Wakil Ketua Komisi I Anton Sukartono Afresiasi Finalisasi Draf Perjanjian Damai AS-Iran

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Fraksi Demokrat, Anton Sukartono Suratto, saat memberikan keterangan terkait finalisasi draft perjanjian damai AS-Iran/Foto. ChatGPT/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Fraksi
Demokrat, Anton Sukartono Suratto mengapresiasi finalisasi draf perjanjian
damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia menyatakan perkembangan ini akan
berpotensi membawa dampak positif keamanan global dan perekonomian dunia.
"Saya memandang setiap perkembangan yang mengarah pada
perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran merupakan kabar positif bagi
stabilitas kawasan, keamanan global, serta perekonomian dunia," kata Anton
pada awak media, dikutip Minggu 14 Juni 2026.
Namun, ia menegaskan bahwa dunia internasional masih perlu
menunggu kepastian dan implementasi nyata dari kesepakatan tersebut, karena
masih ada berbagai isu strategis dalam proses negosiasi yang belum sepenuhnya
tuntas.
"Indikasi bahwa kedua negara semakin dekat pada titik
temu patut diapresiasi, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa proses perdamaian
sering kali menghadapi berbagai dinamika dan tantangan," ujarnya.
Anton pun menyampaikan, perkembangan ini tak boleh dianggap
sebaai akhir dari rangkaian diplomasi yang berlangsung, yang tak bisa selesai
hanya dalam satu pertemuan.
"Dari sudut pandang Indonesia, salah satu hal yang
perlu mendapat perhatian adalah dampak kesepakatan tersebut terhadap stabilitas
ekonomi global, terutama terkait harga minyak mentah dan rantai pasok energi
dunia," ujarnya lagi.
Ia menyebut, kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz memiliki
posisi yang sangat strategis dalam perdagangan energi internasional. Karena
itu, setiap perkembangan hubungan antara AS dan Iran akan berpengaruh terhadap
dinamika ekonomi global.
"Oleh karena itu, sembari berharap tercapainya
perdamaian yang berkelanjutan dan memberikan kepastian bagi dunia
internasional, Indonesia harus tetap mampu menjawab ketidakpastian yang masih
berlangsung dengan memperkuat ketahanan domestik, menjaga stabilitas ekonomi
nasional, memperkuat ketahanan energi, serta meningkatkan kesiapsiagaan
terhadap berbagai risiko geopolitik global," kata Anton.
Sebagai pimpinan Komisi I DPR yang menjadi mitra kerja
Kementerian Luar Negeri, Anton menegaskan dukungannya terhadap langkah
diplomasi Indonesia yang mengedepankan dialog dan kerja sama internasional.
"Dalam setiap penyelesaian konflik, Indonesia akan
selalu mendukung opsi-opsi perdamaian melalui dialog dan diplomasi, karena
perdamaian yang ideal adalah perdamaian yang menghormati kedaulatan para pihak,
menciptakan stabilitas kawasan, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan
masyarakat dunia," ungkapnya.
Meski optimistis terhadap peluang perdamaian, Anton
mengingatkan agar semua pihak tetap mencermati perkembangan ke depan atas
indikasi pengabaian resoulusi damai.
"Sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika Serikat
sering kali mangkir dari resolusi damai, misalnya seperti langkah Amerika yang
memveto resolusi damai Dewan Keamanan PBB yang terkait dengan konflik di
Palestina dan Timur Tengah," ungkapnya lagi.
Karena itu, Anton meminta Indonesia tetap bersiap menghadapi
berbagai kemungkinan, termasuk apabila rencana perdamaian antara AS dan Iran
pada akhirnya tidak terwujud.
"Sehingga, kita harus tetap bersiap atas segala
kemungkinan apabila perdamaian ini batal tercapai," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
mengatakan bahwa usulan memorandum kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat
(AS) akan secara resmi mengakhiri konflik di semua front, termasuk Lebanon.
Iran sekaligus meletakkan dasar untuk negosiasi tentang pencabutan sanksi,
program nuklir, dan pengaturan keamanan regional.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi pemerintah
IRIB, Araghchi mengatakan dokumen tersebut, yang biasa disebut sebagai
Memorandum Kesepahaman Islamabad, akan menandai berakhirnya perang secara
resmi.
"Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front,
termasuk Lebanon," kata Araghchi.
Araghchi mengatakan usulan memorandum tersebut mencakup
komitmen untuk tidak memulai perang, mengancam penggunaan kekerasan, atau
mencampuri urusan internal masing-masing negara. la mengatakan perjanjian
tersebut juga akan mencakup komitmen bersama untuk menghormati kedaulatan.
"Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat
secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam
Iran," kata Araghchi.
Posting Komentar