Rapor ke Realitas: Menguji Sustainability di Rantai Pasok
Oleh: Erlinda Nusron Yunus, Ph.D. - Associate Professor Manajemen Operasi Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Anggota Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P)
Setiap tahun, semakin banyak perusahaan di Indonesia menerbitkan ESG (environmental, social, and governance) report atau laporan keberlanjutan. Laporan ini berisi informasi tentang bagaimana perusahaan mengelola aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, mulai dari pengurangan emisi, efisiensi energi, pengelolaan limbah, perlindungan pekerja, hingga kontribusi sosial.
Dalam praktiknya, laporan semacam ini umumnya mengacu pada beberapa kerangka pelaporan. GRI atau Global Reporting Initiative banyak digunakan untuk melaporkan dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial perusahaan secara lebih luas. Sementara itu, International Sustainability Standards Board (ISSB) melalui IFRS S1 dan IFRS S2 (standar pelaporan keuangan internasional) mendorong pelaporan sustainability dan iklim agar lebih terhubung dengan informasi keuangan perusahaan. Di Indonesia, perusahaan tercatat juga menyampaikan laporan melalui sistem BEI, termasuk melalui IDX Sustainability Portal.
Bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik, laporan keberlanjutan juga bukan lagi sekadar inisiatif sukarela. OJK melalui POJK No. 51/POJK.03/2017 mewajibkan penyampaian Laporan Keberlanjutan sebagai bagian dari penerapan keuangan berkelanjutan.
BEI juga secara rutin menerbitkan Laporan Keberlanjutan, dan dalam beberapa tahun terakhir tingkat pelaporan emiten terus meningkat: dari 661 perusahaan pada 2021, 842 perusahaan pada 2022, hingga sekitar 882 perusahaan, atau lebih dari sembilan dari sepuluh perusahaan tercatat, pada periode pelaporan terbaru. Angka ini menunjukkan kemajuan penting: sustainability kini semakin masuk ke dalam agenda resmi bisnis di Indonesia.
Namun, laporan keberlanjutan sebenarnya mirip dengan rapor. Ibarat laporan hasil medical check-up (MCU), kita bisa membaca dan memantau kadar gula dalam darah, kadar kolesterol, tingkat kesehatan fungsi ginjal, maupun hasil rekam jantung. Laporan MCU membantu memetakan kondisi kesehatan kita, tetapi laporan ini lebih banyak menunjukkan kondisi akhir pada saat diperiksa, bukan menjelaskan bagaimana kondisi kesehatan itu terbentuk. Ia ‘hanyalah’ indikator dari serangkaian keputusan dalam kehidupan kita sehari-hari: apa yang kita makan, aktivitas fisik yang kita lakukan, atau kualitas tidur.
Seseorang bisa menerima hasil check-up yang menunjukkan kadar kolesterol tinggi, tetapi angka itu tidak muncul tiba-tiba. Ia terbentuk dari pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, stres, dan kebiasaan hidup yang berjalan lama. Begitu pula dengan perusahaan. Angka emisi, limbah, atau konsumsi energi dalam ESG report bukan sekadar hasil pengukuran tahunan. Angka-angka itu terbentuk dari keputusan operasional sehari-hari: dari siapa perusahaan membeli bahan baku, bagaimana pemasok dipilih, seberapa jauh barang dikirim, energi apa yang digunakan, bagaimana produk dikemas, dan bagaimana limbah dikelola.
Karena itu, sustainability tidak cukup dipahami dari laporan akhirnya. Seperti kesehatan yang tidak cukup diperbaiki dengan membaca hasil check-up, keberlanjutan perusahaan juga tidak cukup dibangun dengan menyusun laporan yang rapi. Yang perlu diperbaiki adalah pola hidup perusahaan, dan dalam bisnis, pola hidup itu terlihat paling jelas di sepanjang rantai pasok. Di sinilah rantai pasok menjadi sangat penting.
Peran Pengelolaan Rantai Pasok
Banyak dampak lingkungan dan sosial perusahaan tidak hanya terjadi di kantor pusat atau pabrik utama. Sebagian besar justru tersebar di sepanjang perjalanan produk: dari proses di hulu hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen. Bagian-bagian ini perlu dikelola dengan baik agar laporan keberlanjutan tidak menjadi catatan di hilir, tetapi perubahan dari hulu.
