bobibos Indonesia (49%), sesuai rekomendasi pemerintah setempat.
“Di Timor Leste kami sudah produksi. Tinggal menunggu waktu
yang pas untuk launching massalnya, karena Perdana Menteri dan Presiden Timor
Leste akan ikut hadir bersama. Semoga setelah itu kita juga produksi massal di
Indonesia," kata Mulyadi dikutip, Senin, 12 Oktober 2026.
Mulyadi membeberkan,
Per-April 2026 ini, persiapan produksi massal Bobibos di Timor Leste
dilaporkan sudah mencapai 70%.
Mesin biokimia milik pengembang yakni PT Inti Sinergi
Formula, tegas Mulyadi, telah tiba di pabrik di Timor Leste sejak pertengahan
April.
Menariknya, lagi Bobibos di sana tidak bergantung pada bahan
baku dari Indonesia. Mereka memberdayakan petani lokal Timor Leste untuk
menyuplai jerami sebagai bahan dasar utama. Di Timor Leste, pemerintah
memberikan proteksi regulasi dan dukungan lahan seluas 25 ribu hektare secara
cepat karena mereka sangat membutuhkan kemandirian energi di tengah ancaman
krisis global.
Mulyadi menerangkan, untuk di Indonesia riset Bobibos
dilakukan, bahan bakal biofuel ini malah mentok di persoalan regulasi.
Kementerian ESDM dikabarkan belum memiliki parameter atau standar resmi untuk
kategori bahan bakar seperti Bobibos.
Selain itu, peraturan transisi energi saat ini baru mencakup
bahan baku sawit, tebu, dan aren, sementara bahan baku jerami belum diberi
ruang.
Mampu Buktikan Diri
Bobibos sendiri akhirnya mampu membuktikan diri sebagai
bahan bakar yang efisien dan memiliki nilai oktan tinggi. Dari hasil uji
laboratorium yang dilakukan laboratorium Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas),
diketahui bahan bakar jenis bensi Bobibos mengandung angka oktana riset atau
RON 98,1.
Mulyadi mengatakan, pihaknya diminta oleh kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM), fokus mengembangkan bahan bakar jenis bensin
berdasarkan hasil uji lab tersebut.
“Jadi kami diminta fokus pada pengembangan Bobibos jenis
bensin oleh Ditjen Migas Kementerian ESDM," jelas Mulyadi.
Meski mengandung RON 98, Mulyadi mengatakan, Bobibos akan
dijual dengan harga rendah, sehingga bisa menjadi alternatif bagi warga
masyarakat.
Kehadiran Bobibos, disebut Mulyadi, juga bisa menjawab
kekhawatiran ancaman krisis energi karena kenaikan harga BBM.
“Nah Bobibos menjawab itu semua. Kita punya alternatif bahan
bakar nabati, juga ongkos produksi dan jualnya saya katakan sangat murah,"
jelas Mulyadi.
Rencananya, Bobibos RON 98 yang berbahan baku jerami, akan
dilepas ke pasar dengan harga antara Rp4000-Rp5000 per liter. Harga ini sangat
jauh dibandingkan harga bensin dengan oktan sama yang di pasaran berharga
sekitar Rp20 ribu per liter.
Terpisah, Founder Bobibos, Ikhlas Thamrin, memutuskan tidak
terburu-buru melakukan produksi massal di Indonesia untuk memastikan pemenuhan
aturan perizinan yang berlaku. Akibat terganjal regulasi, Bobibos justru lebih
dulu mendapat dukungan dan siap diproduksi di Timor Leste, sebelum fokus di
dalam negeri.
Ikhlas Thamrin bersama timnya, selama lebih dari satu dekade
mengembangkan Bobibos. Fokusnya adalah mengubah jerami menjadi bahan bakar
nabati (biofuel).
Bobibos pertama kali diperkenalkan secara resmi di Jonggol,
Bogor. Bobibos diklaim memiliki angka oktan setara RON 98 namun dengan harga
produksi yang sangat jauh di bawah BBM fosil (sekitar Rp4.000–Rp5.000 per
liter).
Soal harga ini juga yang membuat Bobibos kemungkinan
mendapatkan banyak kesulitan dikembangkan dan dipasarkan di Indonesia. Masuknya
pemain baru dengan harga yang jauh lebih murah, berpotensi mendisrupsi tata
niaga BBM yang sudah ada.
Ada kehati-hatian pemerintah agar inovasi ini tidak sekadar
viral, tapi benar-benar aman secara fiskal dan teknis.
Teknologi biokimia Bobibos melibatkan ekstraksi enzim untuk
mengubah biomassa menjadi cairan dengan kemurnian di atas 99%, yang kemudian
dicampur dengan aditif nabati khusus. Hingga April 2026, Bobibos masih diminta
melakukan serangkaian road test (uji jalan) untuk memastikan keamanan mesin
jangka panjang, stabilitas penyimpanan, dan emisi riil sebelum izin edar
diberikan.
Beberapa pengamat menilai regulasi di Indonesia cenderung
berubah setiap lima tahun (siklus pemilu), membuat investor teknologi baru
merasa lebih aman mencari perlindungan hukum di negara yang menawarkan kontrak
jangka panjang yang lebih stabil. Itu pula yang menjadi sebab Bobibos mengambil
kesempatan emas berproduksi di Timor Leste.
Ikhlas Thamrin mengatakan, jika uji produksi pertama
berhasil menciptakan Bobibos sesuai dengan ekspektasi, maka langkah selanjutnya
adalah membangun pabrik dengan daya dukung mesin biokimia yang mampu
menghasilkan 1,8 juta liter setiap bulannya.
“Proses produksi untuk pertama ini masih menggunakan mesin
dengan kapasitas produksi bioetanol maksimal lima ratus liter," ujarnya


Posting Komentar