Partai Gelora Akan Giatkan Pendidikan Kewarganegaraan, Ini Targetnya

Wakil Ketua Umum Partai Gelora< Fahri Hamzah/Foto. Ist/akuratnews.id
AKURATNEWS.ID, JAKARTA - Partai Gelombang Rakyat
(Gelora) Indonesia akan menggiatkan pendidikan kebangsaan atau pendidikan
kewarganegaraan (civic education) kepada masyarakat.
Karena dalam negara demokrasi, ciri masyarakat demokratis adalah
mereka yang mampu memahami, serta mengerti hak dan kewajibannya sebagai warga
negara.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri
Hamzah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Bagian ke-6; yang
diselenggarakan DPP Partai Gelora, Jumat (6/2/2026) malam.
"Kita perlu menggiatkan pendidikan kebangsaan atau di
banyak negara disebut pendidikan kewarganegaraan atau civic education. Agar
kita mengerti hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara," kata Fahri
Hamzah.
Dari pemahaman terhadap hak dan kewajiban itu, menurut
Fahri, akan membuat masyarakat secara aktif berpartisipasi untuk kebaikan
kolektif.
"Negara demokrasi itu, mengasumsikan masyarakatnya
tidak masa bodoh. Tetapi dia harus konsen, peduli dan peka terhadap apa yang
terjadi di masyarakatnya," ujar Fahri.
Bahkan agama, kata Fahri, juga meminta semua pemeluknya
untuk peduli kepada sesama. Sebab, jika tidak peduli, maka mereka dianggap
bukan bagian dari umat atau golongannya.
Hal ini tentu saja merupakan bentuk dari kepedulian sosial,
serta tanggungjawab seseorang sebagai bagian dari anggota kelompok, masyarakat
atau bangsa.
"Itu sebabnya, Partai Gelora mengaktifkan kajian-kajian
seperti ini, termasuk kajian tentang kesadaran untuk menjadi bagian dari
masyarakat global," katanya.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (RI) ini
mengatakan, kajian kebangsaan atau kewarganegaraan, menyangkut soal sejarah
bangsa Indonesia, falsafah negara (Pancasila), serta ketatanegaraan dan
pemerintahan yang dipengaruhi sistem politik.
"Supaya kita tahu apa yang terjadi sekarang ini di
dalam keseharian kita. Dan kita sering berhadapan dengan orang yang tidak paham
soal iti," katanya.
Karena itu, ia berharap agar masyarakat, khususnya
fungsionaris dan kader Partai Gelora menjadi bagian orang yang paham
masalah-masalah kebangsaan.
"Makanya saya sering mengkritik politisi, anggota dewan
dan pejabat yang tidak bisa memisahkan, mana yang disebut prilaku sistem, dan
mana prilaku individual," ungkap dia.
Padahal, itu dua hal berbeda, antara prilaku sistem dan
prilaku individual atau pribadi.
"Mereka ini kesulitan membaca gambar-gambar besar,
terjebak melihat gambar-gambar kecil. Makanya mereka sibuk mengurusi hal yang
kecil-kecil saja," katanya.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menegaskan, bahwa
situasi tersebut menyebabkan orang-orang Indonesia sulit keluar dari
persoalannya.
"Korupsinya berulang-ulang terjadi, masalah kemiskinan
tidak pernah tuntas dan sebagainya. Itu kenapa, karena kita terbiasa melihat
gambar kecil, bukan gambar besar. Sehingga kita tidak tahu cara keluar dari
masalah," tegasnya.
Karena itu, seluruh komponen bangsa harus punya kemampuan
untuk membaca gambar besar dari sistem pemerintahan, ketatanegaraan dan politik
Indonesia secara bersamaan.
"Supaya kita mengerti, apa yang sedang terjadi. Kenapa
kita bisa sampai di sini, dan kita akan kemana ke depan ini. Ini konsekuensi dari
sistem pemerintahan, politik dan demokrasi kita sekarang," pungkas Fahri
Hamzah.