Sektor Luar Negeri Diabaikan
![]() |
Oleh Ekonom Senior INDEF Didik J Rachbini
Kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi
terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu, yakni
mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu
inward looking. Hanya sektor dalam negeri yang dikemas dengan berbagai
kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat sekitar 5
persen. Dengan kebijakaan selama ini tidak mungkin pertumbuhan ekonomi bisa
menyamai Vietnam, yang berhasil mencatatkan pertumbuhan tahunan sampai 8,3
persen.
Jika kelemahan kebijakan ini bisa diatasi dan kebijakan
ekonomi ditransformasikan menjadi outward looking maka investasi luar negeri
akan masuk karena ada sistem insentif, dukungan insfrastruktur yang baik dan
birokrasi yang ramah dan efisien.
Pada saat yang sama investasi dalam negeri bisa bertumbuh bersamaan
dengan investasi luar negeri yang masuk karena rancangan kebijakan orientasi
ekspor (outward looking). Sektor industri akan berkembang jauh lebih baik dari
yang sekarang ini karena dukungan sumberdaya nasional yang kuat (resource based
industry).
Pemerintah mesti membahas kembali kebijakan ekonomi untuk
mengatasi masalah kelemahan kebijakan selama ini. Untuk menuju pertumbuhan 7-8 persen seperti
Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi
ouward looking mutlak harus dilakukan.
Jika tidak dan hanya mengandalkan sumbeerdaya da pasar dalam
negeri, maka tidak harus puas dengan tingkat pertumbuhan moderat 5 persen atgau
bahkan di bawahnya. Tanpa perubahan
kebijakan, maka janji kampanye sulit untuk bissa diwujudkan.
Memang kita tidak sama sekali mengabaikan sektor luar negeri
dan tetap ada kegiatan dan dunia usaha yamg melakukan mengekspor, menarik FDI, dan melakukan
hilirisasi. Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama
transformasi struktural dan industrialisasi. Kebijakan masih relatif terlalu
berorientasi ke pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan
konsumsi domestik.
Karena itu harus diubah menjadi kebijakan sebaliknya, yang
menetrasi pasar intgernasional dengan daya saing industri yang kuaat, orientasi
ekspor, memanfaatkan investasi dan supply changes global. Hanya dengan memperhitungkan kembali sektor
luar negeri dengan kebijakan yang baik, maka tingkat pertumbuhan lebih tinggi
bisa diwujudkan.
Pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari yang
dicapai sekarang. Ini harus disadari karena faktor ekspor belum menjadi growth
engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri. Padahal bagi
negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi pasar domestik
saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain
kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor.
Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar memang mempunyai
pasa domestik yang besar pula. Tetapi
masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, tetapi dunia
usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan untuk
bersaing di pasar global. Di sinilah kebijakan outward looking menjadi penting
karena bisa mendorong Indonesia eksis dalam persaingan global dengan harapan
bisa memperoleh devisa yang besar.
Indonesia pernah mempunyai best practice strategi outward
looking seperti tahun 1980-an dimana negars mendorong investasi dan industri
yang berorientasi ekspor. Pada tahun 1980-an kebijakan outward looking ini
menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7-8 persen selama 2 dekade. Jadi pemerintah
cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi
yang tinggi 3 dekade lalu. Belanja pemerintah tidak bisa diandalkan untuk
pertumbuhan tinggi.
Selama ini belanja pemerintah tidak akan langgeng karena
hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen.
Apalagi fiskal juga punya masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran
sehingga tidak akan bertahan lama dan hanya bisa menyangga dalam jangka yang
sangat pendek. Sementara itu, faktor
konsumsi masyarakat sudah tidak bisa diandalkan karena kelas menengah sudah
tergerus dan menurun jumlahnya sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dari
sisi konsumsi masyarakat.

Posting Komentar