Salah satu contoh baik (good practice) yang dapat dilihat adalah Indofood, misalnya, yang dalam laporan keberlanjutannya tidak hanya berbicara tentang ikhtisar kinerja keberlanjutan tahunan, tetapi juga tentang pengelolaan pasokan yang bertanggung jawab.
Perusahaan ini melaporkan adanya pedoman pemasok, kemitraan dengan lebih dari 80.000 petani dan petani plasma, serta pelatihan untuk meningkatkan teknik budidaya, hasil panen, dan pendapatan petani. Contoh ini menunjukkan bahwa sustainability dalam industri tidak cukup dibaca dari kemasan akhir di tangan konsumen. Yang jauh lebih penting adalah, bagaimana perusahaan mengelola bahan baku dan pemasok, proses produksi, limbah, serta distribusi sebagai satu rangkaian rantai pasok yang saling terhubung.
Karena itu, perusahaan perlu mengubah cara pandang: ESG report bukan sekadar pemaparan ikhtisar akhir, melainkan cermin dari cara perusahaan mengelola bisnisnya. Jika rantai pasok masih hanya dikelola berdasarkan harga termurah, waktu tercepat, dan volume terbesar, maka sulit berharap sustainability akan tumbuh kuat. Sebaliknya, jika keputusan rantai pasok mulai mempertimbangkan asal-usul bahan baku, kondisi pemasok, efisiensi energi, pengurangan limbah, dan dampak sosial, maka laporan keberlanjutan akan memiliki dasar yang lebih kuat.
Tantangan yang Dihadapi:embangun Kapasitas Keberlanjutan
Tantangannya, rantai pasok tidak pernah sederhana. Satu produk bisa melibatkan banyak pihak, dari pemasok besar hingga petani atau pelaku usaha kecil yang jauh dari sorotan publik. Tidak semua memiliki kemampuan teknologi, pencatatan data, atau pemahaman yang sama tentang standar keberlanjutan. Karena itu, perusahaan besar tidak cukup hanya meminta pemasok memenuhi persyaratan hijau. Mereka juga perlu membantu membangun kapasitas pemasok, memperjelas standar, menyediakan pendampingan, dan menciptakan hubungan yang lebih adil.
Di titik ini, traceability atau keterlacakan menjadi semakin penting. Traceability bukan sekadar kemampuan melacak produk untuk kebutuhan audit. Lebih dari itu, traceability membantu perusahaan memahami perjalanan produknya sendiri. Ia membantu perusahaan melihat bagian mana yang paling berisiko, pemasok mana yang perlu dibina, proses mana yang paling boros energi, dan titik mana yang menghasilkan limbah paling besar. Dengan kata lain, traceability bukan hanya alat pelaporan, tetapi alat untuk belajar dan memperbaiki sistem.
Tanpa keterlacakan, perusahaan hanya melihat sustainability dari permukaan. Laporan bisa saja menyebut target, capaian, dan komitmen. Tetapi tanpa data dari rantai pasok, perusahaan akan kesulitan memahami apakah perubahan benar-benar terjadi di lapangan.
Sebaliknya, ketika rantai pasok dapat ditelusuri, perusahaan tidak hanya lebih mudah menyusun laporan, tetapi juga lebih mampu mengambil keputusan yang tepat: mengganti pemasok yang bermasalah, memperbaiki proses produksi, mendesain ulang kemasan, atau membantu mitra kecil memenuhi standar yang lebih baik.
Bagi publik, ini juga penting. Konsumen semakin sering berhadapan dengan klaim produk yang ramah lingkungan, etis, lokal, alami, atau bertanggung jawab. Namun, kepercayaan tidak cukup dibangun dari kata-kata yang baik. Kepercayaan tumbuh ketika perusahaan dapat menunjukkan proses di balik klaim tersebut.
Produk yang disebut berkelanjutan seharusnya tidak hanya terlihat baik di tangan konsumen, tetapi juga memiliki perjalanan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, seperti halnya rapor yang baik hanya bermakna jika mencerminkan proses belajar yang nyata, laporan ESG yang baik juga hanya bermakna jika mencerminkan perubahan nyata dalam cara perusahaan mengelola rantai pasoknya.


Posting Komentar